
Kirana nampak malu-malu kucing bagai remaja yang kasmaran.
Aezar mengusap lembut pipi Kirana dan menatap dengan tatapan mesra.
"Aku ingin dunia segera tahu kalau diantara kita ada hubungan yang spesial, aku tidak mau ada lelaki lain terus menggoda calon istriku."
"Kamu takut aku balikan sama Reyhan?" Kayaknya nggak mungkin Za. aku terlanjur kecewa dengan sikap Reyhan.
"Terima kasih Kirana, kamu sudah beri aku kepercayaan, untuk setengah memilikimu."
"Kok setengah Za?"
"Kan baru tunangan, kalau dah nikah baru deh milikku seutuhnya," kata lelaki itu.
Kirana lalu turun setelah Aezar membuka kunci pintu dan membantu Kirana melepas sabuk pengaman.
"Ana!" panggil Aezar.
Kirana menoleh. Aezar melakukan cium jauh. Ana menggeleng. Rasanya melihat Aezar bersikap demikian sepertinya dia kembali pada usia delapan belas tahun aja, ketika masih di putih abu-abu
"Aku jemput," teriak Aezar.
Kirana mengangguk. "Baiklah."
Dengan wajah bahagia daripada biasanya, Kirana segera masuk kantor. Sedangkan Reyhan terpaku di dalam mobil tanpa ada niat segera keluar.
Setelah Aezar memutar hendak keluar lokasi parkir, mobil Reyhan segera menghadang.
"Hei bung, apa ada masalah kau menghalangi jalanku?!" Teriak Aezar, ketika Mobil Reyhan dengan sengaja menghadang laju mobilnya.
Aezar tentu saja sedikit emosi karena dia harus segera tiba di rumah sakit, pagi ini dia ada jadwal praktek. pasien pasti sudah menunggunya.
Aezar mencoba memundurkan mobilnya dan mengambil jalan sebelahnya lagi, akan tetapi Reyhan segara merubah posisi mobilnya dan mobil Aezar langsung menabrak bagian samping belakang mobil Reyhan.
Mendengar suara dentuman keras di halaman parkir tentu karyawan segera berhamburan keluar ruang pribadinya menuju balkon dan langsung melihat apa yang terjadi di luar, ada yang langsung turun dan mendekat karena dia tahu pasti mobil yang bertabrakan adalah mobil dua cowok yang begitu tampan.
"Bung, bilang kalau kau ada masalah!" teriak Aezar sambil membuka pintu.
Reyhan pun turun dan keduanya siap baku hantam.
Reyhan dan Aezar sama-sama tak ada yang mau mengalah, Reyhan menarik kerah Aezar begitu juga Aezar.
"Apa peringatan yang aku berikan belum cukup!! atau telingamu memang bermasalah dokter?" Reyhan marah karena perintahnya untuk tidak mendekati Kirana diabaikan.
"Wanita itu masih istriku, apa kamu tidak mengerti?" Reyhan selalu menganggap Kirana masih istrinya karena memang tak ada bukti perceraian.
"Jika kau memang suaminya, maka bersikaplah seperti seorang suami." Aezar menatap Reyhan dengan tatapan membunuh. "Tinggalkan Clara dan kembali padanya, apa kamu sanggup?" Tanya Aezar.
__ADS_1
Reyhan nampak kebingungan. Pertanyaan Aezar seolah skakmat untuk dirinya.
"Tidak kan?" Aezar menyeringai
Para karyawan berbisik-bisik, mempertanyakan siapa wanita yang sedang menjadi rebutan dua lelaki tampan itu. Pasti dia sangat istimewa, hingga dua lelaki kaya itu jatuh cinta.
Cengkeraman Reyhan mengendur, dia sadar selama ini dia selalu mengutamakan Clara daripada Kirana.
***
Kirana yang diberitahu Jeni segera kembali dari ruang pribadinya menuju balkon, memastikan kalau ada keributan di lokasi parkir.
Kirana segera berlari turun setelah tahu pasti kalau lelaki yang berdebat di depan matanya itu Reyhan dan Aezar.
"Berhenti!!" Kirana melerai mereka berdua.
"Rey kamu memalukan. aku tidak menyangka setelah berpisah pun kamu senang sekali membuat aku pusing. Tidak cukup kah tujuh tahun aku menghabiskan hidupku untuk kau sakiti?"
"Kirana, kamu harus tau kalau kita tidak akan pernah bercerai, Lepaskan! dan berikan kembali cincin itu pada Aezar."
"Oh, kamu sudah tahu soal cincin ini?"
"Kirana, hubungan kita masih bisa diperbaiki, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi." Mohon Aezar.
"Janji? Apa janji yang keluar dari mulut lelaki plin-plan seperti dia masih bisa dipercaya Kirana?" Aezar menuding Reyhan dan terus menyalahkan lelaki itu.
"Kirana saat ini kamu pasti bahagia, kamu pasti sangat senang Aezar dan Reyhan bertengkar memperebutkan dirimu." Clara cemburu dengan Kirana yang diperbincangkan oleh orang di sekeliling mereka.
Tim gosip juga angkat bicara.
"Bu Kirana memang wanita yang baik, pantas Pak Reyhan masih berat untuk melepasnya. Sayang sekali ya, padahal mereka serasi."
"Iya, sayang sekali, padahal lebih cocok sama Bu Kirana daripada Bu Clara."
"Hush, jaga mulutmu, orangnya ada di sini, bagaimana kalau dia dengar."
Karyawan yang hobi ngegosip itu sengaja nyinyiran Clara di sebelahnya.
Sial, mereka semua mulai berani mengatai aku di belakangku, aku sangat malu karena kejadian ini."
tring! tring!
Aezar nampaknya tidak bisa menunggu lagi, asistennya sudah menghubungi karena khawatir Aezar tidak bisa datang. Pasien sudah siap menunggu untuk di operasi.
Kirana melihat wajah panik Aezar.
Aezar, pergilah sekarang juga, jangan pernah bermain-main dengan nyawa seseorang. Terkadang lewat tangan seorang dokter, tuhan menyelamatkan nyawa seseorang."
__ADS_1
"Kamu tidak apa apa aku tinggalkan Kirana?"
"Tidak, aku sudah biasa menghadapi semuanya." Kirana menggenggam jemari Aezar dan memintanya masuk ke mobil.
Aezar mengusap kening Kirana. Membelai rambutnya penuh cinta. Para wanita yang melihatnya membuat hatinya meleleh.
Clara yang melihat Kirana diperlakukan sangat romantis oleh Aezar tentu harinya kembali merasa iri. Berapa selalu menemukan nasib baik wanita yang dianggap selalu lebih beruntung itu.
***
Kirana masuk lift Reyhan segera mengejarnya dan masuk lift yang sama.
Kirana nampak sangat marah dengan Reyhan. Hingga dia ingin melampiaskan semua kekesalannya. "Rey, apa yang kamu dapat dengan sikap kamu yang sangat memalukan tadi?"
"Kenapa? kamu keberatan?" Reyhan mendorong tubuh Kirana hingga menempel dinding
"Iya, kamu memalukan dan kekanakan?" jawab Kirana dengan kesal.
Lelaki itu mengungkung tubuh Kirana dan mengunci dengan kedua tangannya.
"Aku ingin memberi tahu pada kekasihmu itu, kalau kamu tidak pantas untuknya, kamu tetap milikku." Reyhan berkata setengah berbisik di telinga Kirana.
"Orang gila." Kirana mendorong tubuh Reyhan.
Dibilang gila bukannya marah, tapi Reyhan malah tertawa sumbang. 'Ya, terserah kamu bilang aku apa, orang gila yang pernah kamu cintai, pernah kamu gilai, dan sampai saat ini aku yakin rasa itu pasti masih ada, Kamu masih sayang sama aku."
"Tidak! Sama sekali tidak."
"Kamu berbohong. Kamu bilang tidak tapi jantungmu berdebar, dan kejadian di Cafe. Kamu sangat menikmatinya bukan? Milikmu menegang saat aku menyentuhnya.
"Kurang ajar."
Plakk!
Kirana menampar pipi Reyhan. Reyhan menyentuh pipinya merasakan kemarahan Kirana. Perih? Pasti Kirana benar-benar marah karena Reyhan seakan mempermainkan perasaannya.
Reyhan tersenyum. Lalu dia memeluk Kirana dan menciumnya.
"Umphhh Rey, lepas .... umphhh."
Bukannya segera melepas, Reyhan semakin menekan tubuhnya hingga menempel ketat pada tubuh Kirana, mengunci kedua tangan hingga wanita itu tak mampu bergerak.
Reyhan memasukkan lidahnya ke rongga hangat milik Kirana, mainkan dengan lihai membuat Kirana berulang kali kehilangan nafas.
***
Happy reading.
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like ,Komen, Vote.