Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 74. Dimana Aezar.


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, Reyhan tidak melihat lagi gerakan jari atau tangan Kirana seperti waktu itu, Membuat lelaki itu kembali dirundung sedih.


Bukan hanya Reyhan, tapi semua keluarga nampak sedih, terutama Atmaja.


"Pah, bagaimana kalau kita bawa Kirana ke luar negeri," usul Reyhan saat melihat mertuanya gusar.


"Ya, sepertinya ide kamu bagus juga, tapi aku tidak ingin kamu ikut ke luar negeri juga, bisa jadi karena keberadaan mu disini membuat Kirana menjadi sedih dan enggan untuk bangun.


"Pah, apa yang anda katakan?" Reyhan semakin sedih melihat mertuanya melarang menjaga Kirana.


"Aku berkata fakta, Kirana tidak lagi suka kamu ada didekatnya, jadi mulai sekarang jangan pernah menampakkan diri lagi disini. karena keberadaan keluarga sudah cukup untuk Kirana, dia tidak butuh orang lain, selain keluarganya."


"Pah, aku mohon izinkan aku menjaganya sampai dia siuman, jika Kirana ingin aku pergi, maka aku akan pergi."


"Kamu ternyata sangat keras kepala, Rey. Satpam!"


"Pah, aku mohon." Reyhan bersujud di kaki Atmaja ketika lelaki yang masih disegani sampai saat ini tengah memanggil satpam.


Satpam sepertinya tidak mendengar panggilan Atmaja. Reyhan bisa memanfaatkan situasi seperti ini untuk terus merayu Atmaja agar diizinkan untuk tetap tinggal.

__ADS_1


Atmaja yang terlanjur sakit hati, dia menghentakkan kakinya dan mundur beberapa langkah, membuat Reyhan mendongak dan hanya bisa melihat api amarah serta kebencian pada lelaki berusia setengah abad itu.


Reyhan memilih untuk mengalah, sementara dia pergi dari ruang rawat Kirana. Reyhan duduk menyendiri di tempat yang sepi.


Tring!


Ponsel Reyhan berdering.


"Hallo Niko, bagaimana hasil kerja hari ini?"


"Tuan, berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku yang memutus selang rem mobil Nona Kirana adalah Jeni, tapi wanita itu sekarang sudah melarikan diri ke luar negeri. Kita tidak bisa melakukan penyelidikan berikutnya jika wanita itu tidak kita temukan."


"Baik Tuan, saya akan melanjutkan penyelidikan. Tolong awasi juga Nona Clara, karena saya curiga wanita itu pelakunya, hanya dia yang memiliki kemungkinan terbesar melakukan semua ini.


"Baiklah, kerja yang bagus, jangan kecewakan aku, Niko."


"Saya akan selalu berusaha, Tuan." Sambungan telepon Niko dan Reyhan terputus.


Sedangkan orang-orang dari keluarga Aezar sudah satu langkah bergerak di depan Niko mereka juga sedang mengejar pelaku hingga ke luar negeri.

__ADS_1


***


Reyhan melihat beberapa Dokter dan perawat berbondong-bondong datang ke bangsal tempat Kirana di rawat. Reyhan penasaran dan segera ikut masuk bersama perawat paling terakhir yang mendorong Reyhan tak peduli lagi dengan sorot tajam Atmaja yang ada di ruang itu juga.


"Belum pulang juga kamu!"


"Maaf, Pah. Sudah aku katakan aku tidak akan pulang sebelum melihat Kirana siuman."


Dokter nampak sibuk memeriksa Kirana yang baru saja sadar dari koma. Alat yang tidak dibutuhkan segera dilepas hingga menyisakan jarum infus dan nebulizer.


Kirana melihat sekeliling, seolah mencari seseorang yang dia rindukan. Akan tetapi wajah yang begitu dia rindukan tak kunjung terlihat.


"Pah," lirih Kirana.


"Iya Nak, papa disini." Atmaja segera maju dari barisan perawat dan dokter.


"Dimana Aezar? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Kirana dengan suara lemah.


Atmaja mengangguk, lalu membenarkan selimut putrinya. "Nak, sebaiknya kamu istirahat, kamu baru saja bangun dari tidur panjang. Sebaiknya konsentrasi pada kesembuhan dirimu."

__ADS_1


"Pah, antarkan aku pada Aezar Pah, dimana dia dirawat, aku ingin menjenguknya." tanya Kirana lagi.


__ADS_2