Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 37


__ADS_3

Ketika mendengar Kirana akan bercerai, Atmaja ikut sedih karena dia tahu Kirana sudah begitu cinta mati sama Reyhan. Atmaja takut kalau Kirana akan depresi.


Kirana memeluk Sang Papa. Papa merasa lega putrinya bisa tersenyum. Hal yang dia takutkan ternyata tidak terjadi.


"Sebagai orang tua, Kami hanya bisa mendukungmu. Kamu sudah dewasa dan cukup bijak untuk bisa memutuskan."


"Papa, jangan sedih lagi. Papa sakit pasti sudah tahu semua tentang Kirana. Iya kan? papa pasti diam diam suruh orang untuk awasi Kirana." Kirana mengerucutkan bibirnya. Kirana tahu persis watak papanya, bagaimana papanya dulu juga meminta tangan kanannya untuk mengawasi dirinya saat kemping.


Atmaja hanya tersenyum. "Pa, sudah ku bilang jangan suka menyuruh orang untuk awasi Kirana, Kirana tidak suka."


"Tidak Nak, papa janji."


"Duh, yang lagi kangen sama Papa, lupa ada kita yang nunggu di bawah." celetuk Mama.


Aezar dan Mama rupanya menyusul Kirana yang sejak tadi bersama Atmaja.


"Kirana, karena ini sudah malam, sebaiknya aku pulang dulu, besok aku jemput kamu lagi."


"Tapi besok aku ada rapat penting Za, aku sepertinya ikut balik kamu saja."


"Hem, baiklah. Kalau begitu kita balik sekarang mumpung belum terlalu malam." Aezar menarik tangannya yang sejak tadi di sembunyikan di saku celana.


Kirana segera pamit pada kedua orang tuanya. Dia berjanji akan kembali pulang pada hari minggu nanti.


Sebelum pergi Kirana menunjukkan kotak beludru warna merah berisi cincin pemberian Aezar pagi tadi.


"Zar ini milikmu kan?" Kirana mengulurkan cincin pemberian Aezar ke hadapan lelaki itu.


Aezar tekejut, mengira Kirana menolak lamarannya yang belum diterima itu. "Iya, tapi aku meminta kamu menyimpannya."


"Bukankah cincin ini untuk dipakai, kenapa harus disimpan." Kirana tersenyum.


Binar kebahagiaan langsung terlihat di wajah Aezar. "Kirana, apa artinya ...."


"Ya, aku menerima lamaran mu. Pakaikan sekarang sebelum aku berubah pikiran lagi," kata Kirana.


"Kirana, apakah aku bermimpi?"


"Tidak Dokter. Kamu tidak sedang bermimpi." Kirana mencubit bahu Aezar.


Aezar meringis kesakitan. "Auh sakit, benar aku tidak bermimpi."


Kirana mengulurkan jemari lentik yang baru saja di percantik di salon pagi tadi. Aezar dengan hati-hati memasangkan cincin berlian ke jari manis Kirana. Lalu lelaki itu mengambil pasangan cincin milik Kirana, hanya saja ukurannya sedikit lebih besar dan memberikan pada Sang Wanita.

__ADS_1


Kirana memakaikan pada jari manis Aezar. Terlihat sekali telapak tangan Aezar dingin. Lelaki itu sepertinya nervous.


"Kirana, terima kasih sudah menerima aku menjadi calon suamimu." Aezar bingung harus berkata apa, sampai-sampai semua yang ingin diucapkan hanya sebatas di angan saja.


Kirana mengangguk. Semoga ini awal yang baik buat hubungan kita."


Papa dan Mama terharu melihat Kirana sudah bisa melupakan Reyhan, Sejak awal cinta mereka memang terlalu dipaksakan. Doa orang tua semoga Kirana dan Aezar benar-benar berjodoh.


"Nak Aezar, tolong jaga putri kami." kata Mama.


"Siap Om, Tante." Aezar menggengam tangan Kirana.


**


Di mobil.


"Za, aku minta maaf, Aku melakukan semuanya tadi di depan papa, supaya dia tidak selalu mengkhawatirkan aku."


"Aku tahu Kirana," Aezar tetap fokus mengemudi. Firasat Aezar benar kalau Kirana tadi hanya bersandiwara di depan orang tuanya.


"Aku akan sabar menunggu sampai cinta untukku benar-benar hadir dalam lubuk hatimu yang dalam, bukan karena kamu kasihan padaku semata" kata Aezar dingin, sedingin kulkas dua pintu.


"Papa sakit karena memikirkan aku, dengan begitu dia mengira kalau keadaanku tidak seburuk yang dia pikirkan."


"Tidak, sama sekali aku tidak marah, Justru aku senang kamu selalu jujur." Aezar berusaha tersenyum meski salivanya terasa begitu pahit.


Setelah dua jam berlalu, Aezar dan Kirana sudah tiba di apartemen. Aezar memilih langsung pulang karena merasa sangat lelah.


***


Esok hari. Suasana perusahaan induk nampak sepi, hanya ada beberapa gelintir karyawan yang masih bekerja. Kirana yang baru datang merasakan sebuah kejanggalan besar, sesuatu pasti sedang terjadi dengan perusahaan induk.


Kirana datang ke lapangan untuk memeriksa proses proyek perusahaan, tapi beberapa hari ini perusahaan lagi tidak dalam kondisi baik, dan Kirana kehilangan cukup banyak karyawan.


Kirana menyadari kejanggalan, kemudian sibuk memeriksa dan menemukan bahwa beberapa hari ini ada orang yang sengaja mendesak karyawan lain untuk mengundurkan diri.


Setelah dicek, beberapa karyawan itu akhirnya pindah ke perusahaan milik Reyhan, Tidak hanya itu saja, bahkan beberapa proyek yang sebelumnya didapatkan Kirana juga langsung menghilang begitu saja karena hilangnya karyawan inti.


Kirana tahu jelas kalau dirinya kehilangan beberapa proyek ini, maka usaha sebelumnya akan hilang begitu saja, apalagi waktu yang diberikan jajaran direksi kepada Kirana juga sudah tidak banyak lagi.


Reyhan mendatangkan panggilan untuk kedua kalinya, dan berjanji kepada Kirana, asal ia meminta maaf kepada Clara, dan menjauhi Aezar, maka semuanya akan kembali normal.


Kirana terdiam, ia tidak menyangka kalau Reyhan akan begitu gila membela Clara, dan bisa-bisanya hanya demi untuk meminta maaf kepada Clara, Demi apa? Hati Kirana sepenuhnya mati, ia pun langsung memutuskan panggilan dari Reyhan.

__ADS_1


Jeni yang masih setia segera masuk ke ruangan Kirana. "Bu Kirana, bencana besar sedang terjadi. Perusahaan Pak Reyhan menarik Klien dan Karyawan. Mereka menawari untung sangat besar pada klien, dan gaji yang besar untuk karyawan. Siapa yang tidak tertarik


"Ada apalagi ini?" Kirana yang sudah pusing dengan grafik perusahaan yang turun drastis, Reyhan yang terus mendesaknya. Kini kembali dipusingkan dengan cuap-cuap jeni


Kepala Kirana kembali terasa berdenyut. Dia tidak menyangka Reyhan benar-benar membuktikan ucapannya. Kirana duduk lemas sambil memegang keningnya yang semakin pening.


Sesaat Kirana berfikir kalau Aezar pasti bisa membantunya, tapi keinginan itu segera ia tepis begitu ingat perasaan lelaki itu. Kirana tidak mau terlalu merepotkan Aezar yang sibuk dengan pasiennya.


Kirana mencoba menghubungi para klien, mereka semua susah di hubungi, ada yang mengabaikan begitu saja, ada yang beralasan sibuk.


Satu satunya yang menerima panggilan Kirana hanya Fiona. Kirana lega Fiona masih berpihak padanya.


"Hallo Fiona."


"Hallo Kirana."


"Syukurlah kamu masih mau menerima panggilanku."


"Iya Kirana, aku sudah tahu, kau jangan sedih ya, aku nggak akan ninggalin kamu ko."


"Sepertinya aku akan gagal Fio, aku akan kehilangan perusahaan induk karena aku bodoh dalam mengelola bisnis."


"Jangan pesimis, Kirana. Banyak mereka yang nyaris bangkrut tapi mereka malah berhasil bangkit dan berdiri kokoh."


"Bagaimana bisa?"


"Menikahlah dengan, Aezar."


"Aezar terlalu sempurna untuk wanita seperti ku Fio."


Fio tertawa. "Tak ada pilihan Ana, perusahaan kamu dalam bahaya. Kamu tidak mungkin mengalahkan Reyhan."


"Terimakasih Fio, baiklah aku akan memikirkan saran dari kamu." Kirana segera menutup panggilannya. Saran dari Fiona begitu konyol. Kalaupun dia menikah dengan Aezar, tidak mungkin karena alasan ingin menyelamatkan perusahaan.


Kirana sangat kesal, dia meremas rambutnya frustasi. Tanpa sadar dia menangis membayangkan perusahaan milik keluarganya akan tinggal nama saja.


***


"Tuan, para klien sudah banyak yang membatalkan kerja sama dengan Nyonya Kirana, dan berpihak pada kita. Bahkan karyawan yang bekerja di kantor maupun produksi sudah berbondong-bondong pindah ke perusahaan anda. Nona Clara pasti akan semakin menyayangi anda karena anda selalu menuruti apa yang anda inginkan," kata Niko, kalimat Niko baru saja mengandung sebuah sindiran, akan tetapi Reyhan entah merasakan atau tidak.


Reyhan baru sadar kalau beberapa hari lalu, dia meminta Niko untuk melakukan semua itu, dan hasilnya saat ini baru terlihat.


Reyhan diam saja tak menjawab kalimat panjang dari Niko, dia bingung harus bahagia atau sedih karena bisa menunjukkan pada Kirana kalau ucapanya memang tidak pernah main-main.

__ADS_1


__ADS_2