Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 60. Aezar datang, Reyhan kesal


__ADS_3

Kini Reyhan dan Kirana kembali duduk-duduk di ruang tamu.


"Dingin ya?" tanya Reyhan. Kirana nampak gelisah sambil menggosokkan tangannya.


"Tidak," jawab Kirana singkat.


Reyhan tersenyum menatap wajah Kirana yang semakin hari semakin membuatnya terpesona. Lelaki itu segera pergi ke dalam kamar. Kirana acuh dengan kepergian Reyhan.


Lelaki itu lalu keluar setelah mengambil selimut yang terlipat rapi di lemari. Reyhan tahu itu selimut pernah dipakai Kirana satu kali saat menginap.


Reyhan lalu menyelimuti punggung Kirana, saat meletakkan selimut di punggung Kirana, Reyhan fokus menatap wajah Kirana.


'Kenapa aku baru menyadari kalau dia begitu cantik, tatapan matanya begitu teduh dan penuh ketulusan, kemana saja aku selama ini, sampai tak pernah melihat keindahan yang dia miliki, Oh hati kenapa baru kali ini kau merasakan getaran ini. Disaat dia pergi dan akan dimiliki oleh laki-laki lain. Beruntung sekali lelaki yang bisa memilikinya saat ini.' batin Reyhan sambil menatap wajah Kirana yang kedinginan.


"Pergilah Rey, terimakasih sudah mengambilkan selimut." Kirana membenarkan selimut yang di pasang Reyhan di punggungnya. Karena sibuk bermonolog dengan hatinya sendiri, gerakan tangan Reyhan dinilai Kirana terlalu lambat dan terkesan mencuri kesempatan.


Hari berlalu begitu cepat, untuk mengisi kesunyian kirana menyibukkan diri dengan membaca buku novel yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan.


Kirana sebenarnya sudah mulai lapar, dia tidak tahu harus makan apa, persediaan makanan di kulkas juga habis, hanya ada roti dan selai saja di meja yang sempat dia tinggalkan tadi.


Kirana menghampiri meja, tapi keberadaan roti yang dicari tidak ada. "Ana, apa kamu lapar."


"Tidak, aku hanya ingin minum," jawab kirana yang tentunya malu mengakui kalau sedang kelaparan.


Reyhan tersenyum sambil melihat kepergian Kirana yang kembali duduk di sofa depan.


Tak lama, Reyhan membawa keluar sepiring roti bakar, beserta secangkir teh hangat dan meletakkan di depan Kirana.


"Ini spesial untuk kamu." kata Reyhan sambil duduk di sebelah Kirana.


"Aku tidak tertarik memakan makanan buatan mu, Rey."


"Sudahlah Ana, makan saja. aku tahu kamu lapar kok." Reyhan mengambil satu potong roti bakar dan hendak menyuapkan ke mulut Kirana.


"Rey jaga batasan mu."Kirana mendelik, memperingatkan Reyhan agar tidak lagi lancang.

__ADS_1


"Jangan jual mahal, cacing diperut mu sedang demo."


"Sok tahu, kata Kirana membawa pergi laptop dan buku novel yang belum selesai dibaca.


Reyhan tertawa terkekeh. Kirana hendak pergi, rasanya engap harus satu sofa dengan lelaki yang sekarang berubah menyebalkan dimatanya itu.


"Nggak mau ya sudah, aku makan sendiri saja," kata Reyhan sambil menikmati roti bakar buatannya. Reyhan yakin Kirana akan menurunkan egonya dan tetap memakan makanan hasil eksekusinya.


Kirana pindah ke halaman belakang, malam ini dia menceritakan keadaan dirinya yang terjebak di Villa bersama Reyhan. Kirana juga menceritakan kenapa bisa ada di tempat yang sama dengan mantan suaminya.


"Mas, aku belum bisa pulang sekarang, tapi percayalah aku tidak melakukan apapun dengan lelaki itu itu ditempat ini."


"Aku percaya pada kamu sayang." kata Aezar meski saat ini kondisi hati dan ucapannya sama sekali tidak sinkron. Aezar percaya pada Kirana, tapi tidak bisa percaya pada Reyhan.


Sambil telepon lelaki itu sudah berangkat untuk menyusul Kirana.


"Terimakasih Mas," ujar Kirana.


"Apa kamu sudah makan, Sayang?" tanya Aezar.


"Baiklah, jaga diri baik-baik Sayang." Aezar dan Kirana sama-sama menutup panggilannya. Tidak tahunya Aezar sudah ada di depan rumah makan sederhana yang menjadi tempat langganan Kirana.


Aezar segera memesan dua bungkus nasi dengan ikan bebek goreng plus sambal lalap. Aezar tahu menu sederhana itu kesukaan Kirana, apalagi dimakan pas cuaca dingin pasti akan nikmat.


Setelah penjaga warung menyodorkan dua bungkus kotak nasi, Aezar segera menyerahkan uang cash dan segera pergi, Aezar juga memberikan semua kembaliannya pada penjaga warung itu.


Aezar segera melajukan mobilnya ke arah puncak, Aezar tidak kesulitan mencari Villa milik Kirana. Aezar pernah datang sekali ke tempat itu.


Ketika Aezar tiba di Villa, hujan masih deras. hanya saja angin sudah tidak sekencang tadi.


Melihat kedatangan Aezar, Kirana tentu langsung menyambutnya dengan membawakan payung. " Mas, aku nggak nyangka kamu datang, pasti kamu sangat capek ya langsung kesini setelah pulang dari rumah sakit.


"Tidak sama sekali, justru aku terus memikirkan keadaan dirimu yang takut sekali dengan petir," kata Aezar. Lelaki itu tersenyum lalu menyerahkan dua kotak makanan yang terbungkus kresek putih pada Kirana.


Kirana senang akhirnya lapar di perutnya akan segera terobati.

__ADS_1


Kirana membiarkan Aezar mengecup keningnya sebelum mereka berdua masuk.


Reyhan yang melihat Kirana bergandengan dengan Aezar dibawah satu payung tentu merasa cemburu. Apalagi tatapan mereka sesekali bertemu. Belum pernah Reyhan melihat Kirana tertawa seceria itu saat dulu masih bersamanya.


"Kenapa Dokter Aezar harus kesini, menganggu saja." Reyhan mengintip Aezar dan Kirana dari balik jendela kecil yang dilengkapi dengan gorden. Cukup dengan membuka gorden, semua pemandangan di luar Villa nampak sangat jelas.


Reyhan segera pergi dari ruang tamu begitu Aezar masuk. Reyhan pura-pura menyibukkan diri di depan laptop dan mengacuhkan keberadaan dua orang di depan matanya, akan tetapi iris mata hitam itu sesungguhnya tidak berhenti mengawasi gerak gerik Aezar dengan hati tak menentu.


'Sesakit inikah, ketika kita memiliki sebuah rasa cinta pada seseorang namun tak mendapat balasan. Sesakit inikah ketika wanita yang kita cintai bercumbu dengan lelaki lain di depan mata.'


Aezar dan Kirana duduk berdua di meja makan, Aezar memperlakukan Kirana sangat istimewa, Aezar menarik sebuah kursi untuk Kirana dan memintanya duduk. Aezar lalu menyusul duduk di dekat Kirana dan membuka kotak makan, lalu menggeser satu untuk sang kekasih.


Mata Kirana langsung berbinar begitu melihat didepannya adalah menu bebek goreng yang dibeli dari depot kesukaannya.


"Mas, kamu tau aja aku paling suka pesen makanan disitu."


"Iya, aku penasaran, enaknya gimana sih sampe Jeni sering kamu suruh beli disitu. Sayang"


"Coba aja biar nggak penasaran, lihat nih, nasinya aja putih dan pulen banget, dan sambalnya mantap banget. Pokoknya nggak kalah sama di restauran mahal." celoteh Kirana.


"Masa sih," Aezar penasaran dan mulai mengambil sendok dan menyuapkan suapan pertama pada Kirana.


"Kok yang pertama buat aku? buat kamu sendiri dong."


"Yang pertama buat orang yang kita sayangi," kata Aezar. Kirana langsung membuka mulutnya tanpa protes lagi.


"Kalau begitu suapan pertama dariku juga untuk kamu, orang yang saat ini sangat aku sayangi." kata Kirana langsung mengambil nasi dengan tangannya.


Dalam diam hati Reyhan terasa seperti disayat, melihat Kirana dan Aezar begitu bahagia. Mereka seolah saling melengkapi satu sama lain. Apalagi panggilan mesra 'Mas' dan 'Sayang' yang mereka sematkan.


Reyhan membuka tirai, melihat hujan mulai reda, dia segera keluar dan duduk di gazebo sambil menyalakan rokok. Ingin rasanya dia pulang sekarang juga, tapi sayangnya mobilnya masih di bengkel. "Hehehe, sepertinya tuhan sedang menghukum ku, supaya aku menyaksikan kemesraan mereka berdua sepanjang hari."


Visual Dokter Aezar (Versi author)


__ADS_1


*Visual Dokter Aezar versi author. Semoga suka ya.


__ADS_2