
Nayara duduk di sofa panjang dan Aezar berada di sebelahnya. "Kau sudah terlalu lama membantuku, apakah aku masih pantas terus merepotkan mu seperti ini?"
"Kenapa tidak pantas Ana, Aku akan membantumu dengan senang hati."
Aezar menarik bahu Kirana dan membaringkan di dada bidangnya.
'Aezar andai kamu tahu yang aku lakukan dengan Reyhan, pasti kamu akan jijik menyentuhku seperti saat ini, Reyhan ingin membuat jarak diantara kita dengan mengacaukan mental yang aku miliki, sehingga membuat aku terus bersalah seperti ini.'
Aezar dan Kirana mereka sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing dengan posisinya yang saat ini Kirana bersandar di dada Aezar.
Dengan bahasa kalbu mereka saling bicara, kalau sesungguhnya dihati saling ingin memiliki, akan tetapi perbedaan yang membuat mereka tidak bisa memutuskan semuanya dengan mudah.
***
Esok hari.
Kirana datang ke kantor dengan langkah lesu, sepertinya perusahaan benar-benar akan gagal produksi dalam beberapa hari ini. Tempo yang diberikan oleh para klien setia tinggal beberapa hari saja.
Jika tidak mampu menstabilkan kembali kondisi perusahaan Klien yang tinggal beberapa orang itu akan pergi juga.
Aezar membawa beberapa client yang akan menemani Kirana dalam memperjuangkan perusahaan yang nyaris hancur. Diam-diam Aezar juga membantu Kirana dalam bentuk dana dengan pura-pura menjadi salah satu klien baru, hanya saja Aezar menggunakan tangan kanannya tanpa melibatkan dirinya sendiri.
Aezar tahu jika Kirana tahu dirinya terlibat pasti akan keberatan, karena Kirana tidak mau lelaki seperti Aezar meninggalkan pekerjaannya menjadi dokter hanya untuk membantunya mengelola perusahaan.
Kirana sedikit lega perusahaan bisa kembali beroperasi. Hal itu membuat Kirana tidak lagi bersedih seperti beberapa hari lalu.
Akan tetapi lambat laun Kirana tahu semua ini Aezarlah yang membantu.
Hingga Kirana menemui Aezar untuk berterima kasih dan mengajaknya makan malam.
Kirana mengemudi mobil ke rumah sakit tempat Aezar bekerja tanpa memberi tahu lebih dulu, Kirana sengaja mendaftarkan diri menjadi pasien paling terakhir.
Aezar bekerja dengan sangat baik dan bertanggung jawab, banyak pasien yang merasa puas dengan pelayanan dokter muda dan tampan itu.
"Ada berapa pasien lagi?" tanya Aezar.
__ADS_1
"Tinggal satu Dok." Suster melihat panjang antrian yang sudah habis, tinggal menyisakan satu pasien.
"Pasien terakhir nomor sembilan puluh dengan nama, Bu Kirana silahkan masuk."
Aezar terlihat lelah sekali. hari ini pasien lebih banyak daripada biasanya nyaris malam dia baru mendengar kata terakhir, membuat dirinya lega.
"Kirana." Aezar tersenyum karena nama terakhir sesuai dengan nama orang yang dirindukan.
Asisten Aezar membuka pintu, mempersilahkan calon pasien masuk. Dan senyum Aezar semakin lebar ketika yang datang benar-benar Kirana.
"Ana!"
"Kenapa Dokter kaget begitu, apa aku tidak boleh periksakan diriku pada anda? Aku sakit dokter, tolong obati luka ku."
"Kamu bercanda Ana, jika kamu ingin bertemu denganku, lebih baik ke ruang pribadiku langsung saja." Aezar melepas jas putih dan stetoskope dari lehernya.
"Baiklah." Ana menurut. Kirana dan Aezar keluar ruang periksa dan menuju ruang pribadi dokter.
Kirana duduk sambil mengamati meja kerja Dokter Aezar. Ada fotonya disana, Kirana tersenyum. Dia bahkan tidak pernah tahu kapan Aezar mengambil gambarnya.
Lagi-lagi Kirana hanya bisa tersenyum, hatinya benar-benar tersentuh dengan perlakuan manis Aezar yang begitu mengistimewakan dirinya.
Setelah Aezar selesai mandi, Lelaki itu seolah mendapat energinya kembali, tubuhnya begitu segar dan wajahnya nampak berseri seri.
"Ana, ada apa? tumben kamu datang kesini." Aezar bertanya tentang maksud kedatangannya.
"Za, kamu tidak usah bohong lagi. Mr, Andre itu orang suruhan kamu kan?" Kirana berjalan mendekati Aezar.
"Aku tidak tahu, siapa dia?" Aezar berusaha mengelak.
"Sudahlah Aezar, aku sudah tahu, jangan ada yang ditutupi lagi. tidak mungkin ada orang yang bersedia membantu perusahaan yang nyaris bangkrut. Kecuali dia itu kamu."
Kirana meraih jemari Aezar. "Jujur saja, itu pasti kamu Dokter Eza?"
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Melihatmu berjuang sendirian, aku harus diam saja."
__ADS_1
"Sesungguhnya perusaahan itu sekarang bukan lagi antara siapa yang bangkrut atau siapa yang bertahan karena kemampuan mengelola, tapi bagiku perusahaan itu antara Aku dan Clara. jika aku memang ditakdirkan kalah, maka Clara adalah pemenang sesungguhnya. Clara saat ini telah memenangkan hari Reyhan, dan dia sekarang memanfaatkan kekuasaan Reyhan untuk menyingkirkan aku dari perusahaan yang dibangun oleh papa dari jerih payah papa."
"Itu sebabnya aku tidak rela kamu kalah dari wanita seperti Clara, Kirana." Aezar membimbing tibuh Kirana agar duduk di sofa.
"Aku tidak masalah Reyhan menjadi milik wanita itu, tapi perusahaan papa? menurutku apakah aku harus melepaskan juga." tanpa sadar Kirana menitikkan airmata saat bercerita semuanya pada Aezar.
Aezar duduk di sebelah Kirana, lalu memeluk tubuh mungil, dan mengusap punggungnya lembut.
"Izinkan aku membantu, dengan seperti ini kamu tidak sendiri," mohon Aezar.
"Kirana mengangguk, baiklah, tapi aku tidak mau jika urusanku sampai mengganggu pekerjaan mu Dokter."
"Tidak akan mengganggu, biarlah Andre yang akan bekerja dan mendampingi mu. Andre sudah bekerja bersama papa bertahun-tahun, aku tidak meragukan kemampuannya lagi."
"Terimakasih Dokter Aezar." Kirana menatap Aezar yang masih sibuk mengelus punggungnya, ada gelenyar nyaman yang tercipta ketika mereka berdua sedekat ini.
Tanpa sengaja Aezar menatap jemari Kirana, wanita itu tidak lagi melepas cincin pemberian Aezar.
"Ana, kamu masih memakai cincin itu?"
"Iya, setelah lama aku pertimbangkan, buat apa aku harus melepasnya lagi.
"Apa artinya kau menerima aku?" Binar bahagia terlihat di mata Aezar.
Kirana mengangguk. "Iya."
Aezar tak percaya, dia masih mencari kebenaran tentang ucapan Kirana, dipegang dua bahu kanan dan kiri milik sang wanita. "Jika kami serius, aku akan segera membuat acara pertunangan kita diketahui oleh publik, aku akan umumkan pada dunia kalau kamu akan menjadi milikku."
"Aezar, jangan berlebihan, kamu dan keluargamu akan malu jika mereka mencoba mencari tahu siapa aku dan mencari tahu latar belakang yang aku miliki."
"Kenapa harus malu? Kamu tahu sendiri bagaimana papa waktu itu mengejek serta merendahkan aku, papa bilang aku adalah lelaki yang payah karena tidak bisa membuatmu jatuh cinta. Akan aku buktikan kalau aku bisa mendapatkan hati wanita yang aku cintai."
Kirana hanya bisa tersipu mendengar pengakuan Aezar. Aezar memang keras kepala, jika dia sudah berkehendak, maka zak akan bisa untuk dirubah lagi.
"Baiklah Tuan Aezar, jika itu yang anda inginkan, apa yang bisa hamba lakukan." Kirana hanya bisa menyerah dengan keinginan Aezar."
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari rumah sakit. Aezar menggandeng Kirana dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri dia masukkan di saku celana. Saat keluar rumah sakit penampilan Aezar begitu berbeda. Sama sekali tak terlihat seperti seorang dokter yang dikagumi oleh ratusan pasiennya, melainkan lebih mirip lelaki sederhana yang romantis dan penuh dengan tatapan cinta pada kekasihnya.