
"Niko, tangkap pelakunya, jangan biarkan dia lolos," pinta Reyhan dengan nada dingin.
Niko mengangguk lalu mengajukan pertanyaan pada Reyhan. "Bagaimana kalau pelaku itu adalah Nona Clara?" tanya Niko.
"Lakukan apa yang ku perintahkan, jangan pernah beri ampun pelakunya, beri hukuman yang pantas," kata Reyhan berucap tanpa ragu lagi.
"Tuan sudah yakin? Apa anda lupa kalau wanita itu yang telah menyelamatkan Anda dulu, atau jangan-jangan Anda mulai ragu dengan keyakinan anda selama ini," kata Niko lagi.
"Niko, sejak kapan kamu suka bertanya berulang kali? Sejak kapan hah?" wajah kesal Reyhan semakin terlihat.
"Baiklah Tuan." Niko mundur setelah mengangguk sopan. Lelaki itu segera pergi dengan mengendarai mobil
Niko segera meninggalkan rumah sakit tempat Kirana dirawat, sedangkan Reyhan kembali duduk di tempat yang selama seminggu ini menjadi tempat duduk favoritnya. Reyhan tidak peduli dengan tatapan kebencian dari keluarga Kirana, Keluarga Aezar, bahkan keluarganya sendiri yang kecewa dengan sikap dan keputusannya selama ini.
"Aku yakin Kirana tidak akan pernah sudi menerimamu lagi meski kau lelaki terakhir di dunia ini." Bagaskara mengingatkan putranya dan tersenyum sinis sebelum pergi.
"Aku akan terus berjuang sampai Kirana menerimaku, Pah."
"Kamu cukup keras kepala," ujar Bagaskara kali ini lelaki tua itu bisa melihat usaha putranya begitu sungguh-sungguh. Bagaskara hanya bisa mendoakan dalam hati saja sambil berlalu pergi.
Setelah semua pergi Reyhan mendekati Kirana, seperti biasa, menatapnya dari jarak dekat dan berharap akan ada keajaiban. Akan tetapi keajaiban yang diinginkan Reyhan belum kunjung datang, Kirana masih saja memejamkan mata, tubuhnya mulai susut karena hanya dari selang infus saja dia mendapatkan asupan makanan.
"Ana, ayo bukalah mata, Ada yang harus kau tahu Ana, aku akan kembali untukmu, aku berjanji akan membuatmu bahagia setelah ini," ucap Reyhan penuh kesungguhan.
__ADS_1
Reyhan menggenggam jemari lentik Kirana, yang diujung jarinya terdapat alat yang digunakan untuk mendeteksi jumlah oksigen dalam darah itu.
Reyhan hendak menciumnya, berharap Kirana agar tak merasa sendiri. Sebuah gerak reflek terjadi, Kirana menarik tangannya dari genggaman tangan Reyhan. Reyhan tentu terkejut dengan gerakan secepat kilat itu. Reyhan terperanjat dan dia terus mengamati tangan Kirana yang kembali diam tak bergerak.
"Ana, kamu bergerak? Ayo Ana, bergerak lagi, " Reyhan terus mengamati tangan Kirana yang kembali diam, Reyhan berharap bisa melihat secara langsung dan melihat lagi gerak yang serupa yang seperti dia rasakan baru saja.
"Ayolah ana, bergeraklah lagi, aku tahu kamu marah padaku, kamu boleh pukul aku sesukamu, atau kalau perlu tampar aku, lakukan lagi ana, aku tidak akan marah." Reyhan terus berharap Kirana mau menggerakkan anggota tubuhnya lagi.
Reyhan lalu menghubungi dokter lewat telepon yang tersedia di ruangan itu. Panggilan pada perawat segera tersambung. Dokter dan perawat tak lama langsung datang dengan beberapa peralatan lengkap.
"Dokter, aku melihat Kirana menggerakkan tangannya."
"Benarkah? berarti ini kemajuan yang sangat bagus, Perawat tolong segera periksa dia, apakah benar yang dikatakan oleh Tuan Reyhan?"
"Tuan, apakah anda yakin?" Tanya dokter lagi.
"Iya, aku sangat yakin Dokter, Kirana menepis tanganku saat aku menyentuhnya tadi," kata Reyhan lagi.
Dokter mengangguk, kejadian seperti yang diceritakan Reyhan memang bisa terjadi dan pernah terjadi, tapi itu sangat jarang. "Baiklah saya percaya Tuan, ini artinya ada perkembangan luar biasa untuk Nona Kirana, semoga tidak lama lagi saraf yang lainnya ikut aktif dan segera pulih dan bekerja kembali.
Dokter meminta perawat membantu memeriksa Kirana, memang ada banyak sekali kemajuan pada kondisi Kirana, berawal dari detak jantung yang terus membaik dan tensi darah yang mulai membaik pula.
"Perawat tolong pantau terus layar monitor yang yang tersambung ke ruangan ini, segera laporkan pada saya, jika anda kembali melihat Nona Kirana bergerak seperti tadi. jika gerakannya semakin sering, besar kemungkinan pasien akan siuman."
__ADS_1
"Siap Dokter." perawat mengangguk
***
Malam telah tiba, Atmaja meminta Reyhan untuk pulang. "Pulanglah Rey, Kirana bukan lagi tanggung jawabmu. Tak ada gunanya kau disini," kata Papa kandung Kirana.
Reyhan dengan santai menjawab. "Maaf Pah, aku tidak akan pergi dari sini sebelum Kirana siuman."
Reyhan tidak lagi memperhatikan penampilannya, kumis mulai memanjang dan rambut berantakan, begitu kentara kalau lelaki itu sedang bersedih.
"Jika kamu datang kembali hanya ingin menorehkan luka, sebaiknya pergi saja, Kirana sudah cukup menderita selama tujuh tahun, jangan kau beri derita lagi. Aku yakin setelah Aezar, di dunia ini masih ada lelaki lain yang nanti akan tulus mencintainya," kata Atmaja sambil beberapa kali menarik nafasnya panjang, terlihat sekali rasa kecewa yang dalam terhadap Reyhan hingga dia tega berujar demikian.
Atmaja juga tidak yakin kalau Kirana bisa melupakan Aezar dengan cepat setelah bangun nanti, mengingat akhir ini dia begitu bahagia setiap bersama dengan Aezar.
"Aku tahu papa kecewa dengan sikap saya terhadap Kirana dulu, tapi papa harus tahu kalau Reyhan yang dulu sudah kembali dengan sejuta penyesalan," ujar Reyhan dengan lemah lembut. sorot matanya lemah lembut, tidak ada tatapan tegas layaknya CEO.
"Haha, aku tidak yakin kau bisa berubah Rey, kalaupun kau berubah, aku tidak yakin Kirana mau kembali," ujar Atmaja sambil tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan kesedihan. "Lebih baik urus saja wanitamu yang paling kau cintai itu."
Reyhan hanya bisa menunduk, menyesal. Reyhan sadar, orang didekatnya tidak lagi menyukainya, bahkan kepercayaan yang mereka miliki juga sudah hilang, tapi Reyhan tidak butuh kepercayaan semua orang, yang dia butuhkan saat ini hanya bagaimana Kirana tahu kalau dia tidak akan menorehkan luka yang kedua kali. Bagaimana Kirana akan melihat perjuangannya nanti.
"Pah, beri kesempatan kedua untukku, aku yakin Kirana hanya mencintaiku, jika dia bersedia bersama Aezar, pasti itu sebuah penerimaan, Kirana ingin membuatku merasakan apa yang dia rasakan selama ini."
"Kamu salah, Kirana menerima Aezar dengan sepenuh hati, bahkan dia cerita semua padaku, kalau ternyata dia menyesal telah membuang waktu begitu banyak hanya dengan memikirkan kamu yang tidak pernah menganggapnya ada."
__ADS_1
"Ya, aku memang salah, aku memang berhak menanggung semuanya. Jika Papah ingin menghukum " Cicit Reyhan kembali menunduk, ketika berbicara dengan mantan mertuanya.