Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Bab 11


__ADS_3

Kirana mengusap bibirnya kasar. Dia benci bersentuhan dengan Reyhan, apalagi hingga bertukar saliva.


Kirana belum lupa kalau Reyhan adalah lelaki kejam yang telah membuat dirinya kehilangan calon anak pertamanya.


Reyhan bisa melihat istrinya benar-benar telah berubah dengan Kirana yang beberapa hari lalu.


Reyhan merasa sakit dengan sikap Kirana akhir-akhir ini. Reyhan tahu pasti lelaki yang ditemuinya tempo hari yang telah membuat sebuah perubahan besar pada diri Kirana.


"Aku sudah lelah dengan semua ini, aku akan pergi dari hidup kamu secepatnya," kata Kirana. Wanita itu ingin cepat-cepat pergi dari hidup Reyhan.


Reyhan menarik Kirana dan mendorong ke dinding, ketika hendak mengambil tas diatas meja, ingin secepatnya beranjak dari Villa.


"Kau sekarang bicara seperti ini, setelah kau menemukan laki-laki lain untuk kau jadikan kekasih baru, dasar wanita tukang selingkuh." Reyhan menatap sambil senyum merendahkan Kirana.


"Jika kamu selama ini bisa selingkuh! Kenapa aku tidak?!" Kirana membalas senyum Reyhan yang menyakiti hatinya. Kalimat Kirana lebih tinggi dari ucapan Reyhan.


"Kau dan aku tentu berbeda! Reyhan mulai emosi. Lelaki itu mencengkeram kuat pundak Kirana. Kirana merasa Reyhan sangat marah.


"Jika memang berbeda? Jelaskan padaku dimana bedanya? Apa bedanya? Kamu selama ini menganggap ku seperti manekin, melihat orang yang aku cintai selalu bersama wanita lain? Lebih perhatian dengan wanita lain daripada istrinya?"


Reyhan terdiam, dia tidak bisa menjelaskan sepatah katapun tentang laki-laki bebas mendua. Karena pada dasarnya Reyhan memang tak pernah menjadi suami yang baik untuk Kirana.


Selama menikah tak pernah ada perhatian yang berarti yang dia berikan. Pertengkaran hampir setiap hari terjadi.


"Singkirkan tanganmu." Kirana mendorong lengan berotot Reyhan yang sejak tadi menguncinya.


Wanita itu benar-benar akan pergi. Dengan langkah lebar Kirana meninggalkan Reyhan yang hanya mampu mengamati punggung sang istri. Kirana pagi ini nampak cantik, meski kesedihan tetap terlihat dimatanya, gaun warna hitam yang memiliki lingkar leher sedikit lebar membuat pundak dan bahu wanita itu sedikit terlihat, begitu kontras dengan kulit putihnya.


Sebelum Kirana meninggalkan pintu Villa. Kirana berhenti dan menoleh sesaat. Ada kalimat terlupa yang ingin di ucapkan lagi untuk Reyhan. "Kontrak yang lama sudah tidak berlaku lagi, aku akan mengirimkan kontrak terbaru untuk kita."

__ADS_1


'Kamu terlalu nekat Kirana. Kamu terlalu percaya dengan laki laki itu. Apakah kamu yakin dia akan benar benar lelaki yang baik untuk menggantikan aku,' kata Reyhan dalam hati.


"Rey, kamu juga tidak perlu repot lagi ikut campur dengan urusanku, aku akan baik-baik saja tanpamu." Senyum Kirana lagi-lagi mengembang.


Kehilangan calon bayi dan sakit hati yang sudah menggunung, benar-benar merubah Kirana yang dulu begitu lemah menjadi wanita yang lebih kuat.


Reyhan benar-benar melihat ada perubahan sikap Kirana yang mampu membuatnya gelisah, seharusnya dia senang Kirana akan pergi, dia bebas akan bersama Clara setiap saat, tapi entah kenapa perasaan senang itu tidak dia rasakan lagi


Lelaki itu duduk dengan pandangan kosong, sesekali matanya masih mengekor pada wanita yang kini meninggalkannya seorang diri.


Kirana sudah tiba di luar Villa, dia terkejut melihat Aezar duduk diatas dashboard, lelaki itu menunggu sambil menyilangkan tangan di perut, sambil menatap keindahan sekeliling Vila.


Kirana tak percaya Aezar akan datang ke Villa juga. Padahal saat dia pergi, lelaki itu masih tidur dan Kirana tidak mengatakan akan kemana.


"Dokter Eza, sejak kapan di sini?" Kirana bertanya dengan nada lembut, sangat berbeda saat berbicara dengan Reyhan tadi.


"Lumayan." Aezar turun dari dashboard, dia ingin melihat Kirana lebih dekat. "Lumayan lama untuk mendengar pertengkaran kalian tadi."


Senyum tipis terukir di bibir Aezar. "Nggak, aku cuma memastikan saja kalau kamu baik-baik saja, takutnya ada yang lecet."


"Kamu khawatirkan aku seperti anak kecil saja." Kirana mengerucutkan bibirnya.


Kirana berjalan ke samping dan membuka pintu mobil depan, sedangkan Aezar membuka pintu yang satu lagi, di dekat kemudi.


Wajah Kirana kembali sumringah, apalagi Aezar berusaha untuk selalu menghiburnya.


Reyhan menyibak tirai, ingin menyaksikan kedekatan istri dan lelaki yang diduga pacar barunya itu lebih jelas, tentunya tanpa dilihat oleh mereka berdua.


Dada Reyhan tiba-tiba terasa sesak, paru-parunya terasa menyempit, oksigen susah untuk masuk mengisi setiap rongga yang kosong, yang ada hanya rasa nyeri.

__ADS_1


Reyhan memukul dinding untuk melampiaskan amarahnya. Reyhan membiarkan tangannya berdarah.


-


Setelah mereka berdua masuk ke mobil, Aezar menanyakan apakah Kirana membawa dokumen perusahaan. Seperti janji Aezar tempo hari kalau dia akan membantu wanita malang itu.


"Kirana, apakah kau membawa dokumen itu?" Menurut Aezar tidak baik jika terus di tunda.


"Iya ada dalam tas, sebentar aku ambil dulu." Kirana mengambil dokumen penting, yang merupakan aset berharga perusahaan dari tas yang selalu dia bawa.


Aezar tak percaya ketika melihat sebuah surat yang diberikan Kirana. Dalam surat itu menyataan kalau perusahaan akan diambil alih oleh Reyhan, sedangkan Kirana hanya mendapatkan sebagian kecil saja dari aset perusahaan.


"Kirana, Apakah kamu sadar telah melakukan kesalahan yang fatal? Reyhan adakah pemegang aset paling besar, hampir delapan puluh persen dikuasai oleh dia, sedangkan kamu hanya dua puluh persen saja."


Kirana menunduk, menyesal telah menaruh kepercayaan yang sangat besar pada lelaki yang tak pernah mencintainya itu, "Ya, aku telah melakukan kesalahan fatal itu. Itu sebabnya Reyhan sangat berkuasa di perusahaan Papa. Tapi Za, aku yakin kalau aku pasti bisa mengambil perusahaan Papa lagi. Aku tidak rela Reyhan mengendalikan semuanya, dan memberikan posisi CEO untuk wanita simpanannya itu."


Aezar nampak berpikir keras dengan menyandarkan kepala di sandaran kursi. Menerawang ke depan kalau langkah yang akan Kirana dan dia tempuh tidak mudah. Kirana sudah setuju dan ada tanda tangan beserta materai yang mengukuhkan setiap dokumen itu.


***


Tiga hari berlalu.


Waktu terasa berjalan begitu cepat. Kirana hari ini datang pada sebuah pertemuan besar yang dihadiri oleh para investor.


Clara tampak tercengang melihat kehadiran Kirana, dia tidak akan menduga kalau wanita itu akan ikut hadir, karena sebelumnya dia tidak akan peduli dengan perusahaan dan menyerahkan semuanya pada Reyhan.


Kirana pagi ini terlihat begitu anggun, memakai kemeja putih lengan panjang dan rok span dengan panjang selutut.


Kirana juga memoles wajahnya lebih tebal dari biasanya, memakai lipstik dengan warna merah merona yang membuat aura kecantikannya lebih terlihat.

__ADS_1


Kirana berjalan masuk dengan langkah kemayu bak model, senyumnya ramah. High heels tinggi yang dipakai membuat tubuhnya yang bak gitar itu memancing semua khalayak untuk meluangkan waktu menatap ke arahnya.


__ADS_2