
"Rey!!" Kirana memekik keras saat di negara asing pun dia bertemu dengan sosok yang ingin dihindari.
"Hai Nona, nama saya bukan Rey." lelaki itu menolak dipanggil Reyhan. dia lalu mengulurkan tangannya ingin berkenalan.
Tapi Kirana tidak mungkin salah, lelaki di depannya sungguh mirip dengan Reyhan, meski ada yang berbeda dengan gaya bicaranya. Jika Reyhan akhir-akhir ini nampak tak memperhatikan penampilan, tapi lelaki ini berpenampilan sangat rapi.
Kirana menjabat tangan lelaki yang mirip sekali dengan Reyhan, karena sejak tadi tangan itu sudah menggantung di udara. "Saya Kirana." ujarnya.
"Saya Raka, panggil saja dengan nama itu, jangan Reyhan, karena Reyhan bukan namaku" ujar lelaki yang mirip sekali dengan Reyhan.
"Tapi anda sangat mirip dengan seseorang yang saya kenal di indonesia, anda bukan hanya mirip, tapi bisa dibilang anda seperti saudara kembar? Jika tidak percaya anda bisa lihat foto-fotonya."
Lelaki itu terdiam, seakan sesuatu yang dia sembunyikan selama ini dan tidak ingin diketahui orang lain kini semuanya sudah terbongkar. Kirana tahu dan mengenal soal Reyhan.
"Reyhan, benarkah dia mirip denganku." tanyanya menguji kebenaran.
"Iya, kalau tidak percaya Niko akan kirim fotonya sekarang juga. Tunggu sebentar." Kirana kebetulan sudah tidak menyimpan foto Reyhan lagi.
Kirana meminta Niko untuk mengirim beberapa foto Reyhan. Niko dengan cepat mengabulkan permintaan Kirana, beberapa foto sudah terkirim dan langsung masuk di galeri Kirana. Kirana menunjukkan pada lelaki yang menyebut dirinya Raka itu.
Raka tersenyum, lalu mengambil ponsel Kirana. " Ya kau benar, Reyhan, dia adalah anak kesayangan Papa. Apakah dia lelaki spesial untukmu?"
"Tidak lagi, dia mantan suamiku," jawab Kirana dengan jujur.
"Wooow." Raka tidak percaya dunia mendadak jadi sempit seperti daun kelor. "Kakak ipar."
"Bukan, kita sudah mantan, aku bukan iparmu lagi."
__ADS_1
Raka bisa melihat kalau Reyhan sudah menorehkan luka yang dalam di hati Kirana. Raka tahu semuanya dari iris mata Kirana yang tiba-tiba saja sendu. Kirana tiba tiba menangis.
"Ana, maaf jika membuatmu sedih." Raka memberikan sapu tangan pada Kirana. Kirana meraih saputangan dari Raka, lelaki yang begitu mirip dengan Reyhan.
Saat ingin memakainya untuk mengusap airmata, Kirana ingat dia juga menyimpan saputangan dari Aezar. Maaf, aku baru ingat kalau aku juga bawa."
"Sudah pakai aja punyaku."
"Tidak, aku sudah bawa."
"Apa karena aku mirip Reyhan, jadi kau tidak mau menerima apapun dariku."
"Bukan begitu. Serius aku sudah bawa."
Kirana menunjukkan saputangan yang ada inisial nama mereka berdua yaitu K dan A yang artinya Kirana dan Aezar.
Raka menyimpan kembali saputangannya. Lelaki itu terus menatap Kirana dengan intens. Dalam benarnya terbersit sebuah tanya, kenapa Reyhan menceraikan wanita secantik Kirana? Kirana juga gadis baik, bahkan juga menyenangkan.
"Kalau kau mencintai Reyhan kenapa kalian bercerai?"
"Tidak, aku sudah melupakan dia, hanya saja nama itu selalu mengingatkan pada kematian calon suamiku."
"Oh ...." Raka terlihat memahami kesedihan Kirana.
"Tidak, aku tidak bermaksud menuduh Reyhan, hanya saja aku perlu mencurigai dia, karena dia lelaki yang diduga berpotensi besar melakukan pembunuhan berencana ini. Aku datang kesini akan mencari orang suruhan yang menjadi kunci pokok, dengan begitu Reyhan tidak bisa berdalih lagi.
"Aku akan membantumu, Ana."
__ADS_1
"Tidak perlu Raka, aku akan mengurus semuanya sendiri."
"Kamu pasti bisa, tapi sesama orang Indonesia, bolehlah aku membantu tanpa kamu minta, Tenang aja, aku tidak akan minta bayaran."
Kirana tertawa. "Siapa yang mau membayar mu? aku tidak punya uang untuk membayar orang hebat seperti anda," canda Kirana.
Mereka terus berjalan santai sambil menuju mobil Raka yang bertengger di parkiran bandara. Tak terasa kini sudah sampai.
"Kau tersesat, biar aku yamg mengantarmu ke hotel, tempat kamu menginap."
"Terimakasih Tuan, tapi tidak perlu, biar aku meminta bantuan driver saja."
"Wanita secantik kamu tidak aman berkeliaran sendiri, percayalah, Aku akan membantumu, Aku bukan orang jahat. Ana" Raka mengambil koper Kirana dan koper miliknya sendiri lalu memasukkan ke bagasi.
"Baiklah jika kau memaksa."
Kirana setuju karena yakin Raka bukan orang jahat. Kirana lalu masuk di sebelah kemudi. sedangkan Raka duduk di depan kemudi.
Mobil milik Raka segera meluncur ke hotel tempat Kirana akan menginap. Sebuah kebetulan kembali terjadi, ternyata Raka juga menginap di salah satu kamar hotel bintang lima ini.
"Ini hotel yang kamu pesan, Aku juga tinggal disini, jadi jangan bilang terimakasih padaku."
Kirana tersenyum. "Baiklah aku tidak akan mengatakannya." Kirana lalu turun dan menunggu Raka membuka bagasi dimana kopernya tersimpan.
Mereka berjalan bersama menaiki lift. Kirana lebih dulu keluar lift karena mendapat nomor kamar yang lebih kecil.
"Ana, aku minta kartu namamu." Raka ikut keluar, mengejar Kirana.
__ADS_1
"Baiklah," Kirana mengambil kartu nama miliknya lalu menyodorkan pada Raka.
"Oke, nanti aku hubungi, atau hubungi aku kalau butuh sesuatu. Ini kartu namaku." Raka memberi satu kartu namanya pada Kirana yang diambil dari saku kemejanya.