
Kirana ingin segera meninggalkan Mall, seleranya berbelanja mendadak jadi hilang, Kirana merasa dunia pun mendadak menjadi sempit, Kemanapun dia pergi Reyhan pasti ada juga di sana.
Sebelum masuk ke dalam mobil, sekilas Kirana melirik ke atas, terlihat Reyhan melambaikan tangan dari lantai tiga.
Kirana melengos mendapati Reyhan yang terus menggodanya seperti anak ABG.
"Nyonya, sepertinya Tuan Reyhan mati-matian ingin kembali dengan anda."
"Tapi aku senang sendiri seperti ini Bi, Jujur aku masih sangat mencintai Aezar. Tapi cintaku dengan Aezar tidak direstui oleh Tuhan. Dia pergi meninggalkan aku sendiri di dunia ini." Kirana memelankan laju mobilnya. Kirana ingin belok ke makam Aezar, sudah lama dia tidak berkunjung ke makam calon suaminya yang telah tiada itu. .
Kirana membeli seikat bunga di depan makam. Kebetulan di dekat gawang masuk ada penjual bunga.
Kirana meletakkan bunga diatas makam Aezar. "Eza, sampai kapanpun aku akan merindukan kamu, kamu lelaki yang paling hebat yang pernah aku temui, lelaki yang baik yang menerima aku apa adanya. Lelaki yang percaya padaku disaat semua orang tidak percaya, disaat aku terpuruk kau yang membantuku untuk bangkit. Oh ya ... Eza orang yang telah melakukan ketidak adilan padamu dia sudah menuai karmanya, Clara akan ditahan dalam penjara seumur hidup dan tak akan pernah bisa lepas dengan sebuah jaminan saja. Dokter juga bilang kalau kaki Clara akan diamputasi dua-duanya, Clara akan kehilangan kedua kakinya." Kata Kirana panjang lebar diatas makam Aezar. Kirana sebenarnya juga kasihan melihat Clara yang begitu memprihatinkan, tapi bagaimana lagi, semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, kecelakaan itu bukan Kirana yang melakukannya.
Kirana selalu menangis setiap ingat detik terakhir Aezar menyelamatkan dirinya dari sebuah truk besar, Aezar tidak takut mati demi dirinya, dia tidak ingin melupakan Aezar dan pengorbanannya dengan begitu saja, belum lagi keluarganya juga sangat baik.
"Nyonya, sudah hampir sore, bagaimana kalau kita pulang saja. Anda juga selalu seperti ini setiap ada di makam Tuan Aezar." Bibi tidak ingin kirana terus bersedih.
__ADS_1
"Iya Bi, entahlah berpisah dengannya sangat menyakitkan buatku, ini sangat sulit sekali." Kirana bangkit dari duduknya di sebelah makam. Kirana beranjak pulang setelah matahari mulai menyingsing ke arah barat.
Setelah keluar makan, Kirana melihat mobil Reyhan yang sudah bertengger di pinggir jalan. Dengan buru-buru Kirana pergi, entah kenapa rasanya sangat malas jika harus bertemu dengan Reyhan lagi.
"Nyonya, Tuan Reyhan sepertinya mati-matian berjuang ingin kembali dengan anda," kata Bibi.
"Jangan pedulikan dia, lebih baik kita pulang saja," kata Kirana.
"Tapi Nyonya, aku jadi kasihan sama Tuan Reyhan," kata Bibi sambil menatap Reyhan yang juga menatapnya dari kejauhan.
"Kalau gitu gimana kalau bibi yang nikah sama dia," canda Kirana.
Kirana segera masuk ke mobil. Dari arah berlawanan, Raka datang menghadang mobil Kirana yang hendak melaju.
Kirana keluar kembali dan mereka bersua. Kirana menunjukkan wajah bahagia. "Kirana, aku mencari mu ke rumah, tidak tahunya kamu ada disini?"
"Iya, Raka. Aku baru saja dari Mall lalu mampir ke makam."
__ADS_1
"Oh, tuhan. Aku sangat panik." Raka meraih kedua jemari Kirana. Kirana membiarkan Raka bersikap demikian, berharap agar Reyhan melihatnya.
Usaha Kirana berhasil, Reyhan sepertinya melihat dengan baik pemandangan di depannya.
Reyhan ingin sekali datang dan menghajar saudara kembarnya yang telah lancang mendekati mantan istrinya, yang sebenarnya belum resmi bercerai itu.
Mereka belum bercerai karena sampai saat ini Reyhan tidak membiarkan Kirana membuat perceraian berjalan dengan mulus. Surat yang diajukan oleh Kirana ditolak pengadilan karena usaha keras Reyhan untuk mempertahankan pernikahannya dengan Kirana, Kirana sendiri melupakan semua berkas itu karena tengah berduka atas kematian Aezar.
"Raka. Aku sepertinya harus segera pergi dari sini, ada banyak yang harus aku kerjakan, sudah dua minggu lebih perusahaan aku tinggalkan." Kirana tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Raka.
"Oh, iya. Apa aku boleh ikut?"
"Raka, kamu ini ngomong apa sih, katanya kita teman." Kirana mengizinkan Raka ikut dan semobil. Kirana meminta sopir pribadinya untuk membawa mobil miliknya yang dipinjam Raka.
Kirana menoleh ke arah Reyhan yang berada dalam jarak sekitar lima puluh meter, dan dia tersenyum senang melihat Reyhan yang tidak mengganggunya karena ada Raka di dekatnya.
Usaha Kirana berhasil menyakiti hati Reyhan. Reyhan pergi ke arah lain tentu dengan hati yang terluka.
__ADS_1
"Kirana, menikahlah denganku supaya lelaki itu berhenti mengganggumu. Kamu juga butuh lelaki yang bisa menjagamu dan mencintai dengan tulus, bukan pecundang seperti Reyhan," kata Raka yang sangat membenci saudara kembarnya.