Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 61. Sakit tapi tak berdarah.


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, suara kicau burung camar di pucuk cemara terdengar begitu merdu.


Kirana dan Aezar sudah pulang dari pasar tradisional. Usai subuh tadi mereka berdua sudah berangkat belanja keperluan selama tinggal di Villa.


Sedangkan Reyhan baru saja membuka mata, untuk mengusir kantuk dia segera bangkit dari ranjang dan membuka tirai.


Baru saja bangun, Reyhan sudah melihat pemandangan yang membuat matanya sakit. Reyhan melihat Aezar dan Kirana turun dari mobil lalu berjalan santai sambil bergandengan tangan dengan mesranya, sedangkan tangan kiri Aezar membawa keranjang berisi ikan dan sayuran.


'Apakah mereka terus-terusan ingin membuatku cemburu, Aku tidak tahan jika pemandangan menyakitkan seperti ini terus menerus ada di depanku.'


Kirana dan Aezar nampak bahagia, ini juga pertama kalinya mereka bersama dan santai seperti hari ini, kalau tidak sengaja libur bersama, pasti hari bahagia ini belum tentu bisa dia lalui.


Mereka berdua langsung ke dapur dan melewati Reyhan seperti orang asing.


"Ana, aku bantu memotong wortel sama tomat ya!" pekik Aezar saat mencuci tangan di wastafel.


"Boleh." Jawab Kirana lalu membantu memakaikan celemek untuk calon suaminya.


Saat memakaikan celemek, Aezar terus menatap Kirana sambil sedikit membungkuk, sedangkan Kirana harus menjinjit karena perbedaan kontras tubuh keduanya.


"Dokter, apa yakin bisa?" kata Kirana bahagia.


"Bisa, asal beri contoh ukuran dan bentuknya."


"Baiklah, wortelnya kita potong seperti ini, biar cantik seperti bunga." Kirana mengajari memotong wortel setelah mengupasnya.


"Hem, oke ini pekerjaan mudah."


"Tentu ini mudah bagi anda, karena setiap hari yang anda pegang pasien," ujar Kirana."


"Baiklah, apa seperti ini?"


"Good Dokter." Kirana menunjukkan jempolnya


"Auhhh," tiba-tiba Aezar mengaduh.


"Kenapa Dokter?" Kirana segera meninggalkan pekerjaannya memotong bawang, dan menghampiri Aezar.

__ADS_1


"Anda terluka?" tanya Kirana.


Aezar mengangguk "Iya, sakit sekali." Aezar menggenggam salah satu ujung jarinya, ekspresinya seperti orang yang menahan sakit.


"Izinkan aku melihat."


"Jangan! nanti pasti juga sembuh sendiri." Aezar menolak, akan tetapi Kirana semakin penasaran untuk melihat lukanya.


"Tuan Dokter, izinkan aku melihat." Kirana merebut jari Aezar dan panik.


"Mas, dimana lukanya?"


"Di sini, di ujung jari," kata Aezar sambil tersenyum.


"Dimana? Aku tidak melihatnya." Kirana masih mencari luka yang dikeluhkan oleh Aezar. Lama-lama Kirana sadar kalau Aezar sedang mengerjainya.


"Tidak ada luka, anda sangat usil Tuan." Kirana mencubit pinggang Aezar.


Lelaki itu seketika memekik. "Auhhh, hehehe, maafkan aku Sayang, Aku sengaja mengerjaimu." Aezar langsung merengkuh tubuh Kirana dan memeluknya manja. Tak lupa sebuah kecupan yang kesekian kalinya mendarat lagi di keningnya.


"Mas, udah, jangan usil deh, nggak kelar-kelar nanti masaknya."Kirana melepaskan diri dari Aezar dan mulai melanjutkan masak.


'Aku tahu apa yang kamu lakukan semua hanya pura-pura, kamu hanya ingin membuat aku sakit hati Ana, kamu membalas semuanya dengan cara seperti ini, menyakiti aku berlahan, dan sengaja ingin aku cemburu kan.' batin Reyhan yang melihat aktifitas Aezar dan Kirana di dapur.


Aku tidak akan menyerah,sampai detik ini aku tidak akan menyerah Ana. Aku akan terus berusaha sebelum janur kuning belum berkibar.


"Ehmm. Maaf apa ada air di dapur? Air di ruang tengah kebetulan habis, dan aku sedang sangat haus." Kata Reyhan dengan sengaja ikut masuk ke dapur mengacaukan kebersamaan Kirana dan Aezar.


"Em, sepertinya masih banyak Tuan Rey." Aezar yang menjawab, sedangkan Kirana memilih untuk melanjutkan aktifitas memasaknya.


"Oh iya, apa aku boleh minta tolong?" kata Reyhan lagi. Tumben lelaki itu bersikap begitu baik. Aezar mengira Reyhan sudah berubah dan mulai bisa menerima hubungannya.


"Minta tolong apa?" tanya Aezar.


"Aku butuh teman untuk lari pagi, sambil ada sedikit masalah kantor yang ingin aku bicarakan, tolong temani aku, akan sangat menyenangkan jika tubuh kita mengeluarkan keringat di pagi hari."


"Hmmm, Sayang bagaimana menurutmu?" Tanya Aezar pada Kirana, lelaki itu sebenarnya malas untuk melewatkan moment langka bersama Kirana seperti hari ini, tapi rasanya sangat tak pantas jika menolak ajakan Reyhan jika tanpa ada alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Baiklah." Aezar memilih untuk menemani Reyhan dan lari- lari pagi setelah mendapat izin dari Kirana.


"Sayang, aku akan segera kembali," kata Aezar.


"Baiklah, biar aku melanjutkan menyiapkan sarapan," kata Kirana.


Reyhan tentu bahagia, untuk sementara Aezar akan bersamanya.


***


Dua lelaki tampan berlari menuruni jalan berbukit, Aezar dan Reyhan berlari pelan-pelan dengan posisi bersebelahan, sesekali mereka menghentikan larinya dan berubah menjadi jalan pelan-pelan, setelah suasana berubah menjadi santai mereka lalu membuka percakapan.


"Tuan Aezar, anda ini lelaki yang sangat sempurna, kenapa anda memilih untuk mencintai mantan istri saya?" tanya Reyhan yang berusaha bicara baik-baik tanpa menyinggung siapapun.


"Kenapa Tuan? sudah mantan kan? Bukankah setiap orang berhak melabuhkan hatinya kemana saja untuk mendapatkan kenyamanan, termasuk hati dan cinta saya untuk Kirana. Begitu juga anda pada Nona Clara." kata Aezar sengaja memperjelas semuanya. Supaya Reyhan sadar kalau dia juga punya Clara.


"Aku baru menyadari kalau ternyata cintaku sebenarnya bukan untuk Clara. Tapi cinta ini untuk Kirana." Reyhan masih berlari pelan, tetapi Aezar yang mendengar ucapan Reyhan baru saja, mendadak berhenti, hatinya terasa membeku.


Melihat Aezar berhenti, Reyhan kembali mendekati Aezar. "Andaikan aku memiliki kesempatan kedua, aku akan berjanji untuk membuatnya bahagia," kata Reyhan lagi.


Reyhan menatap tajam pada mata Aezar, seolah dia sedang meyakinkan lelaki itu kalau ucapannya tidaklah bohong. "Aku akan selalu menjadi penghalang hubungan kalian, karena kita memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin memiliki wanita yang sama."


"Kenapa kau mempermainkan perasaan Kirana sejauh ini? Disaat dia memilih bersamaku, kau datang untuk menghalangi semuanya, disaat dia disampingmu kau malah memilih wanita lain? Ini namanya kau mempermainkan perasaannya."


"Maaf Tuan Aezar, seperti yang kukatakan tadi aku terlambat menyadari cintaku pada Kirana. Aku terlalu bodoh. Bisakah kau berikan kesempatan kedua itu untukku?"


Aezar menatap Kirana balik, sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana pendek. "Tidak mungkin, Tuan Rey terhormat. Kirana bukan barang atau pakaian, yang selesai dipakai bisa di buang atau diambil lagi, dia cintaku, belahan jiwaku, tidak mungkin aku melepas untuk siapapun, termasuk kamu," tegas Aezar.


"Reyhan tersenyum. "Sudah kuduga, kamu tidak akan mudah melepasnya." Reyhan menepuk pundak Aezar. Mereka berdua kembali berlari sambil beriringan.


Reyhan dan Aezar nampak saling diam, hanya sesekali saja dia mengusap peluhnya dengan menggunakan handuk kecil.


Setelah merasa lari pagi ini terlalu jauh. Aezar meminta kembali pulang, dia takut Kirana akan menunggunya terlalu lama dimeja sarapan. Aezar berencana usai sarapan akan segera balik ke kota saja.


Setelah mereka tiba di depan Villa Aezar mengingatkan Reyhan lagi. "Maafkan aku kawan, jika aku masih menghembuskan nafas di dunia ini, aku tak akan melepas dia untuk siapapun. Cintaku pada wanita yang juga anda cintai itu sangatlah besar. Jika anda ingin memilikinya mungkin kesempatan itu akan ada jika aku sudah tak lagi memijakkan kaki di dunia ini, dan nafasku berhenti untuk berhembus. Tapi jujur aku salut dengan keberanian anda memintanya padaku," kata Aezar sambil menatap Kirana yang terlihat mondar-mandir, sudah menunggu.


Reyhan diam tanpa sepatah kata mendengar ucapan Aezar, tak percaya kalau cinta dokter muda pada wanita yang dulu dia sia-siakan itu begitu besar.

__ADS_1


*Yuk emak dikasih, like, komen dan vote ya. setangkai bunga juga boleh.


__ADS_2