
Malam ini Andre dan Niko berkunjung ke apartement Kirana, mereka ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
Kirana baru saja selesai mandi dan memakai long dress warna putih tulang dengan sabuk melingkar di pinggang. Baju model sederhana tetap tampak elegan di tubuh Kirana.
Ana kembali ke mini bar, membuatkan kopi untuk Andre dan Niko yang sudah seperti saudara itu. Setelah selesai, ana menyuguhkan kepada dua lelaki yang duduk santai di balkon.
"Tadi katanya ada yang ingin kamu katakan?" tanya Kirana sambil duduk di kursi kecil, di sebelah asisten Reyhan dan Andre.
"Iya, hanya saja aku masih ragu mengatakannya."
"Apa?" Kirana mendesak.
"Nona, akhir-akhir ini aku melihat sebuah cinta yang tulus dari Tuan Reyhan. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Mendengar ucapan Niko, Andre dan Kirana menoleh ke arah Niko secara bersamaan.
"Apa yang kamu katakan Niko? Kamu ingin membujuk ku supaya aku kembali pada Reyhan, Niko. Apa ini Reyhan yang minta?" Kirana terkejut Niko berbicara demikian, dia mengira kalau Niko sedang dalam paksaan Reyhan.
"Katakan pada Reyhan, walaupun dia meminta tolong pada seribu orang di dunia ini, tak akan mampu untuk memperbaiki hati yang terlanjur remuk."
"Maaf Nona, yang meminta bukan Tuan Reyhan ataupun siapapun, ini murni atas pengamatan saya sendiri beberapa hari ini. Aku belum pernah sekalipun melihat tuan sesedih ini, dia seolah tidak memiliki sebuah mimpi lagi, selain kembali pada anda," kata Niko yang beberapa hari ini sering di telepon Reyhan, hanya untuk menanyakan kabar Kirana dan perkembangan ingatan Jeni.
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Jika Clara mengancam bunuh diri, Reyhan pasti akan kembali bersama gadis itu lagi," ledek Kirana, sambil memiringkan bibirnya.
"Sepertinya tuan mulai percaya jika anda adalah gadis yang pernah menyelamatkannya di waktu kecil."
"Aku bosen
"Apakah itu yang ingin kamu katakan hari ini, dengan meminta bertemu diriku , Niko?"
Kirana mulai jengah dengan Niko yang mulai membela Reyhan. Sejak dulu Kirana tahu kalau Niko memang inginkan mereka terus bersatu.
"Tentu tidak Nona, ada yang ingin aku katakan lagi, Nona Jeni sudah lebih baik, hanya saja dia tidak akan kembali seperti semula. Untuk mengingat kejadian yang telah berlalu, rasanya tidak mungkin lagi."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menangkap Clara? bisakah kau cari solusinya?" Kirana menatap Andre dan Niko bergantian.
"Pasti dia mengira setelah aku tiada, dia akan menjadi CEO dan kasus ini akan hilang begitu saja," Kirana tersenyum smirk. Sepertinya Clara kali ini tidak akan bisa berdalih lagi di depan polisi.
"Apakah bukti ini cukup Nona? atau masih ada yang anda inginkan lagi?"
"Ya, ini cukup." Kirana mengambil bukti kejahatan dari Andre lalu menyimpannya kembali disebuah map.
Setelah berbincang-bincang cukup panjang Kirana dan dua rekan bisnisnya minum kopi yang sudah mulai dingin.
__ADS_1
Niko terlihat masih ingin berbicara lagi, Kirana bisa melihat itu dari mimik wajah Niko yang terus menatapnya.
"Apakah ada yang ingin engkau sampaikan Niko?"
"Besok aku kembali ke Indonesia Nona."
"Oh, hati hati," kata Kirana merasa kehilangan.
"Nona, aku berharap anda besok juga pulang sebelum semua terlambat."
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi aku tidak janji besok."
"Apakah anda akan bersama, Raka?"
"Jika dia ingin pulang, aku tidak punya hak melarangnya."
"Ya, anda benar." Niko mengerti maksud Kirana. Lelaki itu juga punya keluarga di negara asalnya.
Tapi Niko terlihat tidak begitu suka dengan Raka, mungkin lelaki itu tahu masalalu mereka berdua.
"Niko, kamu terlalu mencemaskan sesuatu. Aku tahu kamu masih ingin aku kembali dengan Reyhan, tapi sayangnya aku sudah tidak ingin," kata Kirana yang mereka kalau Niko masih memikirkan tentangnya dan Reyhan.
__ADS_1
"Semoga suatu hari anda merubah keputusan itu," kata Niko lagi.
Kirana berdiri, pertanda obrolan hari ini sudah selesai, Niko dan Andre pamit pulang untuk berkemas.