Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Cintai aku lagi seperti dulu.


__ADS_3

Kirana tiba kembali di rumah mewahnya. Rumah yang begitu banyak dengan kenangan bersama Reyhan.


Kirana keluar dari mobil setelah Raka berhenti di taman, membuka kunci pintu mobil dengan bantuan remote otomatis.


"Sampai ketemu besok, Ana" pamit Raka, sebelum dia kembali melajukan mobil milik Kirana yang dipinjam sementara. Selama tinggal di Indonesia Raka tidak pulang ke rumah orang tuanya, melainkan tinggal di hotel.


Raka sangat membenci keluarganya termasuk Reyhan. Semua berawal ketika Raka diberi perusahaan yang berada di Washington, perusahaan kecil yang nyaris bangkrut. Sedangkan Reyhan diberi sebuah perusahaan besar yang tengah berkembang dengan pesat. Raka berfikir keluarga hanya menyayangi Reyhan dan sengaja menyingkirkan dirinya jauh ke luar negeri.


Sesungguhnya yang dipikirkan Raka tidak sesuai dengan apa yang terjadi, Orang tua sama-sama menyayangi kedua anaknya, hanya saja mereka menganggap kalau Reyhan lebih pantas mengelola perusahaan yang ada di dalam negeri karena ada alasan khusus.


Kirana segera mandi di bathup, berendam setelah beberapa hari ini tidak begitu peduli dengan perawatan tubuhnya. Kirana ingin ke salon kecantikan besok setelah lelah dari perjalanan jauh terobati.


Kelopak mata Kirana terpejam sambil meresapi kehidupan yang kini sedang ia jalani, takdir seperti terus mengujinya hingga lelah.


Tiba-tiba dalam bayangannya muncul anak kecil bermain di taman, lalu berlari mendekati dirinya yang tengah mengenakan baju santai khas ibu-ibu rumahan. Tak lama mobil terhenti di parkiran, anak kecil yang memeluk tubuhnya terus memandang mobil yang baru berhenti sambil berteriak. "Papa!!" yang muncul dari mobil adalah sosok laki laki berwajah mirip Reyhan dan Raka.


Kirana segera membuka mata, dia rupanya terlalu jauh berhalusinasi. Karena hidup sendiri di rumah megah, membuat dirinya kerap menjadi kesepian.


"Apa yang aku pikirkan, kenapa harus memikirkan mereka, tidak, aku tidak ingin kembali dengan Reyhan atau memilih Raka." Kirana memeluk lututnya dengan linglung, dia tadi tertidur

__ADS_1


Kirana segera keluar bathup, dia tidak mau terus kepikiran hal yang menurutnya halu. Kirana segera berdandan dan ingin jalan-jalan menghibur diri.


Kirana berpakaian rapi, sebuah atasan warna putih tulang dengan lengan balon serta bawahan kulot warna hitam, sepatu setinggi tujuh centi membuat penampilannya nampak elegan. Rambut diikat di belakang disisakan bagian poni saja, tak lupa kaca mata besar membuat dirinya terlihat begitu cantik dan muda.


Bibi juga diajak jalan-jalan. Kirana ingin membelikan bibi banyak baju dan mencicipi menu restaurant.


Bibi hari ini sangat senang, sedangkan Kirana berusaha untuk bahagia. Dia tidak mau luka lama terus menggerogoti daging dan sum-sumnya.


Tiba di Mall, Kirana dan Bibi sedang memborong baju dan aksesoris, Kirana ganti ponsel dan juga membeli banyak perhiasan. Tidak tahunya ada Reyhan yang sudah mengikuti sejak datang tadi.


"Ana, aku ingin bicara!" Reyhan menarik bahu kirana, mengajaknya sedikit menjauh dari keramaian.


"Nyonya!" Bibi berteriak ingin minta tolong tapi setelah tahu yang membawanya Reyhan, Bibi kembali diam. Sesungguhnya di benak Bibi masih ingin melihat Reyhan yang sudah berubah bersatu dengan Kirana.


"Aku sengaja ngikutin kamu dan Bibi."


"Buat apa kamu ngikutin aku Rey? Itu semua nggak akan merubah keputusanku. Aku nggak akan pernah mau menikah dengan kamu lagi.' Kata Kirana dengan nada yang sedikit lebih tinggi daripada Reyhan.


"Aku tahu kamu masih belum bisa melupakan apa yang telah aku lakukan dulu, tapi ada hal lain yang sangat penting yang ingin aku bicarakan."

__ADS_1


"Apa, Rey? Soal perusahaan? Kalau soal perusahaan, aku tidak akan pernah melepasnya untukmu."


"Ana, kamu terlalu paranoid denganku, percayalah aku tidak akan mengambil perusahaan untukku sendiri, aku akan berikan nanti untuk anak-anak."


"Anak-anak? Anak siapa yang kamu maksut." Kirana menyipitkan bola matanya karena tak mengerti ucapan Reyhan.


"Ya anak kita Nanti, Ana."


"Jangan pernah bermimpi di siang bolong Tuan Reyhan." Kirana tak percaya Reyhan makin tidak waras saja.


"Aku tidak bermimpi, Ketika seseorang giat berusaha, pasti akan menuai hasilnya, bukan."


"Aku benci kamu Rey." Kirana menghempaskan tangan Reyhan. Mata Kirana melotot nyaris sebesar kelereng jumbo.


"Aku cinta Kamu, Ana." Reyhan tersenyum sabar.


Kirana pergi, dia semakin muak melihat Reyhan yang menurutnya sangat menjengkelkan.


"Ana, Kamu tidak tahu siapa Raka, jangan dekat dekat dia!" teriak Reyhan.

__ADS_1


"Jika ada yang harus aku benci, itu adalah kamu Rey." Kirana membalas setiap perkataan Reyhan. Reyhan menanggapi setiap penolakan Kirana dengan sabar, dia masih berkeyakinan kalau batu yang keras akan lunak dengan tetesan air yang terus-menerus. Namun, Kirana lebih keras kepala dari batu itu sendiri.


*Mohon maaf, emak up-nya lama. Nanti kalau selesai kesibukan di real nyata IngsaAllah akan up lancar.


__ADS_2