
"Fiona, aku sudah selesai." Kirana beranjak dari duduknya sambil mengalungkan tas selempang di pundak.
"Baiklah kita keluar bersama." Fiona juga sudah selesai melakukan pijat message. tubuhnya kini terasa ringan.
Saat keluar sosok Aezar sudah menunggu di depan SPA. "Maaf terlalu lama menunggu." Kirana mendadak formal di depan Aezar karena ada Fiona.
"Tidak masalah. aku bisa menunggu sambil bermain ponsel," jawab Aezar. Aezar berjalan sambil menggamit lengan Kirana. Fiona memelankan langkahnya lalu memilih berjalan di belakangnya.
Fiona yang tahu kisah Clara dan Kirana mendadak mendukung hubungan mereka, Fiona satu-satunya klien yang mengerti Kirana.
***
Reyhan hanya makan beberapa sendok, lalu ingin menyudahinya. "Kenapa Rey?"
"Entahlah, aku mendadak menjadi tidak selera makan."
"Rey, apakah kamu sakit?" Clara memegang kening Reyhan yang terlihat baik-baik saja.
"Oooh, aku tahu. Kamu memikirkan Kirana kan? Kamu memikirkan Kirana yang sekarang entah sedang apa bersama kekasih barunya."
Reyhan menggeleng pelan. "Kenapa sekarang kamu jadi hobi membicarakan Kirana dibelakangnya?"
"Karena kamu terus memikirkan dia."
"Aku tidak memikirkan dia!!" Reyhan membentak Clara.
"Bohong!!" Suara Clara tidak kalah tinggi wanita itu berdiri lalu meraih tisu untuk mulutnya selalu membuangnya di atas piring yang masih terdapat makanan.
"Clara duduk!!"
"Aku tidak ingin bersama lelaki yang tidak pernah punya rasa terimakasih." Clara keceplosan bicara membuat Reyhan makin kecewa dengan sikapnya.
"Clara apa maksud kamu?"Reyhan mendengar dengan jelas ucapan Clara membuat lelaki itu kecewa. Akan tetapi rasa kecewanya dia abaikan karena Reyhan khawatir akan berpengaruh pada kesehatan wanita itu.
Clara menghilang dari restaurant, Reyhan mulia panik mencari keberadaan wanita itu. Reyhan mencoba menghubungi beberapa kali dan Clara mengabaikannya, dan terakhir ia malah mematikan ponsel.
"Sial!" Reyhan mengumpat dan nyaris membanting ponselnya. Akan tetapi begitu dia ingat betapa banyak sesuatu yang berharga di dalam ponsel itu, Reyhan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Reyhan bertanya pada beberapa orang yang dia lewati, dengan menunjukkan foto Clara. "Apakah anda melihat wanita ini? sekitar lima menit yang lalu dia berlari ke arah sini."
"Tidak, aku tidak melihatnya."
Beberapa orang menjawab tidak tahu, tetapi ada satu wanita yang melihatnya. "Aku tadi melihat wanita dengan wajah sangat mirip dengan gadis ini, dia menangis sambil berlari ke rooftop.
Reyhan sudah merasakan firasat buruk. Buat apa Clara lari ke rooftop, pasti wanita itu akan melakukan hal-hal yang ekstrim lagi.
____
Reyhan mengejar Clara ke rooftop.
"Clara berhenti!"
"Jangan mendekat Rey, aku tahu kamu tidak peduli sama aku, kamu hanya peduli sama Kirana. Percuma jika kita bersama tapi hati kamu hanya untuk dia."
"Clara, kamu salah sangka, aku sudah memutuskan untuk terus bersama kamu."
"Tapi kamu melakukannya semua karena terpaksa Rey."
Reyhan memelankan suaranya, dia seakan memohon Clara untuk berpikir jernih dan jangan terlampau menuruti emosi. "Clara kalau begitu katakan apa yang kamu inginkan?"
Clara tersenyum, hatinya bersorak. Kali ini Reyhan tidak akan bisa menolak lagi permintaannya untuk menyingkirkan Kirana dari perusahaan sekaligus membuatnya malu.
Clara menangis terisak isak. Lalu mengatakan dengan nada sedih seolah dirinya adalah manusia paling terzalimi di dunia ini. "Rey, aku minta Kirana minta maaf padaku karena sudah memaksaku minum obat penggugur kandungan itu, dan aku ingin Kirana mengakui perbuatannya di depan para klien yang sudah merendahkan aku tempo hari, aku tidak mau ada penolakan dari Kirana, Rey. Aku bukan perebut suaminya, kamu dan aki saling mencintai."
"Clara, Kirana tidak akan setuju, kamu tahu dia juga telah kehilangan bayinya, dan dia juga mengalami hal berat seperti yang kamu alami saat ini."
"Benar kan Rey? Kamu saja tidak akan setuju, Kamu memang tidak sungguh sungguh mencintaimu, kamu selama ini hanya pura pura cinta padaku karena telah menyelamatkanmu waktu itu."
"Aku sudah melakukannya Clara, dan Kirana tidak setuju," jawab Reyhan.
Baiklah, jika itu yang kamu inginkan aku akan loncat dari sini, supaya kamu bahagia Rey, tidak ada lagi wanita yang akan merepotkan kamu lagi."
Clara sudah siap-siap untuk meloncat, dia memanjat satu persatu pagar dan merentangkan tangannya.
Clara memang tak sepenuhnya salah, Reyhan dulu sangat mencintainya, tapi kali ini Reyhan mulai sadar kalau Clara adalah wanita egois. Clara selalu menginginkan hal yang diluar nalar dengan mengancam, tindakannya sama sekali tidak elegan. Clara terkadang juga kekanakan.
__ADS_1
"Turunlah Clara." Reyhan mengulurkan tangannya dan memohon agar Clara turun.
Clara menggeleng." Lepaskan aku Rey, jika aku pergi, kamu tidak akan terbebani dengan keberadaan ku lagi."
"Clara, jika kamu ingin aku menuruti semua keinginan mu, maka kamu harus turuti apa kata-kataku." Reyhan memohon dengan penuh kesabaran.
Clara berlahan menurunkan kakinya, akan tetapi saat kakinya menyentuh tanah. Tubuhnya tiba-tiba lemas, Clara kembali pingsan dan Reyhan menangkapnya.
Reyhan segera meminta bantuan Niko untuk membantu membawa Clara ke rumah sakit, Niko yang ada di kantor segera datang dan membantu Reyhan.
"Tuan, kenapa Nona sering pingsan dan terus sakit seperti ini? Saya khawatir akan kondisinya yang lemah, ternyata dia mengidap penyakit berbahaya," kata Niko.
'Sial, mulut kacung ini lancang sekali, bisa-bisanya dia bilang aku mengidap penyakit berbahaya.' Clara mengumpat dalam hati
"Entahlah, Niko. Kalau menurutmu apa yang harus aku lakukan."
"Sebaiknya Nona, di bawa ke dokter umum saja, supaya dokter memeriksa penyebabnya. Aku lihat dia selalu pingsan saat sedang menghadapi masalah. Dan masalah itu tidak terlalu berat," kata Niko yang tidak perduli Clara mendengar atau tidak, yang jelas Niko sangat kesal melihat Reyhan yang selalu percaya.
Awalnya Niko memang kasihan, tapi lama-lama dia merasa kalau Clara melakukan semuanya hanya untuk mengambil simpati Reyhan saja.
"Clara menggeliat setelah mobil mengarah ke rumah sakit, kali ini Clara tidak menolak di periksa. Kalau pun dia menolak, Niko pasti akan mempengaruhi Reyhan dibelakangnya.
Clara dibawa masuk ke UGD oleh Reyhan dengan digendong, Clara menolak perawat yang membawakan kursi roda untuknya.
Tiba di UGD Reyhan segera membaringkan Clara di ranjang pasien. Dokter segera memeriksa kondisi Clara. Dokter mengatakan kalau Clara tidak perlu dirawat inap, dia hanya butuh istirahat yang cukup.
"Tapi Dokter kira-kira penyakit apa yang membuatnya sering pingsan."
Dokter terkejut ketika Reyhan mengatakan Clara sering pingsan. Dokter memeriksa ulang kondisi Clara. Sesekali kening dokter mengerut membentuk lipatan, detak jantung baik, suhu tubuh normal, tekanan darah juga aman
"Tuan, jika Nona memang sering pingsan, mungkin karena dia terlalu stress, tugas anda menjaga bagaimana Nona Clara tetap bahagia dan tidak kelelahan, pingsan Nona Clara bisa jadi karena lelah," kata Dokter.
Reyhan mengangguk setuju. "Baik Dok."
Dokter pergi ke meja dan menuliskan resep, lalu memberikan pada Reyhan. Setelah Resep di tangan, Reyhan mengambil obat di apotek lalu menjemput Clara kembali di UGD. Niko dan Reyhan lalu mengantar Clara pulang ke apartement.
Reyhan juga meminta asisten untuk bekerja bersama Clara, Rayhan tidak mau Clara terus mengganggunya disaat dia sibuk bekerja. Dengan begitu Clara tidak ada alasan terus merengek untuk minta ditemani karena kesepian.
__ADS_1