
Acara dadakan itu tentu menjadi surprize untuk Kirana. Dia sama sekali tidak tahu kalau akan ada acara wawancara mengejutkan seperti hari ini.
Kirana bak artis sedang naik daun saja, dipersilahkan duduk di depan banyak mikrofon di telah berjajar rapi di depan meja, dan didampingi oleh para petinggi perusahaan.
Reyhan juga datang meski tidak menampakkan dirinya, Reyhan diam-diam ikut senang dan mendukung karir Kirana.
Sedangkan Aezar seperti biasa, dia harus berkutat dengan banyak pasien. Aezar hanya bisa melihat Kirana dari sebuah stasiun televisi saja. Namun, Kirana sangat bangga memiliki calon suami dokter yang sangat setia memegang amanah dan sumpah seperti calon suaminya.
Di ruangan pribadi Aezar
"Dokter, kekasih anda wanita yang hebat," kata salah satu perawat yang mengetahui hubungan asmara dokter Aezar.
"Dalam hidupku, aku hanya ingin dia bahagia," kata Aezar sambil memeriksa data pasien beserta penyakitnya. Lelaki tampan itu lalu berdiri dari kursinya dan keluar dari ruangan.
"Kekasih anda sangat beruntung."
"Bukan dia yang beruntung tapi aku," jawab Aezar. Aezar tidak terbiasa bicara panjang lebar pada bawahan, hingga banyak juga dari kalangan sesama Dokter dan suster berlomba untuk bisa dekat dengan sosok tampan itu. Akan tetapi mereka semua tentu menuai kesulitan, Aezar bukan lelaki yang mudah menyobral cinta, dia hanya setia pada satu wanita.
Dokter Aezar dan perawat berjalan dari bangsal satu ke bangsal lainnya demi sebuah kewajiban memeriksa pasien.
Aezar harus tetap mengutamakan pekerjaan diatas kepentingan pribadi, begitulah sumpah Sang Dokter, yang diucapkan dulu waktu pertama kali dirinya terjun memilih pekerjaan menjadi Dokter.
_
_
Wawancara Kirana baru dimulai, Kirana mengatakan yang sesungguhnya, kalau cinta yang tulus dari seseorang telah membangkitkan jiwanya yang mati menjadi hidup kembali, yang tadinya lemah menjadi lebih kuat, dan bersama cintanya itu Kirana siap meniti masa depan.
Semua orang yang mendengar tentu menilai Kirana adalah sosok yang romantis. Mereka ada yang langsung tahu sosok lelaki yang dimaksud, ada juga yang masih menebak karena awalnya tidak terlalu tahu siapa Kirana.
"So sweet, pasti lelaki itu Dokter Aezar kan?" Tebak Fiona dan Jeni yang juga datang di acara jumpa pers itu. Dua sahabat itu terus tersenyum ke arah Kirana.
"Apakah anda sangat mencintai sebesar cintanya pada anda?"
"Tentu, cintaku juga sangat besar untuknya."
"Tapi aku dengar anda mencintai laki-laki lain dan anda telah bersama selama tujuh tahun. Apakah benar anda mendapat perlakuan buruk dari lelaki itu?"
"Emm, tentu tidak." Dusta Kirana setelah berpikir sejenak. "Kita tidak bersama karena belum ada kecocokan saja sebagai pasangan, tapi mungkin kita bisa menjalin hubungan lainnya, sebagai sahabat, misalnya, atau sebagai seorang kakak dan adik," kata Kirana berusaha tenang.
Reyhan tersenyum mendengar jawaban Kirana yang begitu tenang.
"Benarkah ada wanita lain yang mengacaukan hubungan anda di masa lalu sebelum memutuskan berpisah? Dan wanita itu orang yang anda anggap seperti saudara sekaligus sahabat di masa kecil?"
"Ah, pertanyaan ini saya tidak mau jawab, ya, saya mohon maaf. Karena ini sudah menyangkut orang lain." Kirana menangkupkan tangannya dan memohon maaf pada orang yang duduk berbaris di depannya.
__ADS_1
"Sayang sekali Bu Direktur, padahal saya ingin tahu lebih jauh perjalanan kisah asmara anda," ujar sang Reporter.
"Maaf, jika itu masih menyangkut diri saya, saya akan berusaha untuk menjawab, tapi saya tidak mau jika sudah menyangkut orang lain, bagaimana kalau mereka melihat acara live saat ini, pasti mereka akan marah dan menusuk kasurnya dengan pisau." Canda Kirana setengah menyindir kelakuan Clara yang kadang di luar nalar.
"Hahaha, anda sangat benar, baiklah sebaiknya kita fokus ke masalah pekerjaan saja, bukankah acara ini untuk melihat perjalanan bisnis saya, sebenarnya tanpa Dokter Aezar, tunangan saya, saya tidak akan berada di titik ini, dia selalu memberi motivasi, dan dukungan, dia sangat berperan penting, Pak Dokter selamat bekerja, saya mencintai anda." Kata Kirana sambil mengucapkan dengan malu-malu.
"Sweeeeet." Orang yang ada di gedung itu bersorak. Dan wawancara untuk Kirana sepertinya akan segera berakhir setelah beberapa pertanyaan lagi.
Kirana tidak menyangka pertanyaan yang muncul akan berhubungan dengan masa lalunya.
Di kediaman Clara.
"Argggg. Sial kenapa harus aku yang dituding sebagai perebut Reyhan. Sudah jelas Reyhan mencintaiku, Reyhan milikku lebih dulu." Kesal Clara yang diam-diam melihat dari televisi acara live Kirana itu.
Melihat Kirana menuai pujian, dan secara tidak langsung dirinya menuai cibiran. Clara tentu tidak tinggal diam, wanita paling tidak tahu malu di dunia itu mulai menyusun rencana baru.
Usai acara live di sebuah stasiun TV, Kirana keluar dari ruangan yang dindingnya semua berbahan kaca dan elegan itu.
"Ana, Ana tunggu!" Seseorang memanggil Kirana.
"Rey, kamu disini?" Tanya Kirana.
"Iya, Aku melihat semuanya sejak awal."
"Kenapa Rey, apakah ada yang membuat kamu tidak suka?" Tanya Kirana lagi.
"Bukankah semua sudah berlalu, apalagi yang ingin diperpanjang. Bukankah hubungan kita memang tinggal masalalu? Apa untungnya bagiku jika saling menjelekkan"
"Kamu benar, kirana maafkan aku."
"Maaf untuk apa, Rey?"
"Aku sudah menyakitimu, Ana."
"Kamu baru sadar, Rey." Kirana tersenyum tapi bukan senyum bahagia atau persahabatan. "Jika yang kita bicarakan sudah cukup, aku mau kembali ke perusahaan."
"Ana tunggu!"
"Apalagi Rey?"
"Tadi di depan kamera kamu cantik sekali."
"Aku cantik Rey? Apa nggak salah? Aku nggak percaya kamu akan mengatakan hal itu padaku." kata Kirana tak tergoda sedikitpun.
"Sejak dulu kamu sudah cantik Ana, hanya saja aku tidak pernah mengatakannya, aku takut jatuh cinta padamu, dan kenyataannya sekarang aku jatuh cinta padamu," kata Reyhan sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Maaf aku pergi, Rey. Karena apa yang kita bicarakan ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."
Rey mengangguk. "Baiklah Ana." Reyhan akhirnya merelakan Kirana pergi.
Reyhan melihat punggung aAna yang semakin menjauh, Ana saat ini benar-benar sangat cantik dan dewasa dimata Reyhan.
_
_
Baru saja tiba di ruang kerja, Jeni melaporkan kalau ada dua pimpinan perusahaan baru saja menghubungi dan meminta kerja sama.
"Bu, ada dua pimpinan perusahaan dari PT Cahaya dan PT Gemilang ingin bertemu dengan anda secara langsung, mereka tertarik ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, kira-kira Bu Kirana setuju?"
"Aku ingin melihat data yang dikirimkan?"
"Perusahaannya lumayan bagus, hubungi mereka berdua, katakan ingin mengadakan pertemuan dimana?"
"Mereka yang akan datang kesini, Bu."
"Baiklah, kalau begitu siapkan ruang meeting sekarang." Kirana terlihat menyiapkan diri, sedangkan Jeni meminta OB untuk segera memeriksa ruang meeting.
Pertemuan kali ini bersifat khusus untuk direktur PT saja, selain baru perkenalan, Mereka juga ingin tahu kemampuan kinerja satu sama lain.
***
Setelah sepuluh menit menunggu, tamu dari PT Cahaya dan PT Gemilang sudah datang. Pimpinan mereka ternyata keduanya adalah seorang pria yang masih muda, bisa dibilang seusia Reyhan.
Kirana menyambut ramah tamu yang sama sekali tak dikenal sebelumnya itu. Mereka memperkenalkan diri dengan nama Mario dan Glenn.
Setelah saling berkenalan satu sama lain, Kirana menghubungi OB untuk menyiapkan minuman.
OB segera datang dan menyiapkan jenis minuman seperti yang dipesan para tamu. Kirana juga memesan minuman yang sama.
Setelah selesai menyajikan minuman, OB kembali pamit.
"Mari kita bersulang di hari bahagia ini, Nona direktur."
"Em, baiklah." Kirana mencicipi sedikit tapi rasanya agak aneh.
"Ayolah Nona, minuman ini hanya dari leci, wanita suka sekali dengan sari buah bukan?"
"Apakah anda yakin tidak ada Alkohol di dalamnya, Saya alergi dengan minuman beralkohol." Terang Kirana.
"Saya rasa tidak Nona, saya sering minum dan baik baik saja. Saya tidak pernah mabuk ataupun pusing," kata Mario, Glenn juga tersenyum sambil mengangguk seolah membenarkan ucapan Mario.
__ADS_1
Happy reading.