
"Tuan sangat sibuk, anda diminta kembali dan jangan mengganggunya untuk saat ini."
"Apa! Kamu sudah gila berani berkata seperti itu padaku!! Niko!!"
Clara tidak terima Niko berkata padanya dengan tidak sopan.
"Aku hanya bawahan, menyampaikan semuanya berdasar perintah. Ini bukan rekayasa seperti yang selalu anda lakukan, Nona bermuka dua."
"Niko, kurang ajar kamu!" Clara mengepalkan tangannya.
"Permisi, Nona," kata Niko sambil memutar tubuhnya, pergi. Senyum yang ditinggalkan Niko sangat menyakiti hati Clara.
"Kirana, aku tidak akan membiarkan kamu menang baik dalam game ini dan berikutnya. Reyhan ataupun Aezar, aku pastikan kedua lelaki itu akan pergi meninggalkanmu," batin Kirana sambil berjalan menuju ruang pribadinya.
***
__ADS_1
Reyhan rupanya kedatangan tamu di ruang kerjanya. Lelaki tua yang sangat bijaksana, dia adalah Papa Bagaskara.
Reyhan meminta pelayan untuk membuatkan kopi, tak lama kopi datang dan obrolan santai dimulai.
"Rey, Papa sudah dengar semuanya. Kirana tidak mau bersama kamu lagi kan?" ujar lelaki tua sambil menuang kopinya diatas lepek. berharap kopi hitam itu segera dingin.
"Benar Pah. Kirana minta cerai." jawab Reyhan dengan wajah lesu.
"Ini salah kamu, papah tahu awal pernikahan kalian itu tanpa cinta, tapi seiring berjalannya waktu kamu itu sudah jatuh cinta dengan dia, kamu tidak menyadari itu."
"Papah tahu dari mana kalau Rey cinta sama Kirana?"
"Rey punya hutang nyawa sama Clara. Dan wanita itu inginkan Rey."
"Jika dia benar-benar tulus menolong kamu, papa yakin dia sudah melupakan kejadian puluhan tahun itu dan tidak terus mengungkitnya."
__ADS_1
"Apa artinya menurut papa Kirana lebih baik daripada Clara."
"Kamu harusnya bisa menilai. Buktinya Kirana bisa sabar dengan sikap acuh kamu selama tujuh tahun. Dia tetap menjadi istri yang baik buat kamu."
Reyhan yang duduk di depan papa, dia nampak gelisah. berulang kali menarik nafasnya dalam dan mendesah.
lelaki tua itu bicara lagi. "Tapi jika Kirana ingin lepas darimu, papa dukung dia, papa yakin Kirana akan bahagia dengan lelaki lain, daripada kamu yang tak becus mencintai. Papa acungi jempol dalam mengelola perusahaan kamu memang hebat, tapi urusan cinta kamu sangat payah." Bagaskara terus berkata panjang lebar sambil sesekali menyesap kopi.
"Jika Kirana memiliki pasangan baru, kamu harus meninggalkan perusahaan ini, biarlah dia kelola dengan suami barunya. Kamu cukup kelola perusahaan kamu sendiri. Akan memalukan jika kamu tetap disini."
"Itu tidak mungkin Pa, jika Reyhan melepaskan perusahaan keluarga Kirana, Reyhan tidak percaya Kirana bisa mengelola dengan benar. Reyhan tidak mau Kirana kehilangan perusahaan keluarganya."
Bagaskara tertawa terkekeh hingga pundaknya naik turun, Reyhan tidak mengerti kenapa papanya tertawa begitu keras, seolah dirinya saat ini sedang bertingkah sangat lucu. "Itu artinya kamu masih cinta sama dia, kalau tidak buat apa kamu peduli, mau bangkrut atau tutup permanen, biarlah. Toh kamu ada usaha sendiri."
"Papa benar mungkin aku tidak pernah sadar kalau cintaku memang untuk Kirana, dan selama ini aku hanya ingin balas bpudi pada Clara, bukan cinta," kata Reyhan sambil memandang ke arah jendela kaca, dimana di seberang sana hanya ada ruangan Kirana yang dia lihat.
__ADS_1
"Pikirkan Nak, sebelum kamu terlambat. Aku tahu putra papa lelaki yang bijaksana." Bagaskara beranjak dari kursinya. Sedangkan Rey Bagaskara masih diam tanpa bergeming.
"Papa tidak mau kamu terlambat menyadari cintamu yang sesungguhnya, penyesalan pasti jatuhnya belakangan. Dan hanya orang paling bodoh di dunia yang melakukan kesalahan sebanyak dua kali," kata lelaki tua yang sebenarnya sangat sedih karena Reyhan telah menyia-nyiakan putra pertamanya.