
"Aezar kita kemana?"
Sudahlah kamu ikut aja, kita cuma ke tempat yang bisa bikin otak kamu sedikit fresh.
"Iya tapi kemana, Za."
Aezar membawa Kirana ke sebuah bukit yang sangat tinggi, dibawahnya terdapat jurang yang terjal. Akan tetapi tempat itu masih terbilang aman dari longsor karena elemennya sebagian besar terdiri dari bebatuan. Pemandangan disekitarnya terlihat semakin indah ketika dilihat dari puncak ketinggian.
Aezar, tempat ini indah sekali, aku merasa seperti lahir kembali ke dunia baru yang subur." Kirana merentangkan tangannya.
Paru-paru Kirana menghirup udara yang terasa begitu segar, karena persediaan nitrogen yang melimpah.
"Kirana. kamu tahu setiap aku merasa sedih, aku selalu datang kesini, apalagi saat merindukan seseorang dimasa lalu," kata Aezar. Yang dimaksud orang dimasa lalu itu adalah Kirana sendiri.
"Kamu benar, Aezar. Tempat ini begitu indah. Aku nyaman ada disini. Aku betah." Kirana mengekspresikan diri kalau dia sedang bahagia.
Aezar ingin memeluk Kirana dari belakang, biar terlihat seperti Jack dan Rose dalam film Titanic, akan tetapi urung Aezar lakukan. Aezar takut Kirana tidak nyaman dan meminta pulang dengan cepat.
Aezar akhirnya memilih duduk dengan beralaskan rumput hijau. sedangkan Kirana masih berdiri sambil merentangkan tangan dan memejamkan mata.
Kirana ingin berteriak kencang. Berharap yang mengganjal di dada terasa lega.
Berteriak dengan sepuasnya memang tujuan Aezar membawanya ke tempat ini.
"Kamu boleh teriak sepuasnya. kamu akan merasa lega Kirana."
"Aaaaaa."
"Aaaaaa."
Kirana mengangguk. " Kamu benar, aku merasa sedikit lega, mungkin aku akan sering kesini ketika ada masalah. Kirana ikut duduk disebelah Aezar, Aezar tersenyum melihat kirana ada di sebelahnya.
"Pasti beban yang kamu rasakan berat banget, sampai kamu terlihat sangat suntuk.
"Reyhan menuduhku meracuni Clara dengan obat penggugur kandungan. Buat apa aku melakukan hal serendah itu, jika kehilangan bayi waktu itu sangat menyakitkan. Meski Reyhan waktu itu tidak mengakui anaknya, tapi aku sudah bertekat akan membesarkan seorang diri. Dan sekarang Clara dengan tega mengfitnah aku kembali."
__ADS_1
"Reyhan lelaki bodoh, dan Clara wanita licik, dan kamu terlalu sabar menghadapi mereka. Jadi aku harus bagaimana? Kirana izinkan aku untuk membantumu, biar aku buat Clara tidak lagi berani membuatmu terluka seperti ini lagi." Mohon Aezar.
"Aku pasti bisa menyelesaikan masalahku Za, ini masalah aku dan Reyhan, serta saudara angkat ku itu. Tak sepatutnya aku melibatkan kamu."
"Kamu selalu seperti ini Kirana." Aezar menatap kiranq.
Aezar menarik Kirana dalam dekapannya. akan tetapi bagi Kirana ini terlalu intim, sedangkan diantara berdua belum ada hubungan yang serius.
Kirana merubah posisi kepalanya yang tadi di peluk Aezar dengan bersandar di lengannya saja.
Aezar sesekali mengelus rambut Kirana. Sesaat Kirana merasa nyaman ada bahu yang menjadi penopang kepalanya yang terasa lebih berat.
"Kirana, apakah kamu mau coklat!"
"Pak Dokter bukankah coklat suka bikin gigi sakit?"
"Hmmm, benar. Tapi coklat juga bisa membuat orang sedikit tenang. Ambilah untukmu semua."
Kirana yang suka dengan coklat tentu tidak menolak. "Terimakasih."
"Hmmm. Sama-sama."
Aezar kesal telah menyiapkan wanita sebaik dan selembut Kirana, dia juga kesal dengan Clara yang tidak pernah tahu diri. Aezar diam diam mengepalkan tangannya. Sementara Kirana membuka satu coklat yang ada tambahan kacang mente di dalamnya itu.
***
Reyhan melamun sambil terus menatap ke arah jendela kaca. Reyhan tidak tahu kenapa tidak ada kebahagiaan yang ia dapatkan setelah berpisah dengan Kirana.
Jika itu keinginannya seharusnya dia bahagia. Bukankah tujuh tahun sudah penantian Clara dan Reyhan agar bisa menyingkirkan Kirana dan bisa menikah. Tapi kenapa keinginan untuk menikah itu tiba tiba hilang, yang ada justru cemburu ketika Kirana bersama yang lain.
"Tuan Rey, Nona Clara pingsan." Asisten Niko memberi tahu Reyhan perihal Clara yang tiba-tiba di temukan tergeletak di kamar mandi.
"Apa yang terjadi dengannya." Reyhan segera mematikan laptop dan bergegas pergi ke ruangan Clara.
Saat Reyhan datang Clara sudah kembali sadar dan ada beberapa orang disana menunggunya.
__ADS_1
"Clara apa yang sedang terjadi? Apakah kamu baik baik saja?"
"Rey, Bagaiman jika obat yang diberikan oleh Kirana mulai bereaksi, dan aku tidak bisa mempertahankan bayi ini?"
Reyhan segera duduk di sebelah Clara, memeluk Clara dan menenangkan.
"Aku yakin Kirana tidak serius melakukannya, obat itu pasti tidak ada dan dia hanya sengaja menakuti mu saja," Reyhan berusaha menenangkan Clara.
"Kenapa kamu yakin kalau Kirana tidak melakukannya? Apakah Kirana sekarang sudah benar-benar memiliki hati yang sangat baik."
"Kalian ngapain disini? Ini masih jam kerja." Kirana nampak kesal
Para karyawan bubar ke ruang kerja masing-masing. Mereka berbisik bisik tentang ucapan Clara mengenai Kirana. Mereka tidak percaya kalau Kirana akan memberi obat penggugur kandungan pada Clara. Ada sebagian yang percaya, ada sebagian yang tidak percaya karena setahu mereka Kirana baik dan ramah.
"Aku tidak percaya kalau Bu Kirana yang memberi obat pada Bu Clara, dengar-dengar Bu Clara yang merebut suami Bu Kirana. Tau sendiri pelakor pasti ada saja idenya," kata karyawan yang tadi sempat melihat Clara kesakitan.
"Bisa saja, Bu Kirana kesal dan memberi obat penggugur kandungan, kalau aku bukan hanya obat penggugur kandungan saja, racun tikus kayaknya lebih ampuh, biar ibu dan anaknya sekalian mampus," timpal yang lainnya.
"Sadis amat kamu. Jadi Bu Kirana nggak salah-salah amat. Pelakor nggak usah dibaikin."
"Bu Clara bukan pelakor, mereka saling mencintai. Tidak ada salahnya mereka bersatu. Bu Kirana pasti bisa bahagia dengan yang lain."
"Kamu kok ngomongnya gitu, Kamu pasti ada bakat jadi pelakor."
"Heyh, kok malah nyolot ke aku."
"Kamu bela pelakor."
"Siapa yang bela, aku cuma bilang kalau Pak Reyhan dan Bu Clara saling mencintai."
"Kalau saling mencintai kenapa semenjak bercerai Pak Reyhan nggak pernah senyum lagi kayak dulu, wajahnya selalu terlihat sedih dan kayak nyimpan beban."
"Udah hati-hati kalau ngomong. semoga aja yang bela Bu Clara suaminya direbut pelakor, biar tahu rasa.
Kalau grup gosip di perusahaan sudah bersatu, mereka akan terus berdebat sampai pulang. akan tetapi pembicaraan mereka terhenti ketika Reyhan dan Clara melewati mereka semua. Reyhan sengaja berdehem supaya Clara tidak mendengar lebih banyak lagi obrolan miring tentangnya.
__ADS_1
Clara menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam, Clara ingin sekali marah dan mencabik wajah para karyawan yang lancang berbicara buruk, akan tetapi semua itu masih dia tahan karena ada Reyhan didekatnya.
"Rey" Clara menggamit lengan Reyhan semakin erat. "Apa kamu tidak bahagia?"