Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Reyhan yang menyebalkan.


__ADS_3

"Kamu serius? Bukan kamu yang menyebarkan foto itu?" tanya Kirana seperti seorang detektif.


"Mana mungkin, Sayang. Kamu kira aku juga tidak sedang mencari orangnya." Reyhan pura-pura panik, mengambil ponsel di tangan Kirana dan menggeser layarnya ke atas dan bawah, di beranda itu dipenuhi oleh foto ig mereka berdua. Barin Reyhan tersenyum senang.


"Berani sekali dia, pasti orang ini ingin kita bersatu lagi, tapi Sayang, apa nggak sebaiknya kamu kembali padaku, aku juga masih mencintaimu sampai saat ini." Reyhan mengedipkan matanya.


Mendengar ucapan Reyhan, Kirana Semakin yakin kalau Reyhan tengah membohongi dirinya. Pasti lelaki itu sendiri yang menyebarkan, kalau tidak, tidak mungkin dia tetap santai seperti saat ini.


Kirana memundurkan langkahnya begitu melihat Reyhan terus mendekat. Dia takut lelaki itu kalap, apalagi dia hanya memakai handuk saja, kirana yakin pasti anakonda nya juga belum memakai sarung.


"Jauh jauh saja dariku Rey."


"Kenapa sayang, aku hanya mau mengembalikan ponsel kamu."


"Cukup Rey, Cukup! Aku tahu kamu itu pembohong."

__ADS_1


Kirana merasa Reyhan sudah semakin gila, bagaimana mungkin dia bisa sesantai itu di depannya. Terlihat sekali dia ingin menggodanya lagi, ingin memikat dengan otot lengannya yang kekar.


"Rey, kamu gila! Aku ingin pergi." Kirana segera memutar tubuh dan membenarkan tas ke bahunya.


"Brak!!" Pintu terbuka dengan kasar.


Kirana berhenti, jantungnya rasanya ingin copot.


Rupanya Niko yang masuk. Reyhan segera memberi kode pada Niko supaya keluar cepat dan menutup pintu kembali.


Niko yang tidak tahu apa-apa segera keluar, lalu Reyhan mengejar Kirana yang hendak sampai di pintu.


"Rey, aku harus pergi, Raka menungguku." Kirana memang ada janji dengan Raka hari ini. Raka seperti tidak memiliki teman selain Kirana di negeri ini, setiap saat dia menghubungi Kirana dan mengajaknya keluar meski sekedar ngopi di cafe.


"Kirana, jangan terlalu dekat dengan Raka." kata Reyhan.

__ADS_1


"Sejak kapan orang lain boleh peduli hidupku, dengan siapa aku berteman, dan kemanapun aku pergi, itu bukan urusan kamu Rey" kata Kirana lagi.


Reyhan hanya bisa bungkam seribu bahasa, sepertinya Kirana masih menyimpan dendam atas sakit yang dulu dia torehkan. Kata-katanya selalu menyakitkan.


"Ana, jangan terlalu dekat dengan Raka, dia punya niat tidak baik dengan mu," kata Reyhan mencoba menghalangi Kirana pergi.


"Aku sudah kenal siapa Raka, bukankah kamu yang tidak pernah baik padanya, kamu serakah Rey, kamu menguasai seluruh harta keluarga untuk dirimu sendiri, dan kau meminta keluarga untuk membuang Raka di Amerika iya kan?"


"Kau tahu semuanya?"


"Iya, kenapa? kau terkejut? karena aku tahu kebusukanmu dengan saudara kembarmu itu?" kata Kirana seolah puas telah membongkar semua kejelekan Reyhan di depannya.


"Tidak seperti itu ceritanya Ana, kamu tidak akan mengerti."


"Ya, aku memang tidak akan mengerti cara berfikir mu Rey, itu sebabnya kita tidak perlu bersatu lagi." Kirana kali ini benar-benar pergi.

__ADS_1


Reyhan hanya bisa menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.


'Kamu telah termakan oleh omongan Raka, Ana. Kamu tidak tahu kalau Raka hanya memanfaatkan situasi buruk diantara kita.' batin Reyhan.


__ADS_2