
Reyhan dan Clara datang bersama ke perusahaan. Hati Clara sangat bahagia karena berlahan dia bisa memiliki apa yang juga dimiliki oleh Kirana. Termasuk bisa memiliki cinta Reyhan.
Wanita tak tahu terima kasih karena sudah diadopsi keluarga Kirana sewaktu kecil itu, justru membuat kehidupan putrinya hancur. Clara adalah sosok paling tidak tahu diri dimuka bumi ini.
Setelah tiga tahun berada dekat dengan Kirana dan hidup enak dalam keluarga kaya itu, dia malah memanfaatkan kebaikan keluarga Kirana dengan pulang kembali kepada keluarganya, dan keluarga Clara juga meminta uang sangat besar dengan alasan untuk kehidupan Clara yang lebih baik.
Mengingat Clara teman baik putrinya, mama dan papa Kirana menyetujui, karena Clara juga berhak memilih keluarga kandungnya.
***
"Bu Kirana, ini kotak makannya, Bu Kirana suka sering telat makan." Asisten di rumah Kirana mengisi sebuah kotak makan berupa nasi dan lauk, karena Kirana jarang terlihat sarapan di rumah.
"Taruh saja di tas, Bi."
"Baiklah Nyonya."
Kirana segera memeluk berkas yang sudah disiapkan sejak semalam lalu mengambil tas yang berisi alat make-up ponsel dan kebutuhan penting lainnya. Sedangkan bibi menaruh sarapan Kirana di tas dan memasukkan ke mobil.
Ketika dia menaruh berkas di jok belakang dan hendak membuka pintu kemudi, Kirana melihat sosok tampan sudah berdiri di belakangnya.
Lelaki berpenampilan rapi itu tersenyum sangat manis.
"Ana, aku menunggu mu sejak tadi."
Kirana terkejut, seketika langsung menoleh. "Za, kamu!"
"Iya, berangkat bareng aku aja ya." tawar Aezar.
"Pulangnya?" tanya Kirana.
"Nanti aku antar."
"Jadi merepotkan." Kirana tersenyum.
"Nggak apa-apa aku suka direpotin wanita cantik sepertimu."
"Lebay banget."
"Biarin, sama kekasih sendiri."
"Sejak kapan." Kirana mengerutkan pipinya.
"Kita belum jadian ya." Aezar menggaruk tengkuknya.
Aezar membantu Kirana membawa berkas dan membukakan pintu mobil depan. Aezar sengaja tidak memasukkan mobilnya cukup di depan gerbang saja supaya lebih mudah saat berangkat nanti.
Mereka berdua kini berada di dalam mobil. Aezar dan Kirana duduk di kursi depan, bersebelahan.
__ADS_1
"Za, sepertinya Clara tidak akan tinggal diam dia pasti akan membalas apa yang telah kita lakukan di pesta kemaren."
"Apa yang bisa dia lakukan." Aezar tidak memikirkan sampai sejauh itu.
"Dia sangat licik, dia tidak akan membiarkan orang lain membiarkan dirinya direndahkan seperti itu."
"Kamu tenang aja, aku akan membantumu. Apa perlu aku membalas semua sakit hati yang kau rasakan?" Aezar mengepalkan tangannya.
Kirana khawatir Aezar akan bertindak yang membahayakan nyawa dan kariernya.
"Jangan Za, kalau kita membalas, lalu apa bedanya dengan dia."
"Terus kamu mau mengalah terus seperti ini?" Kata Aezar sesekali menoleh menatap Kirana.
"Tidak juga, Aku hanya ingin jangan sampai terpancing dengan permainan yang dia lakukan."
"Hm, benar, kamu memang wanita pemilik hati yang kuat, aku nggak akan sanggup terus memaafkan seperti kamu Kirana. Dan yang lebih bodoh itu Reyhan, bagaimana dia tidak bisa melihat berlian seperti kamu di dekatnya." Aezar sesekali menatap Kirana.
"Clara cinta pertamanya, jadi kamu tahu betapa sulitnya melupakan cinta pertama."
Aezar kembali modus. "Kalau cinta pertamaku itu kamu Kirana, makanya aku sulit untuk lupain kamu."
"Kamu pasti bohong." Kirana tidak percaya, dia mencebikkan bibirnya.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan gedung perusahaan. Kirana turun setelah Aezar membukakan pintu. Wajah mereka berdua terlihat berseri-seri, ada secercah kebahagiaan menghiasi wajah Kirana.
Kirana masuk dan Aezar mengekor dibelakangnya, lelaki itu ada jadwal praktek masih jam sembilan pagi.
"Pagi Jen," jawab Kirana.
Jeni menatap Aezar sesaat, Jeni mengagumi sosok tampan di sebelah bos wanita itu, Jeni senang kalau Kirana mulai memiliki teman dekat, setidaknya hatinya tidak akan terlalu sakit kalau melihat Reyhan selalu bersama Clara.
Kirana tidak tahu kalau Reyhan dan Clara sejak tadi ada dibelakang mereka, melihat mereka berdua bercanda dan tertawa membuat Reyhan merasakan sakit yang amat dalam.
Sakit yang seharusnya tidak dia rasakan karena dia juga bersama wanita lain, tapi kenapa Reyhan merasakan sakit seakan terkhianati.
Reyhan berulang kali mengepalkan tangannya. Clara tahu Reyhan belum sepenuhnya move-on dari hubungannya dengan Kirana.
"Rey kamu tidak salah, keputusanmu sangat benar." Clara menggenggam tangan Reyhan.
"Kamu benar, aku tidak mungkin salah telah mencintaimu, aku tidak mungkin salah melepaskan wanita seperti Kirana. Tetaplah bersamaku Clara." Reyhan sangat terpukul dengan Kirana yang melupakannya begitu mudah. Sedangkan tujuh tahun dia lewati tak pernah sekalipun melihat Kirana tersenyum dengan begitu lebar.
Siapa yang salah?
"Rey, kamu tahu sendiri kan? Kirana minta cerai cepat sama kamu karena sudah menemukan lelaki kaya itu. Kepergian bayinya hanya dijadikan alasan saja."
"Ya, kamu benar." Reyhan berusaha tegar meski yang di dalam hati tak sepenuhnya seperti yang terlihat.
__ADS_1
"Dia juga ingin kita cepat-cepat pergi dari perusahaan ini." ucap Clara lagi.
"Tidak akan semudah itu, aku tidak akan membiarkan Kirana menang dengan mudah. Perusahaan ini semakin besar karena ada aku"
Clara bergelayut manja, hatinya makin berbunga bunga karena Reyhan selalu percaya apa yang dikatakan. "Kamu benar Rey, Kamu juga harus bisa buat dia tahu diri."
_
_
"Za, kamu mau langsung balik atau sarapan bersama aku?" Tawar Kirana.
"Emang kamu ada waktu buat sarapan bareng?" Aezar khawatir Kirana sangat sibuk.
"Ada dong, tadi Susi bawain bekalnya banyak banget."
" Boleh, kalau begitu aku mau kamu dong sarapan sambil ditemenin wanita secantik kamu."
"Za, kamu memang paling bisa buat aku ketawa, kalau aku cantik nggak mungkin suami terpikat sama wanita lain. Aku punya banyak banget kekurangan yang belum kamu ketahui."
"Tidak ada Kirana. Aku pastikan Reyhan yang akan menyesal sudah tinggalin kamu."
"Dokter Aezar benar, Bu." Jeni yang sejak tadi mendengar ikut angkat suara.
Mendengar semuanya Reyhan semakin geram. Reyhan ingin sekali mengganggu sarapan mereka berdua. Clara segera masuk ke ruangannya, sedangkan Reyhan diam diam menemui Kirana dan Aezar yang berjalan menuju balkon belakang untuk sarapan berdua.
"Hm, kalian pagi-pagi sudah romantis aja." Reyhan menatap Aezar dan Kirana bergantian.
"Rey, kamu mau sarapan bareng kita?" Aezar sengaja berkata demikian untuk membuat hati Reyhan semakin sakit. Kalau kamu mau biar aku belikan aja, karena bekal Kirana kayaknya hanya cukup untuk kita berdua."
"Aezar, sudahlah. Kamu buruan sarapan, pasien udah pada nunggu lho."
Reyhan bingung harus melakukan apa, Kirana terlihat begitu acuh dengan kehadirannya.
Melihat Reyhan tak juga pergi akhirnya Kirana kembali menatap lelaki yang menjadi mantannya itu.
"Rey, dimana Clara? tumben kalian tidak bersama."
"Tidak usah pedulikan dia, jika kenyataannya kamu sangat membenci dia. Clara dan bayinya akan baik-baik saja bersamaku, tak akan aku izinkan wanita yang sedmag sakit hati menyakitinya.
Mood sarapan Kirana seketika hilang mendengar ucapan Reyhan yang begitu menyayangi bayi dari buah cinta mereka, dan yang dimaksud wanita sakit hati adalah dirinya.
"Rey kamu!!" Kirana berdiri dengan sorot mata berapi-api.
"Kenapa kamu marah Kirana? yang seharusnya marah itu Clara bukan kamu. Kamu hanya wanita tidak tahu malu yang mengaku telah menyelamatkan nyawa seseorang. Sedangkan kamu sama sekali tidak terlibat.
"Reyhan!" Aezar berdiri dan siap melayangkan bogem mentah ya di pipi Reyhan. Tapi Kirana sekuat tenaga menahan lengan Aezar.
__ADS_1
"Aezar, percuma bicara dengan lelaki yang sudah tertutup mata dan hatinya."
"Rey, sebaiknya kamu secepatnya pergi dari sini, aku tidak mau kalian berdua bertengkar."