Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Bab 15


__ADS_3

"Apakah benar istri anda sudah menceraikan anda." Tanya Fiona.


"Semua itu hanya sebuah pilihan, kami tidak bisa melanjutkan hubungan pernikahan, bukan berarti hubungan yang lain akan ikut terputus, saya akan terus mendampingi dia dan memberi dukungan maksimal untuk mantan istri saya."


Kirana mendadak menjadi pendiam, dia kembali duduk setelah Reyhan membimbing tubuhnya untuk kembali menempati kursi bekas duduknya. Reyhan duduk disebelah Kirana, sesekali dia tersenyum pada wanita yang tengah diam tanpa ekspresi itu.


Fiona yang hendak pergi juga kembali duduk di depan Reyhan dan Kirana. Fiona merasa kalau Reyhan masih sangat mencintai istrinya. Hati kecilnya berkata sangat disayangkan jika pasangan serasi itu harus bercerai.


"Kalau begitu maafkan saya sudah membuat kekacauan ini, saya berjanji akan memperbarui surat kontrak ini." Fiona meremas robekan surat kerjasama dengan penyesalan yang dalam.


"Bu Kirana, Saya akan menerima kerja sama ini, maafkan saya tadi telah memandang remeh anda." Fiona terus meminta maaf.


Fiona mengulurkan tangan pada Kirana, tanda kerja sama akan terus berlanjut.


Kirana dengan ragu menjabat tangan Fiona untuk yang kedua kalinya.


"Bu Kirana apakah anda masih memiliki minat yang sama seperti tadi."


"Ya," jawab Kirana singkat, meski sorot matanya sudah tak berbinar seperti tadi.


"Berarti anda setuju dengan kerja sama ini, mungkin sekarang justru saya yang meminta untuk kerja sama dengan perusahaan anda," kata Fiona.


"Ya, aku setuju." Kirana mengangguk dan memaksa senyumnya. Fiona seperti menyadari perubahan ekspresi Kirana yang merasa kecewa dengannya.


"Bu Kirana anda pasti menilai saya sangat buruk, tapi saya akan berusaha untuk tidak membedakan siapa pimpinan perusahaan, baik anda atau Pak Reyhan, karena setahu saya kalian masih saling mencintai. Mungkin anda khilaf telah merencanakan sebuah perceraian. Saya berharap hubungan kalian akan bisa diperbaiki lagi," ujar Fiona sebelum pergi.


Kirana dan Reyhan masih belum bergeming dari tempat duduknya. Reyhan kembali memandang wajah sendu istrinya.


"Kamu kesini tadi dengan siapa?" Tanya Reyhan


"Diantar sopir." Jawab Kirana singkat. Wanita itu mulai berkemas.


Kirana keluar dan Reyhan mengekor di belakangnya. Kirana melihat sopir yang bekerja di perusahaan miliknya masih menunggu dengan sabar.


"Bu Kirana apakah kita balik kantor sekarang." Pak sopir bertanya karena melihat Reyhan ada di dekatnya.


"Iya, Pak," jawab Kirana disertai anggukan. Sopir segera membuka pintu penumpang untuk Kirana.


Reyhan kembali menahannya, lelaki itu menggenggam pergelangan tangan calon mantan dengan erat. "Kirana tunggu!"


"Pak anda bisa balik kantor lebih dulu, Bu Kirana biar bareng sama saya saja."


"Rey!" Kirana tidak suka dengan Reyhan yang masih mengatur hidupnya.


"Ana, kamu terlihat sangat lelah, bahkan semalam kamu tidur di kantor tanpa pulang. Sekarang biar aku antar kamu pulang. Jam kantor juga sebentar lagi habis." Reyhan melihat arlojinya sekilas.

__ADS_1


Kirana terkejut dengan Reyhan yang tiba tiba perhatian, sungguh lelaki itu paling pandai mengobrak-abrik pertahanan yang sudah Kirana buat. Kirana sudah membentengi dirinya dengan pagar kokoh agar tidak jatuh dalam pesona Reyhan. Tapi bagaimana lagi, jika menyangkut urusan hati, otak kadang memang seringkali kehilangan fungsi.


Reyhan menarik lembut tangan Kirana ke mobil, Tak ada pilihan bagi Kirana untuk menolak. Sopir yang bersamanya sudah pergi diusir Reyhan.


Lelaki itu membuka pintu untuk Kirana seperti seperti yang dilakukan sopir tadi. Kirana heran kenapa Reyhan selalu berubah ubah, sebentar perhatian, sebentar cuek dan kadang juga pemarah.


"Aku duduk dibelakang saja." Kirana menolak duduk di dekat kemudi.


"Duduk di sebelahku, aku bukan sopir."


Kirana duduk di depan karena Reihan mendesaknya. Reyhan segera berlari memutari mobil dan duduk di kemudi.


Sebelum menyalakan mesin, Reyhan menoleh dan memandangi wajah wanita yang akan menjadi mantan istrinya.


"Aku mau pulang sekarang."


"Baiklah." Reyhan mencondongkan tubuhnya, Kirana semakin menjauh karena takut Reyhan akan memanfaatkan situasi seperti di villa tempo hari.


Reyhan membantu Kirana memasang seatbelt.


Kirana membiarkan Reyhan yang bersikap lembut padanya, toh sebentar lagi mereka akan berpisah. Akan tetapi apa penyebab Reyhan berubah demikian perhatian?" Hal itu yang belum diketahui oleh Kirana.


"Apakah saat ini kamu sangat membenciku?"


"Iya," jawab kirana singkat.


"Iya. Aku menyesal pernah sangat bodoh," jawab Kirana sambil tetap memandang lurus ke depan.


"Kirana, lihat aku!" Reyhan menarik dagu Kirana wanita itu menunjukkan sorot kebencian yang amat besar.


Reyhan terkejut Kirana benar-benar membencinya. Tidak ada tatapan lemah seorang istri yang sangat menginginkan cinta suaminya seperti dulu.


"Reyhan berhenti berulah." Kirana menepis tangan Reyhan.


"Antar aku pulang sekarang atau aku turun!" Kirana berkata dengan ketus.


"Baiklah."


Reyhan menarik nafasnya berat. Entah kenapa tiba-tiba dadanya menjadi sesak.


Tring! Tring! Ponsel Reyhan berdering. Lelaki itu berniat mengacuhkannya.


Akan tetapi orang di seberang sana terlihat berusaha lebih keras. Tak terima panggilannya diabaikan begitu saja.


Tring! Tring! Tring!

__ADS_1


"Angkat saja, tidak usah pedulikan aku, sebentar lagi kita akan menjadi orang lain, dia sepertinya sangat mengkhawatirkan kamu." Kirana tersenyum sinis, setelah tahu nama yang tertera di ponsel Reyhan adalah kekasihnya.


"Hallo, Rey." Suara Clara merintih seperti sedang kesakitan.


"Rey kamu dimana?" Clara bertanya dengan tidak sabar.


"Aku ada di depan cave B, ada apa? Katakan apa yang telah terjadi?"


"Sakit Rey, aku merasakan tubuhku sangat sakit, hiks. Bisakah kamu datang kesini sekarang." Suara Clara terdengar lemah membuat Reyhan kembali dilanda khawatir.


"Baiklah, aku akan kesana, tunggu aku sebentar Cla."


Melihat ekspresi wajah Reyhan dia tahu apa yang terjadi, Kirana segera membuka seatbelt dan turun dengan cepat.


Kirana membanting pintu mobil dengan kencang, Reyhan tahu Kirana marah. Tapi keadaan yang membuatnya kembali membuatnya kecewa.


'Bodoh sekali Kirana, bagaimana bisa sesaat tadi kamu ragu dengan keputusanmu, Reyhan masih sama, dia tidak memiliki rasa apapun untukmu, selain hanya bisa menyakiti. Wanita di hatinya hanyalah Clara,' pikir Kirana sambil berjalan pergi.


Mobil Reyhan melaju kencang melewati dirinya begitu saja, Bibir kirana tersenyum, tetapi mata tetap menitikkan air mata.


Kirana seakan terus merasakan sakit yang tak berkesudahan jika masih bersama Reyhan. Tapi kenapa lelaki itu selalu muncul di depannya disaat dia tak ingin bertemu lagi.


"Kamu tahu bagaimana sakit yang aku rasakan selama ini Rey. Kamu dan Clara harus menebus rasa sakit ini dengan derita yang sepadan. Kamu pikir siapa dirimu bisa menyakitiku berulang kali seperti ini." Kirana mengusap air matanya kasar.


***


"Clara apa yang terjadi!?" Reyhan dengan wajah panik dan langkah tergopoh masuk ke rumah Clara.


Reyhan terkejut Clara baik baik saja.


"Rey." Senyum Clara mengembang melihat lelaki yang membuat hatinya jungkir balik telah datang.


"Kenapa kamu berbohong! Kenapa Clara!" Reyhan sangat marah melihat Clara baik-baik saja.


"Rey, aku tadi benar-benar sakit Rey. Uhuk!" Wajah yang sempat tersenyum lebar itu mendadak menjadi lemah. "Mungkin karena melihat kamu datang, aku jadi terlalu bersemangat. Dan rasa sakit yang kurasakan seakan hilang."


Reyhan yang melihat Kirana mendadak pucat dia urung memarahinya.


"Jika masih sakit, istirahatlah aku masih ada urusan." Reyhan kepikiran Kirana yang dia tinggalkan begitu saja.


"Aku tahu kamu pasti akan menemui Kirana? Apakah kamu mulai jatuh cinta padanya?"


Reyhan diam, dia juga tidak mengerti dengan perasaan saat ini, siapa sesungguhnya wanita yang bisa membuatnya nyaman. Tapi kenapa ketika rumah tangganya di ambang perpisahan justru dia mulai peduli dan takut akan kehilangan wanita yang selama ini selalu sabar menerima sikapnya.


Melihat Reyhan dalam kebimbangan, Clara segera menariknya ke minibar yang ada di rumahnya, wanita itu pura-pura telah menyiapkan makan malam romantis.

__ADS_1


"Rey, aku sebenarnya sudah menyiapkan makan malam untuk kita berdua."


Clara menyalakan lilin untuk Reyhan dan mematikan lampu besar. Jarak Clara dan Reyhan kini sangat dekat, gadis itu tersenyum lembut sambil memberikan segelas wine yang sudah dicampur dengan obat. "Rey jangan buru-buru pergi."


__ADS_2