Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 50


__ADS_3

Kirana dan Aezar datang ke rumah sakit bersama, keduanya mengenakan baju santai dengan warna senada.


Kirana membeli sekeranjang buah untuk di toko buah dekat rumah sakit untuk oleh-oleh. Mereka berdua nampak serasi.


"Kita bisa couple begini warna bajunya."


"Mungkin ini yang namanya sehati," jawab Aezar Enteng. lalu lelaki itu berjalan masuk sambil menggandeng pinggang Kirana.


Clara rupanya pulang, karena dia tidak begitu dekat dengan orang tua Reyhan, Sedangkan Bagaskara dan istrinya terlihat di ruang tunggu sambil ngobrol. Kirana menyalami mantan mertuanya mencium tangannya dengan takzim.


"Nak Kirana, Mama kangen sama kamu, kita sudah lama tidak bertemu."


"Kirana juga kangen sama Mama." Kirana memeluk mama mertuanya lalu melepaskan pelukan dengan berakhir saling pandang.


Aezar dengan sabar menunggu Kirana, yang tengah berbincang dengan mantan mertuanya.


"Oh iya Ma, Pa. Kenalkan dia Aezar." Kirana masih malu ingin mengatakan kalau lelaki disebelahnya adalah tunangannya.


"Oh, iya." Mama Reyhan menjabat tangan Aezar yang menggantung.


Karena Kirana tidak memperkenalkan Aezar dengan lengkap, lelaki itu dengan sengaja membuka identitas siapa dirinya terhadap Kirana.


"Kenalkan Om, Tante, saya tunangan Kirana."


"Iya, saya juga sudah menduga," jawab Mama Reyhan dengan wajah sebal.


"Nak, kamu kelihatannya sangat mencintai Kirana, tolong jaga dia ya. Karena selama ini Reyhan, anak Tante itu bodoh sekali. Dia mensia-siakan wanita yang begitu baik seperti dia. Saya yakin kamu akan bahagia hidup bersama dengan dia," jawab Bagaskara.


Mama Kirana semakin kesal suaminya mengatakan demikian, karena dari lubuk hatinya dia masih berharap lelaki itu pergi dari hidup Kirana, dan Reyhan bisa kembali.


Karena seminggu sebelum kecelakaan, Reyhan menemui mamanya, dia menceritakan tentang sesuatu yang dirasakan akhir-akhir ini. Reyhan merasakan sebuah rasa yang berbeda setiap bertemu dengan Kirana. Ada rasa ingin kembali memiliki dan membahagiakan.


"Ma, Pa. Kirana dan Aezar masuk dulu ya. Ingin lihat kondisi Reyhan."


permohonan Kirana dibalas anggukan oleh Bagaskara. Aezar menangkupkan tangannya tanda mohon diri.


Seperginya Aezar dan Kirana, mama Rehan dan Bagaskara terus membicarakan mereka berdua. "Pa, Lelaki itu sangat sopan dan baik. Terlebih lagi dia anak orang yang lebih kaya dari kita, Kirana pasti akan dengan mudah melupakan Reyhan yang sudah membuatnya kecewa.

__ADS_1


"Ma, kalau mama sayang sama Kirana, harusnya mama ikut senang Kirana bahagia, mendapat suami yang lebih baik dari anak bodoh itu."


"Tapi Pa, Mama tidak mau menantu seperti Clara, dia itu penuh kepalsuan, di depan kita lemah lembut, tapi mama lihat sendiri sebenarnya dia itu penuh dengan sandiwara."


"Tapi gimana lagi, anak kita cintanya sama dia," jawab Bagaskara yang kembali duduk di kursi tunggu. Istrinya juga menyusul


"Kirana dan Aezar mencari bangsal tempat Reyhan di rawat. Reyhan rupanya sedang terjaga sambil melamun mengamati langit-langit rumah sakit, sampai-sampai dia terkejut begitu melihat Aezar dan Kirana datang.


"Selamat sore Pak Rey, Gimana kondisi Anda?" Aezar sengaja merubah nama panggilannya pada Reyhan dengan embel embel 'Pak' supaya lebih formal. Aezar juga menghormati Reyhan.


"Aku baik baik saja, Reyhan menoleh kearah Kirana. Reyhan memaksa untuk duduk.


"Kalau belum baikan mending di buat tidur saja. Aku nggak akan lama kok Rey. Tadi kebetulan kita berdua lewat, dan Aezar minta sekalian mampir," ujar Kirana.


"Oh. Makasi Za. Kamu sudah sempatkan diri untuk mampir."


"Iya, sama-sama." Aezar melihat luka Reyhan di kepalanya. Lukanya lumayan parah.


"Kamu sendirian saja?" Tanya Aezar yang tidak melihat ada Clara.


"Rey, cepat sembuh ya," kata Aezar lagi. Sedangkan Kirana tidak banyak bicara.


"Makasi." jawab Reyhan yang bingung entah ingin bicara apa.


Sebenarnya Reyhan ingin sekali bicara banyak hal pada Kirana. Tapi semuanya terhalang oleh keberadaan Aezar.


"Rey, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Apa Dokter?" tanya Reyhan.


"Minggu depan aku dan Kirana akan melangsungkan acara tunangan di sebuah hotel, Meski diam-diam aku sudah melamarnya lebih dulu, tapi keluarga menginginkan acaranya tetap dibuat pesta. Aku berharap kamu sudah sembuh dan bisa datang."


Mendadak wajah Reyhan menjadi pucat pasi. 'Perasaan apa ini, kenapa sesakit ini. Aku dulu sangat ingin berpisah dengan Kirana, tapi kenapa hari ini justru aku merasakan seolah akan mati, dadaku sesak sekali, sakitnya ya Allah ....' Rayhan menekan dadanya, dia tak kuasa menatap wajah siapapun yang ada di ruangan ini.


Melihat Reyhan yang gelisah, Kirana tahu kalau lelaki itu tak sependapat dengan keputusan Aezar.


"Aku dan Kirana belum resmi bercerai, kita berdua masih suami istri," kata Reyhan berusaha untuk membuat Aezar menyerah.

__ADS_1


Aezar tersenyum mengejek. "Kalian sudah bercerai, bahkan palu hakim sudah diketuk. Rey, jadilah lelaki yang bisa menerima kenyataan. kamu dulu sudah mensia- Kirana demi wanita lain, bahkan saat Kirana terpuruk karena bayinya pergi, kamu lebih memilih untuk selalu bersama Clara. Kenapa kamu sekarang menghalangi kebahagiaannya," kata Aezar sambil meraih tangan Kirana lalu meremas seolah dia enggan berpisah.


"Kirana bukan manekin yang bisa kau mainkan perasaannya sesuka hati, dia memiliki hati yang bisa merasakan sakit juga," imbuh Aezar lagi.


Aezar sebenarnya diam-diam menyelidiki kasus perceraian Kirana dan Reyhan, sebenarnya semua itu sudah selesai. Reyhanlah yang menyembunyikan berkas perceraian, karena dia enggan berpisah dengan Kirana.


Aezar melihat Arloji ditangannya, sepertinya sebentar lagi akan magrib, Aezar pamit pulang pada Reyhan, apalagi disaat yang bersamaan Clara sudah datang.


"Rey, cepat sembuh ya," kata Aezar.


Reyhan mengangguk, menoleh sebentar lalu kembali menatap ke atap. "Makasi, dah sempatin datang.


Aezar dan Kirana segera meninggalkan ruang rawat inap. Saat keluarpun tangan mereka masih bertautan.


Reyhan kembali menoleh setelah mereka berdua tiba di pintu. Sungguh kedatangan Aezar dan Kirana membuat hati Reyhan bukannya terhibur. Tapi Reyhan semakin cemburu dengan kedekatan mereka berdua.


Clara yang melihat Aezar dan Kirana nampak bahagia dia pun kembali menyimpan sebuah perasaan iri di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Clara, darimana saja?" Tanya Reyhan.


"Aku pulang, istirahat Rey. Bukankah disini sudah ada mama dan papa kamu yang menjaga."


"Lalu kenapa kamu kesini, sekarangpun masih ada mama dan papa yang menjagaku."


"Oh, jadi kamu tidak suka aku kesini?"


"Bukan tidak suka, kamu pasti capek, kenapa nggak istirahat aja, aku nggak memaksa kamu buat jaga aku."


"Rey, kamu kayak gini pasti karena cemburu sama Kirana dan Aezar, makanya kamu marah, dan aku jadi pelampiasan."


"Kenapa jadi bahas Kirana, aku sedang ngomongin kita "


"Bagaimana tidak, kamu pasti cemburu Kirana dapat kekasih baru yamg lebih kaya dan sukses. Dan kamu bisa lihat bagaimana penampilan dia yang makin hari makin memukau dengan perhiasan mahal di tangannya."


"Arggggggg, Kamu diam atau pergiii!"


Melihat Reyhan yang marah, seketika itu Clara langsung diam, dia lalu keluar ruangan dengan langkah kaki yang dihentak- hentakkan.

__ADS_1


__ADS_2