
"Tanpa kau suruh aku juga akan pergi." Reyhan meninggalkan Kirana dan Aezar yang tak mengharapkan kedatangannya.
Kirana terus menatap kepergian Reyhan. Lelaki yang masih dia cintai tapi cintanya yang besar tak pernah dihargai.
"Kirana, apakah kamu baik-baik saja." Aezar menatap Kirana yang seakan tak ingin Reyhan pergi.
"Ya, aku baik-baik saja." Kirana segera mengalihkan pandangannya dari punggung Reyhan.
Kirana lalu membuka rantang berisi nasi dan ayam goreng serta sambal, plus lalapan. menu sarapan yang nikmat.
"Kirana, aku ingin kamu sebisa mungkin lupakan masalah hati dengan Reyhan dan fokus dengan perusahaan." Sebagai lelaki yang peduli, Aezar memberi nasehat pada Kirana. Aezar bisa melihat Kirana masih mengharap Reyhan kembali. Bagaimanapun Reyhan adalah cinta pertamanya. Dan Aezar mendengar sendiri pengakuan Kirana di malam pesta itu.
"Sulit, Za." Kirana tidak yakin. Bahkan suaranya terdengar sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa, berusaha lebih keras lagi." Aezar mengusap rambut Kirana yang hitam pekat dan licin. Lelaki itu begitu tegar menghadapi Kirana yang entah kapan bisa melihat cinta yang tulus dihatinya.
***
"Rey darimana?" Clara sejak tadi menunggu Reyhan di ruangannya, akan tetapi dia malah melihat Reyhan dari arah ruangan Kirana.
"Em dari memeriksa kinerja karyawan."
"Rey, aku tahu kamu menyusul mantan istrimu itu? Kamu tidak rela dia berdua saja bersama Aezar Kan? Kamu masih cinta dia? kamu tidak mau kehilangan dia," tuduh Clara. Aroma cemburu begitu terlihat di wajah wanita itu.
"Rey, tunggu! Aku belum selesai bicara." Clara mengejar Reyhan, tidak terima dirinya diacuhkan begitu saja. "Aku mau kamu tidak lagi pedulikan Kirana, ingat Rey kalian itu mantan, hanya mantan. Seharusnya kamu pedulikan aku yang sedang mengandung anakmu." lagi-lagi Kirana menggunakan kandungannya untuk meluluhkan Reyhan.
Clara juga menggunakan airmatanya dan pura-pura lemah. Clara tahu Reyhan tidak akan mengacuhkan dirinya lagi jika sudah mengeluarkan dua jurus jitu itu. Mungkin Reyhan selamanya akan terus berhutang budi jika Clara terus terlihat lemah karena sakitnya itu.
__ADS_1
"Clara, sebaiknya kamu istirahat, jangan terlalu banyak memikirkan yang tidak penting, ada bayi yang harus kau jaga, jangan sakiti anak kita." Reyhan mengelus perut Clara lalu membimbingnya duduk. lelaki itu kembali berbicara sangat lembut.
Jujur Reyhan menyesal telah membuat Kirana kehilangan bayinya dulu, Reyhan mengira Kirana hanya bercanda dan ingin mendominasi dirinya saja, tak tahunya bayi buah cintanya selama tujuh tahun bersama Kirana benar-benar telah tumbuh.
Reyhan tak ingin Clara juga mengalami nasib yang sama, meski Reyhan tidak ingat seperti apa malam itu, tapi Reyhan tidak mau kehilangan bayi untuk kedua kalinya.
"Clara katakan apa yang kau inginkan? bayi kita pasti ingin sesuatu" Tanya Reyhan mencoba membuat Clara tersenyum.
"Bayi kita tidak ingin sesuatu, tapi calon mamanya ingin diperhatikan," ujar Clara manja.
Clara mendekap tubuh Reyhan yang hendak menjauh dari tubuhnya. Reyhan mengelus rambut Clara. "Tenanglah Clara, aku akan selalu ada di dekatmu dan calon bayi kita. Tapi izinkan aku bwierjaq
***
__ADS_1
Clara menangis di ruang pribadinya, dan ingin membuat sebuah kekacauan yang seolah Kirana pelakunya. Clara membuat ruangan berantakan dan juga dirinya.
"Ada apa lagi ini?" Reyhan menelisik ruangan Clara yang berantakan.