Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Bab 18


__ADS_3

Mendengar suara Clara memanggil Reyhan dengan keras membuat Kirana seketika menoleh.


Kirana tak menyangka akan bertemu Clara dan mantan suaminya di butik ini.


Minat belanja Kirana seketika hilang, setelah melihat Reyhan dan Clara juga ada di sini.


"Za, pergi dari sini aja yuk." Kirana ingin cepat pergi.


"Yakin mau beli yang ini aja, nggak mau coba yang lain, entar kalau ada yang lebih bagus, nyesel."


"Iya yang ini saja, tapi beneran bagus nggak waktu aku coba tadi?"Kirana meminta pendapat Aezar.


"Bagus cantik banget malah, bikin aku makin naksir."


"Eza, mulai deh, nyebelin."


"Nggak suer! Kamu cantik banget." Aezar menunjukkan dua jarinya keatas.


"Karena bajunya lagi bagus-bagus beli lagi aja yuk.


"Sudah, nggak usah satu aja sudah cukup." Kirana keukeuh menolak keinginan Aezar.


Kirana segera masuk ruang pas untuk ganti baju. Lagi pula Kirana sudah menemukan yang cocok untuk dipakai malam ini bersama Aezar. Aezar setia menunggu di luar ruang pas saat Kirana ganti baju.


"Kirana kamu yakin mau beli satu saja?" Tanya Aezar. Kirana keluar dan Aezar sudah ada di depannya. Mereka sesaat tersenyum ketika tak sengaja pandangan mereka bertemu.


"Iyalah nanti malam kan yang mau dipakai cuma satu." Kata Kirana sedikit bercanda. Kirana sebenarnya ingin cepat-cepat pergi saja, mood belanjanya hilang setelah melihat Clara dan Reyhan ada di butik yang sama dengan yang dia datangi saat ini.


Reyhan sangat kesal melihat Aezar selalu ada bersama Kirana. Kirana juga lebih bahagia, tidak lagi seperti dulu, pipinya yang tirus kini sedikit gembul. Reyhan sadar kalau dia tidak pernah menjadi suami yang baik selama ini.


Perhatian dan ketulusan yang Aezar berikan ke Kirana membuat lelaki itu merasa cemburu, mata Reyhan seakan silau dan sakit ketika melihat Aezar terus tersenyum bahagia di dekat mantan istrinya. Bahkan Aezar tak segan menggandeng tangan Kirana layaknya sepasang kekasih yang tengah kasmaran.


Kirana dan Aezar segera pergi dari ruang pas menuju kasir. Aezar rupanya sudah membayar semuanya.


"Eza aku mau bayar sendiri." Kirana tidak enak merepotkan Aezar.

__ADS_1


"Kan aku sudah membayarnya. Enak kasirnya dong dapat bayaran dobel nanti." Aezar selalu saja bisa merangkai kata untuk membuat Kirana mengalah.


Kirana dan Aezar ingin segera pulang, tapi malah kembali bertemu dengan Clara, atau mungkin wanita itu memang sengaja mengincar Kirana dan menemuinya untuk melampiaskan rasa cemburunya karena Kirana selalu mendapat keberuntungan.


"Ehmm, nggak nyangka, kamu sangat licik Kirana, kamu juga mengandalkan laki-laki untuk mendapatkan posisi kamu saat ini." Clara sengaja berkata demikian untuk memancing emosi Kirana


Kirana diam saja, dia tidak ingin membuat keributan di tempat umum. Tapi Clara tidak berhenti menghina, wanita itu sengaja ingin membuat Kirana murka. Kirana teringat akan setiap kesakitan yang dia alami, bagaimana dia waktu dulu merasakan penderitaan demi menyelamatkan nyawa Clara.


"Siapa yang memanfaatkan laki-laki disini? Siapa yang meminta Reyhan supaya aku melakukan transfusi darah, sehingga aku mengalami anemia dan bayiku kekurangan suplai nutrisi, aku kehilangan bayiku karena kamu! Kamu sudah mengambil bayiku, kalian berdua pembunuh!" Kirana berkata dengan kasar membuat Clara diam dan malu, karena tak sedikit orang yang melihatnya. Jika Kirana sudah marah, maka tak ada yang berani menghentikan kalimat wanita yang kehilangan bayinya itu.


"Siapa disini yang memanfaatkan laki-laki? aku atau kamu?" Kirana masih mencecar Clara yang memancing emosinya terlebih dahulu.


Rayhan diam saja, dia sama sekali tak ingin membela Clara, karena apa yang diucapkan oleh Kirana itu memang benar. Kesalahan yang dia lakukan membuat Kirana membencinya dan Kirana meminta bercerai.


Clara yang merasa tersudut hanya diam saja, dia juga kesal Reyhan sama sekali tak membela.


Clara melampiaskan emosinya dengan mengambil bajunya yang ada di sebelah Kirana dengan kasar.


Kirana tertawa melihat Clara yang seperti anak kecil. " Kenapa kamu sekarang mudah sekali tersinggung?"


Kirana menarik tangan Aezar, dan mengajaknya untuk segera pergi. Reyhan terus memperhatikan mantan istrinya, bahkan Kirana sengaja melewati mantan suami tanpa memandang sedikitpun.


Kirana mengabaikan Reyhan yang terlihat masih berat untuk melepas kepergiannya.


Sepanjang menemani Clara belanja baju, Reyhan hanya diam. Ketika Clara meminta pendapat tentang baju yang dia pilih Reyhan selalu bilang terserah. Bahkan saat Clara mencoba baju Reyhan juga tak memberi komentar.


Bayangan Reyhan justru tertuju pada wanita lain, Reyhan tidak bisa melupakan Kirana yang nampak begitu anggun dan cantik dengan gaun maroon yang rencananya akan dipakai nanti malam.


Saat jauh dengan Kirana, Reyhan seakan kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya, tapi entah itu apa. Senyumnya yang dulu mengagumkan juga mulai sirna. Reyhan juga menjadi lebih mudah marah.


"Cla pilih gaun yang kamu sukai, aku akan setuju dengan apapun pilihanmu." Reyhan bosan di dalam dia ingin menunggu diluar.


"Rey kamu akan kemana?" Tanya Clara.


"Aku akan menunggu di mobil. Tiba-tiba aku pusing." Jawab Reyhan asal.

__ADS_1


"Rey jangan bohongi aku, kamu pasti sedang memikirkan Kirana."


"Clara bisakah kamu berhenti menyebut Kirana terus menerus, apa kamu tidak bosan?" Reyhan makin pusing Clara selalu menyebut Kirana.


"Kamu langsung berubah saat mengetahui Kirana bersama Aezar, kamu juga terus menatapnya saat semua orang memuji kecantikannya. Tapi padaku? Kamu hanya bilang terserah! Terserah!"


Reyhan ingin marah dengan Clara, tapi dia tidak bodoh, marah di tempat umum sama dengan mempermalukan diri sendiri. Reyhan memilih keluar tanpa sepatah kata, mengabaikan Clara yang sedang cemburu buta.


***


Malam telah tiba. Kirana dan Aezar telah tiba di sebuah ballroom hotel bintang lima yang dijadikan tempat untuk acara perjamuan malam ini. Kirana memakai gaun senada dengan warna kemeja Aezar. Kirana tak percaya malam ini dirinya akan menjadi pusat perhatian.


Terutama pada gaun yang dipakai. Hampir semua mata tertuju padanya. Gaun akan terlihat indah jika yang memakainya juga memiliki lekuk tubuh yang mendukung.


"Wah! Lihat Bu Kirana, dia sangat cantik."


"Iya betul, tapi bukannya dia memang sudah cantik dari lahir."


"Lelaki yang di sebelahnya juga sangat tampan. Semoga mereka berjodoh."


"Iya aku berharap juga demikian. Kasihan Bu Kirana kalau lama-lama menjanda." Beberapa orang yang mengenal Kirana mereka asyik bergosip.


Sepanjang pintu masuk kirana nampak terus tersenyum, Aezar tidak membiarkan tangan Kirana lepas dari genggamannya. Aezar seakan ingin mengenalkan pada dunia, kalau Kirana adalah miliknya.


"Pak Aezar, apakah wanita disebelah anda ini kekasih anda? Dia sangat cantik sekali." Seseorang yang tidak Kirana kenal terlihat banyak bertanya pada Aezar.


"Ya, kamu lihat saja nanti perkembangan hubungan kami," kata Aezar nampak tersenyum ramah.


"Aezar, kenapa aku merasa mereka semua terus melihat kita berdua, aku jadi malu." Kirana tidak tahu kalau acara ini sebenarnya diadakan oleh Papa Aezar.


"Kenapa harus malu. Malam ini kita memang akan jadi pusat perhatian. Tapi jangan terlalu pedulikan mereka. Kita nikmati pestanya saja," jawab Aezar seakan ada yang disembunyikan.


Lambat laun Kirana merasa curiga, karena semua orang menyapa Aezar dengan ramah, mereka juga terlihat sudah akrab seperti kerabat dekat dan Teman.


"Aezar sejak tadi aku tidak menemukan orang yang telah mengirimkan undangan padaku, jangan bilang kalau yang punya acara ini adalah kamu sendiri." Kirana menatap Aezar dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Kirana, berhenti mencurigaiku, Mari kita temui pemilih acara, hingga kita bisa bertemu disini." Aezar menggamit lengan Kirana. Kirana mengikuti Aezar untuk bertemu seseorang yang kabarnya adalah salah satu pengusaha besar di negeri ini.


__ADS_2