
Sebuah gedung megah telah dihias dengan begitu mewah, bunga berjajar sepanjang pintu masuk dengan indah nan rapi. Orang pasti akan mengira ini pernikahan mewah kaum sultan, akan tetapi kenyataan ini hanyalah acara tunangan.
Kirana telah didandani di ruang khusus di hotel bintang lima nan megah itu, sedangkan Aezar sedang bercengkrama dengan beberapa temannya yang juga seorang dokter dan pengusaha.
Jeni dan Fiona sedang menunggu Kirana yang sedang di make-up, mereka berharap tahun depan akan segera dilamar oleh pacar masing-masing dan segera menyusul.
"Bu Kirana cantiknya pakai banget, andai aku lelaki, aku pasti akan jatuh cinta pada anda"
"Kamu berlebihan Jeni, kamu juga cantik."
Fiona sejak tadi juga memuji Kirana, sama halnya dengan Jeni. Bukan hanya riasan yang dipuji oleh Fiona, tapi juga gaun indah yang dipakai wanita itu, gaun putih yang begitu indah dengan bertebaran mutiara di bagian dada hingga perut menambah kesan elegan nan anggun bagi pemakainya.
"Bu direktur, apa ku bilang, anda pasti akan menjadi ratu yang teristimewa kan jika menikah dengan Dokter ganteng Aezar. Pak Reyhan hanya akan membuat anda terus sakit hati saja."
Kirana tersenyum malu-malu menatap dirinya sendiri di cermin." Aku merasa tak pernah pantas untuk dia. Lelaki seperti Aezar harusnya mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku."
"Tapi jika hati dokter Aezar sudah klik dengan Direktur Kirana, maka cinta tidak akan pandang bulu. Tak perduli mau janda, pasti akan dicari juga sampai ujung dunia.
"Kalian berdua paling bisa membuat aku berbesar hati."
__ADS_1
Kirana, Fiona dan Jeni mengabadikan hari ini dengan foto bertiga di kamar, mereka berdua begitu antusias dengan acara tunangan Direktur Kirana dan Dokter Aezar. Apalagi mereka berdua yakin Aezar yang notabennya anak pengusaha terkenal itu pasti bisa membantu Kirana serta menjadi penopang yang kuat untuk perusahaan nantinya.
Ketika sedang asyik mengambil foto dengan berbagai gaya alay, mereka bertiga dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Ehem, ehem ... kalian sedang asyik foto tapi nggak ajak aku," ucap lelaki yang sejak tadi melihat dari arah belakang.
"Za." Kirana menoleh, wanita itu kaget Aezar menghampirinya sampai di kamar tempat berkumpulnya para wanita
"Pak Dokter main datang kesini aja, udah nggak sabar ya pengen ketemu Bu Direktur. Lihatlah, calon istri anda sangat cantik," ujar Jeni yang mendapat cubitan kecil dari kirana di lengannya.
"Tolong, kalian berdua jangan rese, perasaan hari ini aku biasa saja." Kirana tersipu malu, karena Aezar terus menatapnya nyaris tanpa berkedip.
"Bu Kirana, pake malu-malu segala. Kalian sebentar lagi juga akan menikah, iya kan Pak Dokter."
Aezar tersenyum lalu mendekati Kirana. Lelaki yang terlihat begitu tampan dengan tuxedo hitam senada dengan celana hitam pula, serta kemeja putih itu membuat jantung Kirana berdegup kencang.
Aezar berusaha mengabaikan dua asisten di sebelah Kirana yang iris matanya terus mengekori gerakan tubuhnya.
Aezar menarik dagu Kirana, membuat wajah wanita yang sudah selesai di make-up itu mendongak. "Kirana, mereka semua tidak berbohong, kamu memang sangat cantik. Aku belum pernah melihat ada wanita secantik ini sebelumnya." Aezar berkata tanpa merubah pandangannya sedikitpun. Meski kedengarannya itu hanya gombalan, tapi Aezar berkata tulus dari hati.
__ADS_1
"Dokter Eza, kamu membuat aku jadi melambung sangat tinggi, bahkan saking tingginya aku jadi takut terjatuh. Apakah kamu tidak akan menyesal sedikitpun telah memilih wanita rapuh sepertiku untuk jadi pendamping hidupmu." Kirana bertanya sekali lagi, karena kenyataannya dia memang janda dan Aezar masih perjaka.
"Aku tidak suka kamu merendahkan diri seperti itu, bagiku kamu adalah hidupku, Ana."
"Aezar," Kirana menitikkan airmata."
"Hey, kok malah nangis." Aezar mengusap airmata Kirana dengan ibu jarinya.
Jeni dan flora tanpa sadar tangan mereka saling menggenggam. Tak percaya Dokter Aezar akan begitu romantis.
"Eza, tamu di luar sudah menunggu, sebaiknya cepat ajak Kirana keluar sebelum mereka merasa bosan." Suara wanita dengan wajah keibuan dan penyabar itu terdengar dari luar pintu.
"Iya mam," sahut Aezar dari dalam. "Ana mama sudah memanggil kita."
"Baiklah, kita keluar sekarang, aku juga sudah selesai di make-up." Kirana mengangkat roknya tinggi-tinggi supaya tidak terinjak oleh kakinya.
Kirana dan Aezar segera turun menapaki satu persatu anak tangga menuju ballroom. Tamu rupanya sudah berdatangan nyaris memenuhi kursi-kursi yang disediakan.
Rupanya acara lamaran anak konglomerat sudah terendus oleh media, beberapa stasiun TV memilih untuk mengirimkan beberapa fotografer dan wartawan untuk meliput acara hari ini dan menjadikan trending topik di sebuah acara televisi.
__ADS_1
*Happy reading.