
Demi untuk menyenangkan hatinya, Clara menemui Kirana di ruang pribadi wanita itu. Langkahnya tergopoh dan wajahnya terlihat dipenuhi dengan emosi.
Dengan tidak tahu malunya dia memaksa masuk disaat Kirana sedang sibuk. Clara masuk dengan gayanya yang arogan, dia duduk di meja Kirana sambil melipat tangannya di dada.
"Oh rupanya ada tamu? apa sebelumnya kita ada janji?" Tanya Kirana tanpa menghentikan aktifitasnya menandatangani setiap dokumen.
"Jeni, tolong tanyakan apa keinginan wanita ini datang kesini? Aku sangat sibuk." pinta Kirana.
"Jeni mendekat, tapi dia hanya diam, tatapan mata Clara yang membuat Jeni urung bertanya.
"Kirana, kamu sombong sekali," kata Clara dengan nada penuh penekanan.
"Sombong, siapa yang lebih sombong? Wanita yang tiba-tiba datang dan duduk di meja, padahal ada kursi kosong? Mungkin kamu tidak pernah diajari adab bertamu ya?" kata Kirana terdengar sengit hingga seolah membakar telinga Clara
Amarah Clara semakin memuncak, akan tetapi tak memiliki kata-kata untuk melawan, hanya bisa melampiaskan dengan memukul meja.
Wanita itu segera turun dari meja dan pindah duduk di kursi. Kirana kembali tersenyum.
"Jangan merasa diatas langit Ana, karena kejadian pagi tadi."
"Maksud kamu apa? Dan kenapa aku harus merasa diatas langit, aku selalu menjadi diriku yang seperti ini," jawab Kirana santai.
"Bohong banget, kamu pasti senang Aezar dan Reyhan bertengkar seperti tadi pagi, kamu sengaja pamer kemesraan hingga membuat Reyhan cemburu."
"Reyhan cemburu? kenapa bisa cemburu. Bukankah kamu yang jadi prioritas utamanya sejak dulu. Kalau Reyhan cemburu artinya cintanya tidak sepenuhnya untukmu dong," cibir Kirana.
Wajah Clara semakin merah seperti udang rebus. "Itu karena kamu selalu menggodanya." Clara berdiri lagi dan membungkukkan tubuhnya tepat di depan Kirana, kedua tangannya menopang meja.
Kirana menggeleng pelan, tak habis pikir kalau Clara bisa semarah itu perihal kejadian tadi pagi, dia tidak pernah sadar kalau selama ini dia selalu menjadi duri dalam rumah tangga Kirana.
"Menggoda Reyhan? jadi aku penggodanya? bukan kamu? siapa yang selalu mengganggu rumah tangga aku dan Reyhan? jadi bukan kamu orangnya?" Kirana ikut berdiri dan memposisikan diri sama seperti Clara. pandangan mereka bertemu.
"Selama ini aku selalu sabar karena melihat kamu pesakitan, karena kamu lebih lemah dari aku? Aku selalu ingat kalau dimasa kecil kamu masih sahabatku, dan aku juga tahu hidupmu tidak pernah seberuntung aku. Tapi aku nggak nyangka Clara kamu akan terus ngelunjak seperti hari ini. Kamu manusia tamak, ngerti nggak? Kamu nggak pernah suka orang lain lebih bahagia dari kamu?"
Clara tersenyum sinis. "Aku memang tidak pernah suka kamu bahagia, kamu bukan temanku, tapi kamu itu musuh bagiku, musuh Kirana!"
"Terserah kamu anggap aku apa, tapi jangan berharap orang yang tidak memiliki ketulusan dan cinta, akan mendapat cinta yang tulus."
__ADS_1
Kirana berhenti bicara ketika dia mendengar ketika ada orang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Tok Tok!
Tanpa dijawab Kirana, Laki-laki itu langsung saja masuk, baginya Kirana masih menantunya.
"Papah!" Kirana tersenyum dan langsung mendekati mertua dengan ekspresi bahagia.
Keberadaan Clara sama sekali tidak pernah dianggap ada. Bagaskara hanya menatap Kirana saja.
"Syukurlah Papah hari ini tampak segar dan bugar. Semoga selalu seperti ini," kata Kirana sambil mencium tangan mertua.
"Nak Kirana, aku ingin ajak kamu jalan ke taman perusahaan sebentar, apa ada waktu." Bagaskara melirik ke arah Clara sebentar lalu meminta persetujuan Kirana lagi.
Clara mendekat hendak mencium tangan Bagaskara, melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Kirana, tapi lelaki itu segera menggandeng punggung Kirana membuat Clara kehilangan kesempatan.
'Sialan, lelaki peot ini sama sekali tidak menganggap aku ada, andaikan dia bukan papa Reyhan ogah juga aku mencium tangannya.'
Clara menarik tangannya yang sudah menggantung di udara. Clara semakin malu dengan sikap calon mertuanya, apalagi Kirana sempat melihatnya. Clara berfikir Kirana saat ini pasti diam-diam sedang menertawakan dirinya, Kirana pasti semakin melambung di angkasa.
Setelah Kirana dan Bagaskara keluar, Clara hendak mengacak-acak dokumen di meja Kirana.
"Minggir kamu, aku ingin hancurkan dokumen ini, biar Kirana malu dengan klien barunya."
"Apa yang anda katakan? Security tolong, Nona Clara ingin merusak berkas Nona Kirana." Jeni berteriak pada Security yang berjaga. Security segera datang membantu Jeny mengatasi Clara yang tengah kesetanan.
"Lepaskan aku." Clara menghentakkan kaki dan menghempaskan tangannya dari cekalan security. Wanita itu lalu pergi entah kemana.
**
Di taman.
"Kirana, Papah minta maaf tidak bisa jadi orang tua yang baik buat Reyhan. Papah baru tahu kalau kalian memilih berpisah." Lelaki tua itu menatap Kirana dalam, seolah mencari sebuah kebenaran tentang perasaan Kirana. Apakah Kirana masih sayang pada Reyhan atau tidak.
"Apa yang harus Kirana lakukan jika suami yang Kirana sayangi selama ini nyatanya tidak mencintai Kirana Pah. Dia lebih mementingkan wanita lain diatas keluarganya."
"Kirana, sekarang papah mau tanya, apakah kamu masih cinta sama Reyhan?"
__ADS_1
Kirana menggeleng, tapi matanya berkaca kaca.
Bagaskara tersenyum melihat Kirana yang tengah membohongi dirinya sendiri.
"Kamu bilang tidak, tapi mata kamu tidak bisa berbohong."
"Pah, berat memang melepas suami yang kita cintai, apalagi Reyhan cinta pertama Kirana. tapi apa yang bisa Kirana lakukan kalau Reyhan memilih wanita lain." Kirana tetap pada pendiriannya.
"Reyhan sayang kamu Nak, cobalah bertahan sebentar lagi, aku yakin jika dia kamu beri kesempatan kedua, dia tak akan membuatmu kecewa."
"Yang aku berikan pada Reyhan bukan hanya kesempatan kedua Pah, mungkin sudah kesempatan ke sepuluh, tapi nyatanya lagi-lagi hanya sakit yang Kirana dapatkan."
Bagaskara mengangguk, dia paham kalau Kirana mengabaikan rasa cintanya pada Reyhan karena lelah. Ya, apa yang bisa dia perbuat. Sedangkan Kirana sudah menyerah.
"Jadi kamu jadi bertunangan dengan anak Komisaris itu?"
"Papa sudah tahu?"
"Reyhan yang cerita, dia bilang saat ini kamu dekat dengan anak Komisaris kaya itu."
"Papah jangan salah paham, Kirana setuju tunangan dengan dia bukan karena dia kaya, dan pewaris perusahaan besar di negara ini, tapi Aezar memang lebih memiliki ketulusan, dia bisa menerima Kirana yang memiliki banyak kekurangan, yang mungkin Reyhan sendiri tidak bisa menerima semua itu."
"Jadi Aezar namanya." Bagaskara tersenyum. "Kamu memang benar Nak. Papah tahu kamu lelah. Tujuh tahun sudah kamu bersabar."
"Pah Do'akan Kirana menemukan kebahagiaan. Meski Aezar bukan cinta pertama Kirana, tapi Kirana yakin lambat laun hati Kirana akan berlabuh padanya."
"Ya, Papah doakan." Mata lelaki itu juga terlihat berkaca-kaca. Dielus rambut menantunya penuh cinta. "Meski kamu nanti bukan lagi menantu mama dan papa, papa akan selalu menganggap kamu anak papah dan mama. Oh iya tadi mama mau ikut kesini, tapi karena dia lagi kurang enak badan, jadi papah suruh tinggal di rumah saja.
"Salam buat mama pah." ujar Kirana sendu.
"Makasi kenang kenagan dari Mama dan Papah." Kirana memperlihatkan kalung yang indah bertebaran berlian yang masih dia pakai sampai saat ini.
"Ya, sama-sama." Bagaskara mengangguk lalu merogoh sakunya, lelaki itu mengambil sapu tangan.
Reyhan diam-diam mencuri dengar obrolan mertua dan menantu itu, lalu dia pergi dengan langkah cepat setelah Kirana beranjak. Reyhan takut salah satu dari mereka akan melihat dirinya ada di taman.
Plug! Reyhan menginjak botol minuman plastik.
__ADS_1
Kirana dan Bagaskara menoleh bersama. "Rey, kamu ada disini juga."
Dengan gugup Reyhan menjawab. "Ya, aku kebetulan lewat sini, tak tahunya ada Papa dan Kirana."