
Malam telah larut, Reyhan membahas masalah pekerjaan dengan Niko di ruangan khusus yang ada di apartement, tempat tinggal Reyhan usai berpisah dengan Kirana.
"Tuan Reyhan, sepertinya anda terlalu berlebihan pada Nona Kirana. Tak sepantasnya anda menggunakan kekuasaan untuk kepuasan prib...."
"Aku lebih tahu masalah pribadiku, Niko. Kamu urus saja pekerjaan mu. Sudah kubilang, antara Aku, Kirana dan Clara semua hanya aku yang paling memahami. Aku akan minta pendapat darimu jika aku memang membutuhkan." Reyhan terlalu angkuh untuk mendengar nasehat dari siapapun. Tetapi dari pembelaan Niko, Reyhan tahu kalau lelaki yang menjadi asistennya itu juga memihak pada Kirana.
Rayhan mengira Niko bersikap demikian karena dia menaruh simpati yang besar pada Kirana. Bagaimanapun Niko lebih mengenal Kirana daripada Clara.
"Baiklah, saya sekedar mengingatkan anda, maaf jika saya lancang." Nico berkemas lalu pergi meninggalkan apartement Reyhan.
Mereka saling pandang sesaat sebelum Niko benar-benar pergi. Niko mulai malas dengan sikap Reyhan yang melihat semuanya hanya dari sisi Clara.
Reyhan memikirkan kata-kata Niko dan termenung di depan tumpukan berkas. Untuk menenangkan diri Reyhan menyalakan lilin aromatherapi. Disaat wangi lilin mulai masuk ke rongga hidung, Reyhan menyandarkan kepala, tak lama matanya pun terpejam.
Baru saja terpejam sebentar, Reyhan merasa ada yang mengusik tidurnya.
"Rey!" Kirana menghampiri Reyhan dalam keadaan basah kuyup.
"Kirana, kamu basah kuyup, Kamu darimana?" Reyhan menghampiri Kirana dan memberikan handuk. Tapi Kirana tidak mengambil handuk itu, Kirana ingin menunjukkan sesuatu pada Reyhan.
"Tentu aku datang ingin memperlihatkan kondisi bayi kita yang menyedihkan ini Rey, lihatlah dia masih merah dan tak berdosa, tapi kamu membuatnya menjadi tak bernyawa." Kirana menunjukkan bayi merah yang masih berlumur darah, bayi itu tergolek lemah dalam gendongan Kirana.
Reyhan kaget melihat kondisi bayinya, matanya membeliak lebar hingga nyaris bulat sempurna. "Kirana, aku tidak sengaja melakukannya, aku kira kamu hanya bercanda tentang bayi itu, jadi seperti ini keadaan anak kita." Reyhan menggendong bayinya dan mencium. Akan tetapi bayi itu tetap diam seperti sedang tidur dan wajahnya pucat.
"Kapan kamu percaya apa yang aku katakan. Kamu slalu menganggap aku tukang bohong. tapi lihat sekarang dia pergi" Kirana berkata dengan airmata berderai. "Aku benci kamu Rey, aku tidak akan pernah memaafkan kamu."
"Maafkan papa Nak!" Reyhan menciumi bayi pucat dan mungil itu. Hatinya sangat perih setelah melihat wajahnya yang begitu mirip dengannya.
"Aku akan membalas sakit yang selalu kau torehkan di hati ini Rey, kamu dan Clara tidak akan pernah bahagia. Aku akan mengambil bayi kalian." Kirana mengusap airmatanya wajahnya penuh dendam dan amarah.
"Jangan Kirana!! Jangan lakukan itu, aku mohon."
"Kirana pergi setelah merebut bayinya kembali dari gendongan Reyhan. Reyhan mengejar Kirana namun wanita itu pergi dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Ana!! Ana!! Hah hah hah." Reyhan membuka mata, keringat ditubuhnya berlomba keluar hingga kaos yang dikenakan basah kuyup seperti habis mandi tanpa mengeringkan dengan handuk.
Reyhan segera mengambil air dan meneguknya hingga satu gelas tandas semua diperutnya.
'Aku hanya mimpi, tapi terasa begitu nyata. Aku sungguh ayah yang buruk telah menyia-nyiakan bayiku. Aku lelaki yang buruk sekali dimasa lalu."
Reyhan masih barusaja menetralkan nafasnya, dadanya kembang kempis naik turun dan keringat tak segera berhenti mengalir. Butuh waktu lumayan untuk benar-benar tersadar dari mimpi dan kembali ke dunianya yang nyata.
"Anakku, maafkan papa sayang." Reyhan memejamkan matanya meresapi setiap mimpi tadi. "Aku harus menjaga anak keduaku yang ada di rahim Clara, aku tidak mau menyesal kedua kalinya. Besok aku harus periksakan kondisinya ke dokter."
Reyhan melihat jam di dinding, dan masih tengah malam, akan tetapi ingin memulai tidur kembali rasanya juga sangat enggan.
Tring! Tring!
Ponsel Reyhan berdering di tengah malam. Reyhan terkejut Clara memanggilnya.
"Ada apa Clara?"
"Rey, aku ada di sebuah klinik yang tadi siang ingin kita kunjungi," kata Clara. Suara wanita itu terdengar sedih.
"Rey, kamu datang kesini saja biar tahu yang aku alami."
Mendengar Clara menangis, tentu Reyhan tak bisa menahan diri walau sesaat. Reyhan sudah berjanji akan membuat Clara tidak bersedih lagi.
"Aku akan kesana sekarang, tunggu aku."
Reyhan segera memacu kuda besinya tanpa memikirkan penampilannya yang berantakan. Reyhan hanya memikirkan soal bayi yang ada di dalam kandungan Clara.
Sekitar dua puluh menit mobil Reyhan sudah sampai di depan klinik yang buka selama dua puluh empat jam itu.
Clara rupanya sudah bersama kedua orang tuanya menunggu di luar Clinik.
"Cla, apa yang terjadi?"
__ADS_1
Clara tidak langsung menjawab. dia hanya menangis dan menangis saja membuat Reyhan makin panik.
Reyhan meremas rambutnya frustasi. "Cla, ngomong dong? jika cuma nangis, aku nggak ngerti?"
"Nak Rey, Clara tadi menghubungi kami berdua dan mengatakan kalau bayi yang dia kandung tidak bisa diselamatkan," kata Ibu Clara sambil memeluk pundak putrinya yang menangis terisak-isak, Ibu Clara dan suaminya juga baru datang. dia menemukan Clara sudah selesai diperiksa dan menunggu di depan ruangan dokter.
"Benar Clara apa yang dikatakan Ibu?" Reyhan ingin Clara mendengar jawaban dari Clara sendiri.
" Benar Rey." jawab Clara disertai anggukan kepalanya.
Bapak Kirana menatap ke arah Reyhan dengan tatapan yang diselimuti amarah. "Bagaimana bisa kalian berhubungan intim tanpa menikah terlebih dahulu? Bukankah kalian berdua orang yang berpendidikan. Kalian tidak malu melakukannya hingga Clara hamil? Dan kalian belum ada rencana menikah?" Bapak Clara menunjukkan wajah kecewanya.
"Maaf Pak, kita akan menikah setelah bayi itu lahir. bukankah menikahi wanita hamil itu tidak dianjurkan," jawab Reyhan, seolah menemukan alasan yang tepat.
"Bapak kecewa sama kamu Clara, Bapak tidak mau Reyhan lepas tanggung jawab dan tidak menghargai kamu yang sudah ternoda olehnya, kamu harus menikah dengannya."
Reyhan mengangguk. "Baik Pak. Saya akan menikahi Clara setelah waktunya tepat."
"Clara, jika semua sudah selesai, aku antarkan kamu pulang ke apartement. Atau kamu ikut orang tuamu dulu sementara waktu?" Reyhan sebenarnya hari ini sangat lelah, dia ingin mendapatkan istirahatnya sebentar sebelum pagi kembali tiba.
"Baiklah, Pak, Buk. Clara pamit dulu. Maaf sudah membuat bapak dan ibuk panik." ujar Clara pamit pada kedua orang tuanya dan mengekor dibelakang Reyhan yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Kedua orang tua Clara merasa Reyhan sedikit berubah, sedikit cuek dan acuh. Tapi prasangka nya segera ditepis oleh pemikiran masing-masing dan mencoba berfikir positif. Mungkin Reyhan lelah, itu yang saat ini mereka pikirkan.
Reyhan membukakan pintu mobil untuk Clara, membantu wanita itu masuk dan merapikan duduknya.
Setelah Clara sudah dalam posisi duduk yang baik, Reyhan segera berlari memutari mobil dan masuk lewat pintu satunya.
Hari ini Reyhan sangat marah, akan tetapi kemarahan itu harus dia tujukan pada siapa? sebagai pelampiasan dia hanya bisa marah dengan dirinya sendiri.
"Rey, Kirana tidak main main dengan ancamannya, dia sudah memberikan obat penggugur itu padaku di siang tadi, dan sekarang kamu bisa lihat hasilnya, calon bayi kita pergi seperti yang dialami bayi nya. Ini yang dia inginkan. Dia pasti bahagia, Dia ingin kamu terus menderita Rey."
Reyhan hanya diam, tak sepatah katapun membalas ocehan Clara, pandangannya fokus ke depan. Dia mengemudi mobil lumayan kencang karena kebetulan kondisi jalan juga sangat sepi.
__ADS_1
Reyhan tak sabar esok tiba dan segera bertemu dengan Kirana untuk bertanya tentang semuanya.