
"Aku telah terluka dan aku yang merasakan sakitnya. Kamu masih tidak percaya! Aku tidak bohong Rey, hanya Kirana yang bisa melakukan semua itu." Ketika Reyhan mulai ragu Clara berusaha keras mengambil simpati Reyhan.
Kirana mendekati Reyhan dan kembali menggamit tangannya. "Dia juga mengancamku agar kita tak bertemu lagi. Rey, kamu harus percaya." Clara menatap kekasihnya dengan wajah minta dikasihani. Reyhan terdiam. Disisi lain dia sangat mencintai Clara. Tapi di satu sisi dia tahu Kirana tidak melakukan semuanya.
Reyhan berfikir mungkin Clara terlalu takut hubungan mereka akan dihancurkan oleh Kirana, hingga pikirannya menjadi paranoid dan selalu menyalahkan Kirana dalam segala hal.
Dari dua wanita di depannya sungguh membuat Reyhan sulit mengambil keputusan. Setelah dokter mengatakan kalau luka yang dialami Kirana merupakan luka percobaan bunuh diri, Reyhan diam-diam mulai menyelidiki. Dan hasilnya memang tak ada campur tangan Kirana sama sekali.
Reyhan terus berpikir dan dia menemukan banyak kejanggalan. Bahkan saat datang tadi, Reyhan juga mendengar sendiri Clara terus mengolok Kirana yang jelas-jelas bukan pelakunya.
Reyhan meraih jemari Clara dan menggenggamnya. "Clara, kamu jujur saja, aku akan sangat menghargai kejujuranmu nanti, katakan pada polisi kalau kau melukai diri sendiri untuk membuat Kirana menderita, karena selama ini Kirana selalu menghalangi cinta kita." Reyhan meminta Clara agar lebih baik jujur. Reyhan berjanji akan tetap memberi maaf untuk Clara.
"Rey, aku tidak percaya ini, kamu juga mulai meragukan aku?" Dengan mata berkaca Clara terus menggelengkan kepala.
Kirana terkejut dengan semua yang didengar, tak percaya Reyhan akan membelanya, Lelaki itu sungguh membuatnya bingung, bukankah beberapa hari dia juga menuduhnya.
Kirana teringat ucapan Reyhan, dia benar-benar menyelidiki kasus tentang percobaan pembunuhan pada Clara.
Sejenak Kirana merasa tentram, Reyhan tidak berbohong dalam masalah ini, tapi hati tetap saja belum bisa berdamai, Kirana masih tidak bisa menerima kalau lelaki itu yang telah membuatnya kehilangan calon bayi pertamanya.
"Tuan Rey, tolong tunjukkan pada kami bukti yang anda dapat, jika Nona Kirana benar-benar bukan pelakunya." Pinta polisi.
Reyhan memberi bukti yang akurat, bukti yang dia dapat itu sudah tidak bisa diragukan lagi kebenarannya, orang-orang Reyhan bekerja dengan cepat untuk menemukan semuanya. Dia tidak akan kesulitan untuk mengungkap kasus seperti ini.
Polisi mengangguk, setelah membaca dengan detail setiap pernyataan pembelaan untuk Kirana. Perlahan titik terang mulai terlihat, Kirana bukan pelakunya.
Clara menggeleng cepat, masih ingin menyangkal semua bukti yang dibawa Reyhan. Dia tidak mau Reyhan tidak percaya lagi dengannya. Clara menggunakan tangisnya untuk membuat Reyhan bersimpati.
"Kamu tidak percaya lagi padaku Rey, sampai kamu melakukan ini semua untuk mempermalukan aku di depan Kirana?" Suara Isak tangis Clara menyayat hati, bulir air mata membanjiri pipinya. Akan tetapi disisi lain Reyhan tidak mau Kirana dipersalahkan dan menanggung akibat dari yang bukan kesalahannya.
"Oke, aku sudah tahu kamu tidak serius dengan hubungan ini, dan sekarang lebih percaya pada dia. Aku tidak berarti apa-apa untukmu dibanding dia." Clara merajuk, jarinya menunjuk pada Kirana yang menjadi penonton setiap pertunjukan di depannya.
__ADS_1
"Kamu lupa apa yang telah dia lakukan bersama keluarganya untuk membuat kamu bisa bersamanya. Dan saat ini dia melakukan padaku, malang sekali nasibku, justru orang yang aku cintai bahkan ragu dengan kebenarannya."
"Clara, diamlah biarkan aku menyelesaikan semuanya," pinta Reyhan.
Lelaki itu mengecup tangan Clara supaya lebih tenang. "Aku tetap mencintaimu. Hubungan kita akan baik baik saja. Hanya saja kita tidak bisa memenjarakan orang yang tidak terbukti bersalah. Kirana ada bersamaku saat kamu mengalami luka tusuk dan menelepon waktu itu. Jadi dia tidak mungkin yang melakukannya."
Reyhan meminta Clara untuk menunggunya duduk di tempat lain agar suasana lebih tenang. Dia akan berbicara dengan polisi tanpa wanita itu di dekatnya.
Reyhan kembali duduk di depan polisi penyidik. Dia membuat pernyataan untuk kebebasan Kirana, "Mewakili kekasihku, aku mencabut semua tuntutan pada tersangka Kirana, tidak ada bukti yang memberatkan dia. Bebaskan saja dia."
"Ini kasus berat, apa anda yakin akan mencabut laporan ini dengan cepat?" tanya seorang polisi. Polisi itu tahu siapa Reyhan. Dia tidak akan menyangkal ucapan CEO muda itu.
"Iya, aku akan menjamin semuanya baik baik saja," jawab Reyhan.
Polisi wanita datang untuk membuka borgol Kirana. Reyhan menatap istrinya sesaat, dimatanya tersirat ucapan maaf dan rasa bersalah.
Kirana juga menatap Reyhan, tapi tatapan sangat berbeda dengan biasanya. Kirana memendam amarah yang besar.
Saat tatapan mereka bertemu Reyhan tersenyum. "Semua sudah berakhir. Cerita ini tidak ada lagi kelanjutannya lagi."
***
Kirana berjalan terseok-seok menyusuri Trotoar. Wanita malang itu kini memikirkan perusahaan milik keluarganya yang sudah atas nama Reyhan. Kirana tidak mau Reihan jadi pemilik semuanya dan menjadikan Clara sebagai CEO. Perusahaan warisan milik keluarganya hanya dia yang berhak. Kirana tidak peduli lagi siapa wanita yang akan menjadi teman hidup Reyhan untuk masa depan, tujuannya utamanya sekarang hanya bagaimana bisa mengambil perusahaan milik keluarganya menjadi atas namanya kembali.
Tak terasa Kirana sudah berjalan kurang lebih sejauh dua kilo. Kirana kembali merasakan sakit diperutnya, sakitnya tak bisa dilukiskan lagi. Wanita itu terus berjalan sambil memegangi perutnya.
Kirana tidak kuat menahan sakitnya, dia memilih duduk sejenak di sebuah kursi depan warung yang kebetulan lagi tutup.
Kirana mengerang kesakitan seorang diri, Rasa sakitnya semakin luar biasa, keringat dingin membasahi dahinya, semakin lama pandangan Kirana menjadi kabur, wanita malang itu tak ingat apa-apa lagi
Seorang dokter menemukan Kirana dalam keadaan pingsan. Dokter segera mengetahui Kirana salah satu pasien yang sedang berjuang melawan kanker, setelah tak sengaja menemukan obat yang terjatuh dari saku Kirana.Dokter itu menatap Kirana dengan kasihan.
__ADS_1
Kirana kembali membuka mata, tapi tubuhnya sudah berada di tempat yang berbeda, sekarang tubuhnya sudah berpindah dalam sebuah mobil, Kirana mengucek dua bola matanya yang akhir-akhir ini selalu basah oleh air mata.
"Aku dimana sekarang?" Kirana membeo.
Pria tampan di depannya tersenyum. "Kirana, akhirnya kau siuman."
Kirana mengernyitkan keningnya. Lelaki di depannya tampak begitu familiar, dan dia tahu namanya sebelum berkenalan.
Kirana bekerja keras untuk mengumpulkan ingatannya. "Aezar"
"Kamu masih ingat aku, Kirana" Aezar senang Kirana tidak lupa dengannya.
"Bagaimana aku bisa lupa sama lelaki terhebat di sekolah kita waktu itu, Za" kamu ketua OSIS dan satu-satunya siswa laki-laki yang dapat beasiswa karena mendapat ranking bagus," ujar Kirana pada kakak kelasnya saat di putih abu-abu itu.
"Kamu masih ingat aja, kamu dulu juga sangat cantik, banyak cowok yang naksir kamu lho," kenang Aezar.
"Masa sih? Kamu pasti ngarang." Senyum tipis terukir di bibir Kirana.
Aezar senang bertemu Kirana, gadis yang diam-diam pernah dia sukai, hanya saja waktu itu kelas mereka lumayan jauh dan Kirana terlalu bersinar di antara teman yang lain, membuat Aezar yang dulu sedikit pemalu memilih menyimpan perasaannya.
"Kamu masih sendiri, Za?" Tanya Kirana.
"Iya, belum laku,' canda Aezar.
"Ishh, bukan belum laku, tapi kamu terlalu pemilih. Lelaki seperti kamu pasti mencari gadis yang perveck."
Aezar tersenyum menanggapi godaan Kirana. "Kalau kamu sendiri."
"Aku sudah menikah, tapi sayang semuanya tidak dalam keadaan baik. Lelaki yang aku sayangi tidak pernah mencintaiku, dia memilih wanita lain." Kirana bercerita dengan Netra berkaca. "Tapi itu tidak masalah, dia berhak bersama orang yang dia cintai, sekarang yang aku inginkan hanyalah bagaimana caranya aku bisa mengambil kembali perusahaan milik keluarga kami yang sudah diatasnamakan dia. Perusahaan itu warisan keluarga kami."
"Kirana kamu sabar, tenang. Kami pikirkan kesehatanmu dulu, setelah itu kita sama sama cari jalan keluarnya."
__ADS_1
"Za, aku nggak ingin menambah beban ini ke kamu, aku hanya …." Kirana menatap Aezar dengan perasaan tak enak karena sudah cerita semuanya.
"Aku akan membantu." Aezar tersenyum tulus pada Kirana.