Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 36


__ADS_3

"Rey kenapa harus ada asisten."


"Ya, supaya kebutuhanmu sehari hari terbantu oleh asisten, kamu bisa minta tolong antarkan dia kemanapun yang kamu mau, dan kamu ada teman saat sedang takut sendirian di apartement."


Clara tentu tidak senang dengan rencana Reyhan, itu artinya durasi pertemuan mereka lebih sedikit. Tidak ada lagi alasan menelepon malam-malam minta untuk ditemani.


"Rey apakah kamu sengaja ingin menjauhiku?" Clara tidak bisa menghilangkan kecemasan di hatinya.


"Tentu tidak, ini semua untuk kebaikanmu, supaya kamu tidak lagi kelelahan dan sering pingsan," kata Reyhan.


Reyhan lalu membaringkan Clara di ranjangnya dan berniat untuk pulang. Clara menahan lengan Reyhan membuat mereka berdua saling pandang.


"Rey, apakah kamu tidak ingin mencium keningku sebelum pula?" Clara menatap Reyhan dengan mata sayu.


Reyhan tersenyum lalu dia mengecup kening Clara. Clara menggigit bibir bawahnya, berharap supaya Reyhan mencium bibirnya. akan tetapi panggilan ponsel disaku Reyhan menggagalkan semuanya.


Reyhan bergegas bangkit dan menerima panggilan dari ponselnya.


'Sial, mengganggu saja,' sungut Clara dalam hati.


Reyhan lalu keluar sambil menerima telepon. "Halo, ada apa Niko?"


"Hallo Tuan, maaf saya hanya salah pencet." Niko tadi sebenarnya memergoki Clara dan Reyhan saling menatap. Entah kenapa Niko tidak suka Clara terus memanfaatkan majikannya.


"Oh. aku pikir ada yang sangat penting." Reyhan segera masuk ke mobil menyusul Niko.


"Tidak Tuan. Cuma salah pencet," jawab Niko. Lalu Reyhan meminta Niko mengantarnya pulang saja.


***


Kirana mendapat kabar kalau papanya sakit, Kirana segera pulang menemui keluarganya yang masih tinggal di kota yang sama, yaitu Surabaya. Hanya saja jaraknya dengan perusahaan lumayan jauh. hingga Kirana memilih tinggal di rumah sendiri daripada pulang ke rumah orang tuanya.


Mengetahui Kirana akan pulang, Aezar segera mendaftarkan diri untuk jadi sopir pribadi, dan Kirana yang tadinya keberatan akhirnya mengizinkan Aezar ikut.


Dua jam perjalanan ditempuh dengan kecepatan santai, Kirana dan Aezar akhirnya tiba setelah hari mulai gelap.


Ketika mobil Aezar tiba di halaman luas, milik keluarga Kirana, asistent dan mamanya segera keluar dan menunggu Kirana turun.

__ADS_1


Mama terkejut begitu melihat Kirana datang dengan laki-laki lain selain Reyhan. Kirana memang tak memberitahukan masalah pribadinya pada kedua orang tuanya. Akan tetapi mereka tetap tahu segalanya.


"Kirana." Mama memeluk manja putrinya.


"Mama, Kirana kangen banget sama Mama dam papa. Maaf baru bisa pulang."


"Mama tahu kamu pasti sangat sibuk akhir-akhir ini." Mama berusaha untuk tidak bertanya hal-hal yang membuat Kirana makin sedih.


"Ayok Kirana, temannya diajak masuk," kata Mama sambil bersalaman pada Aezar. lelaki itu meski dibilang anak konglomerat, tetap saja dia membungkuk pada orang tua Kirana dan mencium tangannya dengan takzim.


Mereka bertiga lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Tak lama bibi mengeluarkan banyak hidangan dan minuman segar penghilang dahaga untuk Aezar.


Lalu Kirana pamit untuk menemui Papa yang tengah melihat kedatangannya dari balkon, Atmaja duduk di kursi rotan dengan wajahnya yang pucat dan sedikit kurus. Namun pandangan matanya tetap saja madih sangat jelas


"Papa sebenarnya sakit ringan Kirana, tensinya naik sedikit. Tapi yang jelas saat ini Papa sangat kangen sama kamu," Eluh Atmaja ketika kirana mendekatinya dan melingkarkan lengan, memeluk sang papa.


"Maaf Pa, Kirana bukan ingin melupakan kalian, tapi Kirana akhir-akhir ini sangat sibuk." Kirana masih enggan membuka masalah pribadinya di depan papa, apalagi kondisinya sedang sakit.


"Papa sudah tahu, Ana. Sejak awal Papa sudah merasakan sebuah firasat kalau kamu akan kecewa dan merasakan penderitaan ini. Dulu kamu kekeuh ingin kami mengadopsi Clara, dan sekarang wanita itu selalu merebut kebahagiaan mu. Dia iri dengan apa yang kamu miliki."


"Ana tidak berfikir sejauh itu Pa, Ana kira Clara adalah teman yang baik dan dia tidak memiliki hati yang buruk pada, Ana. Melihat teman yang hidup begitu sulit dan menderita, Ana tidak mungkin tega."


"Siapa pria itu? Dimana Reyhan? pancing Atmaja meski dia sudah tahu kehidupan putrinya melalui mata-mata yang dikirim secara diam-diam.


"Reyhan?" Kirana mulai menangis tersedu di punggung papa. Atmaja menarik bahu Kirana dan meminta duduk disebelahnya.


"Ceritakan pada Papa, biar semuanya lebih ringan. Jangan dipikul sendiri"


"Kirana terpaksa bercerai karena Reyhan ...."


"Lebih memilih Clara?" potong Atmaja.


"Iya, Reyhan tidak pernah mencintai Ana, bahkan Reyhan meragukan bayi yang Ana kandung." kata Kirana dengan suara tersedu.


Atmaja tersenyum. "Setiap masalah yang kita hadapi sesungguhnya itu semua mengajari kita untuk lebih dewasa. Akan tetapi jika beban itu terlalu berat untuk dipikul, tak ada salahnya dilepas. Tapi papa tahu kamu selama tujuh tahun ini sudah berusaha mencintai Reyhan dengan tulus, Akan tetapi jika ketulusan itu Tidka cukup baginya, lepaskan saja. Biarkan Reyhan terbebas dan menilai siapa yang sesungguhnya lebih memiliki cinta dan ketulusan.


"Papa, Jadi papa tidak malu memiliki putri seorang janda."

__ADS_1


"Kenapa papa malu. Papa justru bangga melihat perjuanganmu selama tujuh tahun ini."


Kirana terharu dengan hati besar papanya. Kirana memeluk Atmaja sekali lagi. Kirana menangis di pundak sang Papa. Rasanya beban yang mengganjal di hatinya kini sedikit berkurang.


"Siapa dia? apakah pacar baru kamu? Dia tampan dan kelihatannya juga baik."


"Dia anak Komisaris Abraham, papa tentu tahu siapa mereka."


"Apa!"


"Kenapa papa terkejut?"


"Tidak, Papa hanya tidak percaya kamu berteman dengan keluarga ningrat itu."


"Aezar sangat baik Pa, dia yang selama ini ada saat Clara merasa sendiri."


"Dari tatapan matanya, Papa bisa merasakan kalau dia memiliki getar cinta padamu."


"Pa." Kirana tersipu.


"Pikirkan baik-baik, jika kalian berdua cocok dan hubungan kalian membawa kebaikan, bisa dilanjutkan sampai pernikahan, tapi jika hubungan kalian kembali membawa penderitaan satu sama lain, Lebih baik lepaskan. Karena papa akan sangat malu kalau sampai putri Papa menjadi janda untuk yang kedua kalinya.


"Pa, Aezar terlalu baik untuk dapat wanita seperti Kirana, Aezar berhak menikah dengan seorang gadis."


"Hmmm, tapi papa rasa dia tidak mempermasalahkan statusmu, Papa rasa Aezar sudah tergila-gila dengan putri papa yang cantik ini." Atmaja mencubit gemas pipi Kirana.


"Pa." Kirana masih malu-malu.


"Hm."


"Apakah papa setuju kalau misalnya Aezar melamar Kirana."


"Kok jadi tanya ke papa? Kalau papa setuju saja, tapi yang jalanin semua kan kamu?"


"Artinya papa setuju?"


"Iya, asalkan kamu sudah nyaman sama dia. Papa akan merestui kalian.

__ADS_1


"Baiklah Pa, Kirana akan mencoba membuka hati untuk Aezar," ucap Kirana.


"


__ADS_2