
Kirana hendak meninggalkan Reyhan sendiri di Villa. Tetapi lelaki itu cukup tahu diri, dia segera berkemas sebelum Kirana pergi. "Plug!" cincin pernikahan Reyhan dan Kirana terjatuh. Kirana tak percaya lelaki itu masih menyimpannya.
Kirana menatap benda itu nyaris tanpa berkedip. Kirana tertawa sumbang. "Buat apa kau menyimpannya, tidak ada yang perlu dikenang dari hubungan buruk itu."
"Entahlah. Aku merasa kalau ini sangat berharga."
"Berharga, apa arti sebuah cincin? jika ternyata pemiliknya tidak pernah menghargai arti sebuah ikatan yang di buat.'
"Kirana, jika apa yang kamu katakan tentang Clara terbukti dan benar, aku akan berjuang untuk hubungan kita."
"Hubungan? Hubungan yang mana?" Kirana mencibir.
Reyhan selalu masa bodoh dengan sikap Kirana, Reyhan tak perduli apa yang Kirana fikirkan tentangnya. yang jelas dia akan terus berusaha untuk menunjukkan rasa cintanya.
"Mana kuncinya?" Kirana meminta kunci Villa.
"Kunci? biar aku yang bawa, kamu tidak akan sempat merawatnya, semua ini demi kebaikan Villa keluarga kamu juga, Ana."
"Tidak Tuan Rey, mulai hari ini aku sendiri yang akan menjaga milikku, aku tidak butuh bantuan siapapun. Jangan pikir aku tidak mampu membayar penjaga villa-villa ini." ketus Nayara.
Sesungguhnya Reyhan hanya ingin masih berguna bagi Kirana dan keluarganya, akan tetapi semua milik Kirana sudah diambil alih. Reyhan benar-benar kehabisan akal untuk bisa sekedar dekat dengan Kirana dan memperbaiki semuanya.
Reyhan segera menyerahkan kuncinya pada Kirana dengan cara memancing Kirana agar mendekatinya. Kirana tidak mau terpancing dengan akal bulus Reyhan. ''Lempar saja," pintanya.
"Baiklah semoga kamu sekarang sudah cukup punya waktu untuk merawat semua Villa ini." kata Reyhan, lelaki itu mengulurkan segepok kunci untuk Kirana. Kirana mengambil dengan cepat.
Kirana lalu pergi meninggalkan Villa dengan langkah buru-buru, Reyhan pun ikut pergi.
Dua mobil berjalan beriringan menuruni jalanan, meninggalkan Villa yang penuh kenangan itu. Ada suasana berbeda yang Kirana rasakan saat mengemudi di jalan yang berliku.
Kirana mengemudikan mobil warna merah kesukaannya dengan hati-hati dan santai.
Sedangkan di belakang mobil Kirana ada mobil silver milik Reyhan yang berjarak hanya beberapa meter saja.
Saat tiba di hutan pinus yang jauh dari perumahan penduduk, tiba-tiba mobil Reyhan berhenti dengan mendadak. Reyhan mencoba untuk menyalakan berulang kali, tapi tak ada hasil, mobil Reyhan alamat tertinggal jauh dari Kirana.
Sebelum semua terjadi, Reyhan segera mengejar Kirana dan berteriak untuk berhenti.
Kirana! Kirana! Berhenti ! Kumohon berhentilah!
__ADS_1
Mendengar teriakan Reyhan, Kirana segera memastikan kalau dia tidak salah dengar. Kirana segera melihat ke arah spion, dan benar, dia melihat Reyhan tengah mengejarnya.
Kirana mengabaikan Reyhan yang tengah mengejarnya. Wanita itu yakin pasti semua itu akal-akalan Reyhan, supaya bisa semobil dengannya.
"Kirana berhenti!"
"Rey, aku tahu kamu pasti bercanda," jawab Kirana, sambil terus melajukan mobilnya.
Reyhan yang ngos-ngosan karena terus mengejar kirana yang tak kunjung berhenti, akhirnya menyerah. Reyhan membungkukkan tubuhnya sambil memegangi lutut.
'Aku nggak akan mudah kau bodohi Rey, kau pasti sengaja menjebakku.' batin Kirana sambil terus melajukan mobilnya.
Setelah berjalan kira-kira sejauh satu kilo, Kirana mulai sering melihat ke spion dan mengurangi laju mobilnya. Kirana khawatir mobil Reyhan benar-benar mogok.
'Kirana, mobil Reyhan tidak mungkin mogok, kamu jangan tertipu.' batin Kirana meyakinkan diri sendiri.
'Kirana, Reyhan sedang sakit, dia baru saja pulang dari rumah sakit. Setidaknya kamu pastikan dulu apakah dia benar-benar butuh bantuan. Apalagi langit mulai mendung.'
Jeddar! Suara kilat menggelegar diikuti dengan angin kencang. Titik hujan menjadi berwarna putih mengerikan.
Kirana tidak berfikir panjang lagi, dia segera memutar kemudi mobilnya setelah mendengar suara guntur yang begitu keras dan mendung semakin lama semakin tebal. Rintik hujan mulai jatuh membasahi kaca depan.
Kirana melihat Reyhan duduk nelangsa di tepi jalan di dekat mobilnya sambil menggunakan sepatunya untuk duduk.
"Kirana, aku tahu kamu tidak akan tega meninggalkan aku sendiri."
"Ya, aku tidak tega karena aku seorang manusia yang masih punya hati, siapapun yang ada di posisi kamu saat ini, aku pasti akan menolongnya."
Reyhan tidak peduli dengan apa yang dikatakan Kirana. Yang penting saat ini Kirana ada di depan mata dan kembali untuk menjemputnya.
"Sebentar lagi hujan, masuklah, atau kamu akan kehujanan."
"Kenapa ku pedulikan aku, bukanlah meski aku sedang sakit bukan lagi urusanmu."
"Jangan keras kepala, aku tidak peduli denganmu, aku hanya peduli dengan luka itu, karena bisa infeksi kalau terkena air hujan."
Reyhan akhirnya memilih masuk ke mobil Kirana setelah Kirana membuka kunci otomatisnya.
"Ana, hujan lebat akan terjadi, bagaiman kalau kita kembali ke Villa. Aku tidak mau kamu mengemudi disaat hujan deras seperti ini."
__ADS_1
Kirana nampak diam, dia terlihat sedang berfikir keras, apalagi hujan diselingi angin dan guntur ini terlihat akan berlangsung lama.
"Baiklah, kita kembali ke Villa sampai hujan reda." Keputusan Kirana sangat disetujui oleh Reyhan.
Reyhan ingin sekali memanfaatkan situasi ini untuk terus mengembalikan cinta Kirana padanya seperti yang dulu.
"Lekas pakai sabuk pengaman." perintah Kirana.
"Baiklah Nyonya Reyhan." Reyhan tersenyum menggoda, sambil menoleh manja ke arah Kirana, merebahkan kepalanya pada sandaran. Sedangkan Kirana sibuk mengemudi.
"Jangan bercanda, aku tidak tertarik," kata Kirana ketus.
"Tidak tertarik dengan canda'nya tapi pernah jatuh cinta pada orangnya."
"Rey, bisakah kau diam."
"Aku akan diam jika kau membungkam mulutku."
"Baiklah, sepertinya gulungan tisu ini cukup untuk membuatmu diam." Kirana meraih gilingan tisu diatas dasboard.
Reyhan tertawa. "Tidak, aku akan diam jika kamu membungkam dengan bibirmu itu."
"Cihh, tidak sudi." Kirana berdecih sebal.
"Kirana, kenapa kamu berbohong padaku. Pada dirimu sendiri, dan pada dunia, dan pada Aezar?"
"Berbohong pada Aezar? Tidak aku tidak pernah berbohong padanya.
"Ya, kamu berbohong mencintainya, sedangkan hati dan cintamu masih untukku." Kata Reyhan yang mengubah posisi duduknya menghadap Kirana.
"Rey, harus dengan apa aku menjelaskan? Sepertinya luka di kepalamu itu membuat kamu semakin tidak waras." Kirana nyaris emosi. Tapi melihat Reyhan yang justru tersenyum dan tidak serius justru membuat emosi Kirana serasa percuma. "Aku sedang mengemudi, kamu tahu aku belum terlalu mahir, jadi diamlah."
"Apapun yang terjadi aku siap menghadapi berdua," kata Reyhan semakin ngelantur.
"Tapi aku tidak mau mati konyol berdua denganmu, aku masih mencintai diriku dan duniaku saat ini," kata Kirana.
Kirana dan Reyhan kembali ke Villa. Mereka langsung turun dan segera berteduh dari dashyatnya hujan sore ini.
* Visual Reyhan
__ADS_1
*Ini Reyhan dalam imajinasi author. dia tampan, menyebalkan, tapi juga menyenangkan serta penuh misteri.