
"Ana, kamu menuduhku?"
"Siapa lagi Rey, yang bisa melakukan semua itu selain kamu? bukankah kamu akhir-akhir ini ingin aku kembali padamu? Kamu gencar meminta Aezar untuk melepaskan aku. Ingat, aku bukan barang yang bisa kau pakai lalu kau buang sesukamu." Kirana menangis sesenggukan mengingat semua kelakuan Reyhan dulu dan sekarang. Bagi Kirana keberadaan Reyhan sekarang semakin membuatnya terluka.
"Tapi bukan berarti aku yang melakukan hal hina ini, aku masih punya hati nurani?" Reyhan membela diri.
"Hati nurani? Kamu tidak punya Rey? Kamu tidak pernah punya hati nurani. Kamu lelaki paling egois di dunia ini." Kirana berkata dengan nada tinggi, sorot mata penuh benci itu begitu terlihat jelas. Reyhan tidak sanggup menatapnya.
"Aku akan memperbaiki semuanya?" Cicit reyhan menunduk.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki Rey, pergilah saja dari hidupku, anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
"Kirana, aku mohon beri aku kesempatan kedua."
"Tidak akan ada Rey, yang kuberikan padamu dulu bukan hanya kesempatan kedua, tapi kesempatan yang entah berapa ribu kali, tapi kamu terus menutup mata dan telingamu, dan kamu hanya mendengarkan Clara."
"Dia selalu terlihat lemah di depanku Ana, dia selalu berkata kalau terluka karena pernah menolongku dulu."
Kirana menitikkan airmata, mengingat Reyhan sampai saat ini belum juga tahu sesungguhnya siapa yang menyelamatkannya. Kirana tidak lagi ingin memberi tahu, meski Reyhan tahu dan percaya padanya saat inipun tidak ada guna. Hubungan Kirana dan Reyhan sudah tidak ada yang tersisa selain hanya kenangan pahit dan kebencian.
"Pergi Rey, keberadaan mu disini tidak lagi aku butuhkan."
"Ana ...."
"Aku yakin kamu sudah mendengar Rey, tidak perlu aku mengulang kalimat yang sama."
"Kau sungguh membenciku Ana?"
"Iya, aku tidak akan memaafkanmu, bahkan aku akan mengusut kasus ini sampai tuntas, dan menjebloskan kamu ke penjara."
"Baiklah, lakukan apa yang kamu mau. Aku akan selalu mendukung dan menunggu," kata Reyhan yakin kalau dirinya tidak bersalah.
Kirana tersenyum masam, membuat Reyhan semakin frustasi. Reyhan tahu jika ingin kembali pada Kirana pasti akan melewati sebuah jalan yang sangat sulit. Penolakan Kirana nampak tidak main-main.
"Jika kamu tidak ingin melihatku saat ini, baiklah aku akan pergi dari kamar ini, tapi aku mohon jangan usir aku juga jika aku tetap ada diluar kamar ini. Untuk saat ini tak ada yang lebih penting selain melihat kondisi dirimu membaik Ana."
Lagi lagi Kirana tersenyum masam sambil memalingkan wajah dari Reyhan.
__ADS_1
Reyhan keluar kamar dengan langkah kucing, tak meninggalkan suara dan terkesan berat untuk pergi. " Ana aku tunggu di luar." katanya lagi sebelum menutup pintu.
Kirana tidak peduli, menjawab pun enggan. wanita itu memilih kembali berbaring. Kirana merasakan hidupnya kini seolah tiada arti lagi. Bayangan kebersamaan dengan Aezar beberapa hari lalu kembali terlintas, tatapan matanya yang selalu menyejukkan jiwa, sentuhan lembut tangannya pada setiap helai rambut yang terurai, kecupan bibir basah di keningnya. Semua terasa begitu indah. Tapi kini jiwa yang begitu dia rindukan itu tidak akan lagi kembali, Kirana tidak akan lagi mendengar panggilan sayang dari bibir lelaki pujaan hati yang mencintainya dengan tulus itu.
"Aaaaaaa." Kirana berteriak histeris dalam keputusasaan. Kirana tak lagi bisa berfikir jernih dan menerima semua itu sebagai musibah. Rasanya hidup yang dijalani begitu sulit dan menyedihkan.
"Tuhan, apakah aku tidak pantas bahagia hingga kau memanggilnya lebih cepat, kenapa tidak sekalian kau ambil nyawaku biar derita ini tidak pernah aku rasakan." rancau Kirana saat tengah sendiri.
Mata Kirana menjadi basah dan sembab. Kirana segera memeluk mama setelah wanita tua itu masuk. "Ma, aku berharap hari ini adalah mimpi, hingga aku tidak benar- benar merasakan kenyataan pahit kalau Aezar telah pergi."
"Nak, bersabarlah, Tuhan kembali menguji kesabaran yang kau miliki, jangan putus asa dengan ujian Tuhan, karena Tuhan kita tidak akan menguji hambanya melebihi kekuatan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.
Kirana mendengar setiap ucapan mamanya, tangisnya tidak bisa di tahan lagi. "Ma, apakah Ana tidak pantas untuk dicintai? Jika memang iya, Ana berjanji tidak akan jatuh cinta lagi. Biarlah Aezar menjadi cinta terakhir Ana, Ana tidak mau jatuh cinta lagi, Ma." Ana semakin tergugu.
Heni semakin bingung melihat Ana yang begitu sulit menerima kenyataan. Tapi Heni yakin Ana berlahan akan bisa memulai hidupnya lagi tanpa Aezar. Heni tahu putrinya kuat, Kirana bukan gadisnya yang lemah.
***
Seminggu kemudian Kirana sudah diizinkan pulang. Kondisi Kirana berangsur pulih setelah dua minggu di rawat di rumah sakit.
"Niko, tolong pikirkan satu hal, bagaimana aku bisa bertemu dengan Kirana setiap hari. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang sebelum melihatnya, Nik" kata Reyhan pada Niko, lelaki itu terlihat gelisah sambil terus menatap ke arah luar jendela, padahal di atas meja terdapat setumpuk berkas yang harus ditandatangani dan diperiksa
Niko nampak diam. Niko sudah memiliki ide, tapi dia takut jika Reyhan akan merasa direndahkan jika mengikuti rencana yang ada dalam pikirannya.
"Nik, kenapa diam, aku sedang butuh ide briliant yang sering kau temukan secara tiba-tiba." Desak Reyhan pada asistennya yang begitu setia.
Niko mengatakan idenya pada Reyhan. Lelaki itu seketika langsung setuju mendengar ide briliant dari Niko. Reyhan tidak keberatan meski dia harus pura-pura bekerja menjadi kurir yang pura pura mengantar makanan.
Esok hari, Reyhan berpenampilan layaknya seorang kurir, Reyhan memakai kumis palsu dan topi serta seragam yang tidak jauh beda dari pengantar paket yang setiap hari keliling dari satu rumah ke rumah lainnya.
Niko, apakah Kirana masih mengenaliku?"
"Em, sepertinya tidak Tuan."
"Baiklah, aku akan kesana sekarang. tolong handle pekerjaan di kantor."
Reyhan segera meluncur ke rumah Kirana. Reyhan bertindak sangat hati-hati supaya tidak ketahuan, demi mendapatkan maaf dari Kirana Reyhan rela melakukan hal yang bisa dibilang konyol.
__ADS_1
Kirana yang sedang menjemur diri, sangat kaget ada kurir datang, seingat dia tidak pernah memesan apapun secara online dalam minggu ini. Kirana merasa tubuh dan langkah kaki lelaki itu tidak asing, tapi Kirana takut jika dia sedang berhalusinasi. Kebencian yang nesar pada Reyhan membuat semua orang memiliki ciri yang sama seperti lelaki itu.
"Nona, ada paket untuk anda." Suara lelaki itu nampak pelan dan lirih.
"Anda mungkin salah orang, aku tidak memesan paket dalam minggu ini."
"Maaf Nona, seorang pria meminta saya untuk mengantar paket ini untuk anda."
"Siapa?" Kirana berusaha mencari tahu.
"Ini paket sarapan sehat untuk anda, lelaki yang mengirim paket ini sepertinya sangat perhatian pada kesehatan anda, Nona."
"Bawa paket itu kembali, sepertinya saya tidak mengenal pemiliknya, saya juga tidak bisa menerima apapun dari orang yang pengirimnya belum jelas. Anda pasti salah kirim."
"Tidak Nona, bahkan bukan hanya sarapan saja yang akan anda terima, Tuan Reyhan meminta saya mengirim makan siang pada siang nanti dan juga makan malam."
"Reyhan?"
"Iya Nona."
"Mas, aku mohon bawa pergi menu sarapan itu, dan katakan pada Reyhan aku sudah sarapan, aku tidak butuh makanan apapun darinya. Jangan pernah antar makanan apapun lagi kesini."
"Anda yakin Nona?"
"Ya."
"Tapi jika saya gagal membujuk anda menerima menu makanan ini, pekerjaan saya jadi taruhan Nona," kata Reyhan yang pura pura jadi kurir.
Kirana terdiam, dia memikirkan nasib kurir di depannya. Tapi dia juga tidak bisa menerima makanan itu. Reyhan selama ini juga bukan tipe lelaki yang suka bercanda.
Kirana melihat kucing yang sedang bermain di dekatnya. "Berikan pada kucing itu, dan katakan pada Reyhan kalau jangan pernah mengantar apapun lagi. Katakan aku tak akan pernah memakannya."
"Baik Nona." Reyhan memberikan sarapan kesukaan Kirana itu pada kucing. Kentucki lobster jumbo kesukaan Kirana yang harganya tak murah itu pagi ini membuat perut kucing menjadi kenyang.
Sedangkan Jeni yang berlari ke luar Amerika hilang bagaikan ditelan bumi setelah mendapat bayaran yang banyak dari Clara, Clara rupanya bertekat menjual sepuluh persen saham yang dimiliki hanya untuk membujuk Jeni agar bersedia mengikuti rencananya. Jeni bagaikan makan buah simalakama, jika menolak keinginan Clara, Keluarga Jeni dikampung sedang dalam bahaya. Jeni tidak mau hal buruk terjadi pada keluarganya.
*Happy reading
__ADS_1