
"Tuan, tumben masih tidur." Sang asistent membangunkan Rayhan dengan hati-hati.
"Iya, aku lelah banget." Reyhan menggeliat.
"Tapi anda bau alkohol, Tuan." Niko yang sudah sangat rapi duduk di sofa tunggal, sedangkan Reyhan yang duduk di sofa panjang, baru sadar kalau semalam dia tertidur di sofa.
"Ya, aku semalam minum sedikit. Aku bingung dengan keadaan saat ini.
"Pasti ada masalah Tuan, tak seperti biasanya anda menyentuh minuman kalau tidak sedang menghadapi masalah berat."
"Kirana, aku tiba-tiba kepikiran dia," kata Reyhan.
"Kenapa tuan? apa baru sekarang anda menyesal telah menceraikan dia?"
"Tidak, aku hanya kasihan. Apakah menurutmu selama ini aku terlalu jahat dengan dia."
"Tentu tidak, tapi anda terlalu mengabaikan perasaan nyona Kirana, demi balas budi anda pada nona Clara. Padahal Cinta nyonya Kirana begitu tulus. Saat anda sakit bahkan aku melihatnya tidak tidur sama sekali demi merawat anda, saat anda tidak pulang bahkan dia rela menunggu hingga masakan spesial yang dibuatkan untuk anda dingin dan Nyonya tertidur di kursi. Bagi saya itu luar biasa. Tapi apa yang di dapat Nyonya."
"Saya tidak yakin jika Nona Clara akan melakukan hal yang sama ketika anda ada diposisi yang sama." kekehan kecil keluar dari bibir Niko. " Mungkin dia akan sibuk curiga dan mengira anda selingkuh," imbuhnya lagi.
"Kamu menjelekkan Clara karena selama ini kamu berpihak pada Kirana, aku tahu itu. Clara tidak seperti itu."
"Jika anda sudah menyimpulkan sendiri, kenapa anda tanya sama saya, sudut pandang saya dan anda jelas berbeda, tapi sebagai laki-laki aku akan bahagia jika memiliki wanita seperti nyonya Kirana disisi ku. Mungkin aku tak akan pernah mengabaikan dia."
"Kemarin aku memintanya bertemu." kata Reyhan sambil menatap ke arah jendela kaca. mengenang pertemuan dengan Kirana yang begitu mendebarkan baginya. Diam-diam otak Reyhan terus mengingat dan menyukai berdekatan dengan Kirana malam itu. bau tubuh Kirana yang harum.
__ADS_1
"Kamu tahu, dia masih mencintaiku. Dia tidak benar-benar meronta saat aku mencoba untuk ... Ah kamu tidak perlu tahu." Reyhan senyum-senyum sendiri saat mengingat Kirana mendesah dibawah tubuhnya. ketika tangan besarnya sibuk menyusuri setiap titik sensitif. Reyhan yakin jika dia mau, dia akan bisa mendapatkan Kirana dengan sangat mudah.
"Maaf, anda terlalu percaya diri Tuan, semalam aku lihat Nyonya Kirana datang ke rumah sakit untuk menemui Dokter Aezar. Mereka berdua sangat lama di dalam, lalu keluar dengan wajah keduanya sangat bahagia. Saya juga penasaran sejauh apa hubungan mereka saat ini, dan asal Tuan tahu ada cincin yang sama yang mereka pakai. Mungkin sebentar lagi media akan mengumumkan kalau mereka telah bertunangan."
Reyhan yang sempat bahagia mengenang kebersamaan dengan Kirana di cafe itu mendadak jadi diam. Rangkaian kalimat Niko tadi membuat hatinya terluka. Apakah benar Kirana datang menjemput Aezar ke rumah sakit."
"Setelah itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia datang ke sebuah restaurant. Aku tahu pasti mereka akan membahas acara tunangan mereka nantinya." Niko sengaja mengatakan semua pada Reyhan, diam-diam dia juga memiliki dendam kesumat yang terpendam karena atasannya itu selalu menyia-nyiakan wanita seperti Kirana. Niko juga ingat bagaimana Kirana diminta untuk mendonorkan darahnya pada Clara saat dirinya kesakitan.
"Berangkatlah lebih dulu, aku akan datang telat. Tolong kamu handle miring pagi nanti" perintah Reyhan yang kesal sama Niko. Setiap melihat wajah Niko Reyhan ingin menerkamnya saja. Asisten itu secara tidak langsung selalu menyalahkan dirinya.
Reyhan pergi meninggalkan Niko, lelaki itu masuk kamar mandi dan mandi untuk menghilangkan pusing di kepala, mendengar Niko berbicara membuat kepalanya berasap.
Niko mengangguk patuh. lalu dia turun kembali melewati lift yang mulai antri. Sedangkan Reyhan mandi di bawah guyuran shower dengan menahan semua sesak di dada. Kata-kata Niko dan Nayara terus terngiang membuat paginya sangat buruk.
'Aku berdo'a semoga kau dan Clara akan hidup bahagia, dan selamanya tidak akan pernah tahu semua kebenarannya.' kata itu terus saja terngiang membuat Reyhan melayangkan tinjunya hingga mengenai dinding.
Reyhan penasaran dengan kebenaran ucapan Niko, Reyhan memutuskan untuk melihat rumahnya yang lama dan ingin melihat aktifitas Nayara di pagi hari.
Reyhan melihat mobil Kirana masih bertengger di garasi, Reyhan yakin Kirana masih ada di rumah.
Reyhan melihat wanita yang kini sudah menjadi mantan itu dari persembunyiannya. dibalik gang yang tertutup oleh pagar tembok milik tetangganya.
Tak lama Kirana keluar dari dalam rumah yang pernah mereka tinggali berdua. Kirana nampak bahagia dan semakin cantik. "Bi, aku berangkat dulu."
"Nyonya tunggu. ada yang tertinggal. katanya mau dibawa sekalian."
__ADS_1
"Apa, Bi! perasaan aku sudah bawa semuanya." Kirana kembali memeriksa totebag di tangannya yang berisi sarapan.
"Baju tuan Aezar yang semalam itu lho nya."
"Oh, iya, bawa sini Bi, Biar sekalian aku antarkan ke laundry, bibi pasti belum sempat cuci." Kirana mengulurkan tangan menerima baju daritamgsn bibi.
"Kotor ya Nya, tapi masih wangi." Bibi mencium jaket dan kemeja Aezar yang memang masih wangi tapi sedikit basah.
Kirana memeluk baju Aezar dan menaruhnya di totebag yang lain lalu memasukkan ke mobil.
"Baju yang semalam. Apa artinya Aezar semalam ada di sini, atau Aezar diam-diam menginap di rumah ini? Jangan jangan Kirana dan Aezar memang sudah pernah tidur bersama," batin Reyhan.
Pagi ini Kirana berangkat dengan mengemudi mobil sendiri, Kirana lalu meluncur ke tempat laundry, untuk mencucikan baju Aezar biar wangi dan rapi.
Reyhan membuntutinya. Reyhan jadi ingat Kirana dulu juga sering melakukan hal yang sama. Khusus untuk baju kerja miliknya Kirana selalu memakai jasa laundry, Kirana suka dengan hasilnya yang lebih rapi dan wangi.
"Den Reyhan sudah kembali pulang ya, Mbak?" tanya wanita yang bekerja di tempat itu.
"Emh, bukan. Ini baju teman saya dia nitip ke saya," dusta Kirana. Kirana masih ragu ingin mengatakan itu baju tunangannya.
Reyhan yang mendengarnya memiringkan bibirnya. "Dasar pembohong, bilang aja kalian habis mesum di rumah kita" batin Reyhan.
"Mbak, nanti sore tolong disiapkan soalnya akan saya ambil," pinta Kirana.
"Iya, Mbak." pegawai laundry tersenyum ramah pada Kirana.
__ADS_1
Melihat Kirana memperlakukan baju Aezar saja dia begitu cemburu. Apalagi kalau melihat mereka menikah nanti. Reyhan kembali merasakan gundah di hatinya.
'Kirana, bukankah kamu dulu menginginkan kita memiliki bayi lagi setelah anak pertama kita pergi, tapi kau malah menceraikan aku dan memilih lelaki lain. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu menikah, surat perceraian itu tidak akan pernah ada untuk selamanya. Karena aku akan membatalkan perceraian itu dengan alasan yang kuat.' Ide jahat mulai muncul di benak Reyhan.