Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 28


__ADS_3

"Kirana duduk menghadap laptop, akan tetapi pikirannya terus berkelana begitu jauh.  


Kirana tak percaya Reyhan akan mengingkari janjinya seperti hari ini. 


"Bu Kirana, apakah anda sudah tahu, hampir semua investor menarik sahamnya dan akan menanam saham di perusahaan sebelah," adu Jeni yang mulai panik. Jeni juga takut Kirana akan gagal mempertahankan perusahaan dan tidak lagi bekerja menjadi sekretaris. 


"Kenapa Jeni? Apakah kamu juga takut aku tidak mampu menggaji mu?" 


"Bukan begitu Bu, tapi saya …."


"Kamu tenang aja ya? Aku akan berusaha semaksimal mungkin, aku pastikan perusahaan ini akan aman." Kirana berusaha menenangkan Jeni


"Kita akan cari klien baru, masih banyak perusahaan lain yang belum kita coba ajak untuk bekerja sama."


"Iya Bu. Maafkan saya yang terlampau panik. Saya janji akan terus ada disisi ibu." ucap Jeni kembali tenang.


"Makasih Jeni, sekarang kamu bisa istirahat, ini sudah waktunya makan siang."


"Iya Bu, saya permisi." Jeni keluar untuk makan siang, sedangkan Kirana memilih untuk tetap di ruangannya sambil terus memikirkan cara untuk mengalahkan Reyhan yang otomatis lambat laun akan jadi saingan bisnisnya. 


Tring! tring!


Kirana melirik layar ponselnya. Setelah yang tertera dilayar adalah nama Reyhan. Kirana segera mengangkat dan menggeser kursor hijau. 


"Hallo Pak Reyhan terhormat. Ada apa kamu menghubungiku? Oh, iya apakah kamu ingin menertawakan aku karena hasil meting tadi? semua rencanamu licikmu itu telah berhasil?" Kata Kirana dengan intonasi pelan tapi begitu menusuk.


"Kirana aku tahu kamu pasti mengira aku lelaki yang sangat kejam, tapi sesungguhnya semua itu sepadan dengan apa yang kamu lakukan pada Clara."


"Bosan, ujung-ujungnya pasti wanita itu lagi," gerutu Kirana. 

__ADS_1


"Ya, jika kamu bosan, seharusnya jangan usik aku dan Clara lagi. Seharusnya kamu tidak perlu memaksa Clara untuk minum obat penggugur kandungan, supaya dirimu dan perusahaan juga aman." Reyhan berbicara sambil mendekat ke jendela kaca, yang di depannya tepat merupakan gedung lain dan merupakan ruang kerja Kirana. 


Andaikan sama-sama menatap ke arah Jendela, maka Reyhan dan Kirana akan bisa saling menatap. 


"Lagi-lagi karena ucapan wanitamu, Reyhan kapan kamu sadar? Kamu sudah dimanfaatkan oleh Clara. Lekas buka mata dan hatimu."


"Ya, Kirana. Aku tahu kamu bicara seperti itu karena kamu cemburu. Kamu cemburu karena aku dan Clara sebentar lagi akan memiliki bayi." 


Menyebut soal bayi, Kirana menjadi sangat marah, bahkan tangannya tanpa sengaja menggenggam berkas dan meremas hingga robek.


"Kamu terlalu menyakiti hatiku dengan mengingatkan soal bayi itu Rey, aku bersumpah kamu akan merasakan sakit yang amat dalam karena tidak pernah mencintai bayiku. Kamu akan menyesal karena telah menyiakan kehadirannya."


Reyhan terdiam, kata-kata Kirana sungguh membuat hatinya tersayat. Kirana tidak tahu kalau saat ini Reyhan sudah menyesal karena gagal menjadi ayah yang baik untuk anak pertamanya, oleh sebab itu dia ingin menjadi ayah yang baik untuk anak keduanya. 


"Oh iya, ngomong-ngomong pasti ada yang lebih penting yang ingin kamu katakan daripada membahas soal wanitamu itu, apa yang ingin kamu katakan?" Kirana duduk di kursi goyang sambil memainkan pulpen dan mengetuk-ngetuk kan ke meja. Sedangkan Reyhan berharap Kirana akan melihat ke arah jendela yang sama dengannya.


"Kirana, semuanya akan berakhir jika kamu mau minta maaf pada Clara. Dan berjanji tidak akan mau tahu soal bayi itu. Percayalah Kirana, kalau kepergian bayi kita karena dia tidak mau melihat kehidupan orang tuanya yang menyakitkan ini, Pernikahan kita terjadi karena terlalu dipaksakan, tidak ada cinta diantara kita." kata Reyhan lirih. 


Minta maaf karena berusaha menggugurkan kandungan Clara, semua hal itu ternyata berhubungan, tapi kirana tidak merasa kalau dia melakukan seperti yang dituduhkan oleh Reyhan. 


"Kamu gila, Rey. Kamu sudah gila dan butuh psikiater untuk di melakukan terapi rutin. Biar otakmu bisa bekerja dengan baik lagi."


"Kirana, Jaga bicaramu, jangan melampaui batas, aku tidak akan meminta padamu untuk kedua kalinya. Seorang pemilik perusahaan akan mementingkan kepentingan bersama daripada egois." Reyhan mulai berkata untuk menakuti Kirana. Akan tetapi jika menyerah begitu saja bukan Kirana namanya. Wanita itu akan terus membela diri jika merasa tidak bersalah.


"Bahkan sampai mati, aku tidak akan minta maaf pada Clara Rey, kecuali kau bisa buktikan kalau aku yang telah memaksanya untuk minum obat itu. Turuti terus apa yang diinginkan wanitamu, maka kamu lama-lama akan gila." Kirana menutup panggilan dari Reyhan setelah merasa perbincangannya tak ada gunanya lagi. 


Kirana merasa sangat hancur. Tak percaya Reyhan melakukan semuanya hanya demi agar dirinya minta maaf. Minta maaf yang bukan kesalahannya. 


Kirana segera minum air yang ada di depannya. Meneguk hingga habis tiada sisa. Kirana tidak habis pikir kenapa Reyhan tidak juga sadar selama ini telah masuk dalam perangkap Clara.

__ADS_1


Setelah merasa tenang, Kirana ingin segera pulang, migrain ymag dideritanya sepertinya kambuh lagi usai berdebat dengan Reyhan. 


Reyhan bisa melihat bayangan Kirana meninggalkan ruang kerjanya, karena kebetulan wanita itu tidak menutup gorden jendela.


"Jeni, aku mau pulang, tolong rapikan meja kerjaku, setelah itu lakukan apa yang kamu mau." 


"Iya, Bu. Bu Kirana sakit?" Tanya Jeni balik.


"Tidak, aku hanya butuh istirahat sebentar. Besok aku pasti akan baik-baik aja." Kirana meninggalkan ruang kerjanya setelah pamit dari Jeni.


Sampai di parkiran Kirana mencari mobilnya. Dia baru ingat ternyata tidak membawa mobil. Aezar tadi pagi ynag menjemput. 


Kirana hendak menelpon Aezar tapi urung dia lakukan karena Kirana takut kalau lelaki itu sedang ada praktek atau kesibukan lain.Kirana memilih untuk naik taxi saja. 


Belum sampai menelepon taxi. Mobil Aezar sudah nampak. Kirana tersenyum melihat lelaki itu yang tak pernah membuatnya kecewa itu. 


"Masuk!" Pinta Aezar tanpa turun, karena mereka tengah ada di jalur searah, mobil lainnya sedang antri di belakang ingin keluar parkiran perusahaan. 


Dengan senang hati Kirana langsung masuk, mereka terlihat berbicara dan tersenyum. Lagi-lagi Reyhan hanya bisa melihat mantan istrinya bahagia bersama laki-laki lain. 


"Untung aku pulang cepat, kalau enggak pasti aku sudah kehilanganmu," ujar Aezar sambil membantu Kirana memakai sabuk pengaman.


"Za, aku sengaja pulang cepat karena aku sedang sakit kepala. Masalah perusahaan membuatku bekerja sangat keras.


"Kamu itu stress Kirana, yang bisa ngobatin sakit kepala kamu saat ini adalah healing, refreshing, kamu sudah terlalu lama memikirkan masalah demi masalah yang datang silih berganti. Apalagi lawan kamu Clara." Aezar tak percaya ada wanita yang liciknya seperti Clara di dunia ini.


"Mungkin kamu benar, aku harus memanjakan diri untuk sesaat. Semoga didunia ini hanya ada satu wanita seperti Clara, sehingag tak banyak orang yang pusing dengan ide liciknya." Kata kirana sambil bersandar. Kirana terlihat sangat lelah sampai sampai dadanya naik turun sangat cepat. .


"Ya. Semoga saja," jawab Aezar sambil melajukan mobilnya kembali.

__ADS_1


Reyhan juga bisa melihat senyum Kirana dan Aezar di dalam mobil, ada gelenyar sakit yang dia rasakan melihat Kirana tersenyum dengan lelaki lain. "Clara benar, kau meminta cerai dan membatalkan syarat perceraian karena cintamu sudah berpaling pada lelaki lain."


__ADS_2