Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Bab 19


__ADS_3

Kirana baru menyadari yang dia datangi adalah acara perjamuan Tuan Abraham, Papa Aezar. Dia juga tidak pernah tahu kalau Aezar sengaja meminta klien menyampaikan semuanya.


Kirana baru tahu kalau Aezar adalah anak dari konglomerat yang namanya tentu dikenal oleh semua orang di negri.


Hanya saja Aezar seakan menutup diri, tidak pernah memperkenalkan pada dunia kalau dia adalah anak dari kaum sultan.


Kirana tahu ketulusan Aezar, lelaki itu tidak malu menunjukkan pada Sang Papa, tentang kedekatannya.


Pria paruh baya, selaku komisaris di perusahaan besar itu mendatangi Kirana.


"Selamat malam Kirana," sapa Tuan Abraham. Lelaki pemilik tubuh kekar dan wajah tetap tampan di usia yang menginjak setengah abad itu tersenyum tulus pada Kirana.


Bahkan Kirana tidak percaya Tuan Abraham sudah tahu namanya. Kirana tidak percaya semua ini. Apa saja yang sudah Aezar katakan pada keluarga besarnya.


"Selamat malam Tuan, terimakasih sudah mengundang saya ke acara perjamuan ini," jawab Kirana.


Kirana bicara dengan gugup, lalu menatap sekeliling yang mayoritas didatangi oleh kolega Abraham yang tentunya banyak dari kaum konglomerat juga.


"Ya, terimakasih sudah datang, kalau kamu tidak bisa datang, tentu akan ada yang lebih kecewa dari saya," kata Abraham menyindir putranya.


Abraham melirik pada Aezar yang wajahnya terlihat berseri. Sangat berbeda dengan wajah Aezar saat disuruh mengunjungi pulau yang susah sinyal waktu itu.


"Papa, kebiasaan suka buka aib," sungutnya, Aezar kesal dengan papa yang membuatnya malu di depan Kirana.


"Tidak ada aib, putraku, itu fakta." Lelaki itu terkekeh.


Kirana tidak menyangka Abraham bukan orang yang angkuh dan Arogan. Dia justru terlihat sangat welcome.


"Kirana, kamu rupanya sangat cantik, bukan itu saja, kamu juga sangat pintar dalam urusan pekerjaan."


Mendapat pujian dari komisaris besar tentu Kirana sesaat merasa bahagia. "Terimakasih, semua itu karena ada Aezar yang selalu support dan dukung dari awal."


"Hem, benarkah?" Lelaki itu kembali menatap Aezar. Abraham tidak percaya. Setahunya putranya paling sulit diajak kompromi dalam dunia bisnis, akan tetapi mampu memberi dukungan dan semangat seorang wanita yang dia cintai.


"Kirana ini pertama kali kita bertemu, tapi aku langsung merasa cocok jika kamu menjadi pendamping Aezar, kamu cantik, lembut, kamu sangat berbeda."


"Tuan, anda berlebihan. Saya memiliki banyak kekurangan yang belum anda ketahui." Kirana menunduk. Dia tak kuasa menatap sorot mata Abraham yang terlihat mengaguminya.


"Kirana, kamu sangat cocok untuk jadi menantuku, menjadi istri Aezar." Lelaki itu terus berbicara, mengungkapkan apa yang ada dihatinya.

__ADS_1


"Papa," protes Aezar. Lelaki itu takut Kirana akan menjadi serba salah.


"Kenapa putraku?" Abraham lalu menatap kirana yang wajahnya mulai memerah karena malu.


"Kirana akan malu dengan ucapan papa, hubungan kita baru sebatas teman baik," protes Aezar.


"Kamu ingin membohongi papamu, Nak? Aku tahu apa yang ada di hatimu bahkan sebelum kamu dilahirkan," ledek Abraham.


"Payah jika kamu sampai tidak bisa menaklukkan hati Kirana, gadis seperti dia jangan sampai disia-siakan, kamu akan menyesal seumur hidup, kalau sampai di ambil orang," tutur Abraham panjang lebar.


"Saya bukan gadis seperti yang anda pikirkan, Tuan. Saya baru saja bercerai dengan suami saya," kata Kirana jujur dengan statusnya.


"Why." Abraham sedikit ingin tahu.


"Karena diantara kami belum ada kecocokan saja," jawab Kirana tidak mau membuka aib Reyhan.


"No problem, sepertinya Aezar cocoknya sama kamu," imbuhnya.


"Putra anda berhak mendapatkan gadis yang lebih baik, tidak memiliki cerita masalalu yang kelam. Lelaki sempurna seperti dia, tidak pantas dengan wanita janda, yang mungkin hanya akan menjadi aib dalam keluarga,"imbuh Kirana lagi.


"Aib? No, janda bukan aib, Nak. Justru Bagus jika kamu sudah bercerai. Putraku tidak sedang memacari istri lelaki lain," kata Abraham enteng.


"Tapi saya tetap seorang janda, Tuan. Saya malu dengan status saya," Kirana, bingung harus berkata apa lagi supaya Abraham mengerti posisinya sekarang.


Lelaki itu memegang kedua bahu Kirana, memberi rasa percaya diri. "Kenapa dengan seorang janda? Janda tidak selalu buruk. Saya tidak hanya menilai seorang dari status."


"Tuan, tapi tetap saja saya tidak pantas."


"Kamu pantas, justru Aezar yang harus memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan wanita kuat sepertimu, "kata Abraham.


"Semoga kalian berjodoh aku akan sangat senang dengan pernikahan kalian nanti."


_


Reyhan rupanya baru datang dia menyapa beberapa orang yang kebetulan juga dikenalnya. Clara selalu ada disisi Reyhan sambil terus menggamit pergelangan lengan lelakinya. Reyhan memperkenalkan Clara sebagai calon istrinya.


"Wah Pak Reyhan, beruntung ya, calon istrinya cantik." tanggapan dari salah satu klien yang membuat Clara semakin melambung.


Usai memperkenalkan Clara, Reyhan hendak menyapa tuan komisaris yang dia hormati itu. Reyhan ingin mengucapkan terimakasih karena sudah diundang dalam acaranya.

__ADS_1


Tapi Reyhan justru melihat Kirana dan komisaris sedang berbicara serius. Reyhan mendengar kalau dia senang jika Kirana sudi jadi menantunya, dia tidak pernah keberatan memiliki menantu seorang janda sekalipun.


Langkah Reyhan terhenti, kecanggungan mulai terjadi antara Kirana dan Reyhan yang kembali bertemu. Clara memalingkan wajah di depan Kirana yang jauh lebih berkilau dari dirinya.


Tuan Komisaris sepertinya sudah terlalu lama bersama Kirana, dia ingin pergi karena belum menyapa tamu penting lainnya.


"Tuan, terimakasih sudah …." Reyhan baru saja ingin menyapa Abraham. Tapi lelaki itu sudah buru-buru pergi.


"Pak Reyhan, maaf aku ada urusan lain." Tuan Komisaris mengabaikan Reyhan yang belum selesai bicara dia seperti menemui koleganya yang lain.


Rasa benci Clara semakin memuncak. Setelah tanpa sengaja ikut mendengar percakapan antara Kirana dan Tuan Abraham, dia iri dengan keberuntungan yang selalu didapat oleh wanita itu.


Untuk memancing Kirana, Clara kembali mengatakan hal yang tidak benar hingga membuatnya marah.


"Rey, mantan istrimu itu selama ini hanya sok polos, lihatlah. Dia meminta kamu menceraikannya setelah berhasil mendekati keluarga Tuan Abraham." kata Clara sambil tersenyum sinis. Wanita itu dengan angkuh melipat tangan di dada.


Kirana mencoba untuk diam. Dia tidak ingin terpancing oleh kata-kata tidak bermutu dari Clara.


Tapi saat Kirana diam, wanita itu bukan malah berhenti menyindir. Dia malah semakin menjadi.


Kirana mendekati Clara, dia tidak banyak berkata. Kirana langsung saja melayangkan tamparan keras ke pipi wanita itu, saat hendak melayangkan yang kedua kalinya. Reyhan mencoba menghalangi. "Cukup Kirana!"


"Jika aku tidak ingin memukul wanitamu untuk kedua kalinya sepertinya kau suruh dia untuk jaga mulutnya yang selalu berbicara sampah," cibir Kirana, menatap Reyhan dengan sinis.


Seperti biasa, Clara pura-pura pucat dan lemah


"Rey, tolong aku, perutku sakit banget Rey." Clara memegangi perut bawahnya. Kirana langsung bisa menebak kalau kekasih Reyhan sedang hamil.


"Clara hamil?" lirih Kirana.


Mengetahui Clara hamil, Kirana kembali teringat dengan dirinya yang juga pernah hamil. Kirana ingat saat dia mengatakan semuanya pada Reyhan, akan tetapi lelaki itu tidak percaya, Kirana juga kembali teringat kalau dia mendonorkan darah pada Clara dan menyebabkan pendarahan.


"Aku hamil, dan ini darah daging Reyhan," ujar Clara.


Tubuh Kirana mendadak kaku bak disambar petir di siang bolong


Clara mengangguk tanpa rasa malu. Bahkan ekspresi wajahnya terlihat sekali sedang mengejek Kirana yang pernah hamil tapi tidak mendapatkan perhatian dari suaminya.


"Kamu jahat Clara, kamu wanita yang paling jahat yang pernah aku temui, kamu membuat aku kehilangan bayiku, demi untuk mendapatkan kebahagiaanmu. Kembalikan bayiku, Kembalikan bayiku yang sudah kamu renggut nyawanya, kalian berdua jahat!"

__ADS_1


__ADS_2