
Kirana menatap Reyhan dengan mata berkaca. Kali ini dia akan memutuskan untuk berbicara baik- baik supaya Reyhan tidak terus mengganggu.
"Rey apapun yang kamu lakukan padaku tidak merubah apapun, kembali padamu itu sudah tidak mungkin, aku sudah menemukan lelaki yang bisa menerima aku apa adanya. Dia mencintaiku tanpa syarat apapun," terang Kirana panjang lebar.
Reyhan nampak sangat kecewa dengan pengakuan Kirana. "Aku membebaskan mu dengan Clara dan bebaskan aku memilih Aezar. Bukankah wanita yang kau cintai sejak dulu sampai sekarang hanyalah dia," ujar Kirana.
Ini pertama kalinya Kirana melihat mata Reyhan begitu teduh, ada setitik penyesalan yang terlihat di iris hitam yang biasanya setajam tatapan elang itu.
"The one your love is Clara, your first love is her, Reyhan, kata Kirana.
"Aku ingin kita perbaiki hubungan kita, Kirana. bukankah kau masih menginginkanku."
Kirana menggeleng. "Percuma Rey, selama ada Clara diantara aku dan kamu. Yang dikatakan Aezar benar. Jika sejak awal kamu bisa menerima kebenaran, mempercayai aku, dan lupakan Clara. Kita tidak perlu berpisah."
"Kirana," lirih Reyhan. "Kamu Tidka pwrnah mengerti."
"Kami yang tidak mengerti aku Rey, Selama ini aku sangat tulus. Tapi ketulusanku tidak pernah ada artinya. Semoga cinta Clara melebihi cintaku dan membuatmu merasa nyaman di sampingnya," kata Kirana dengan mata berkaca.
Reyhan memeluk Kirana dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher mantan istrinya. kali ini Reyhan melakukannya tanpa dilandasi nafsu. dadanya terguncang hebat. Ada sesak yang tertahan di dada Reyhan.
"Katakan apa yang kau ketahui?" tanya Reyhan, ingat ucapan Kirana tempo hari.
"Tidak ada, aku tidak ingin melenyapkan mimpi kalian berdua. Nikahi saja Clara, kalian sudah pernah melakukan hubungan terlarang sampai Clara hamil bukan."
"Aku tidak ingat apapun, malam itu yang aku ingat hanyalah aku tidur sangat nyenyak hingga esok hari."
"Kamu masih sama Rey, saat aku hamil kamu bilang anak yang aku kandung bukan darah dagingmu," ledek Kirana. "Kenapa kamu suka sekali menyakiti hati wanita."
__ADS_1
"Itu karena Clara memergoki kamu sesang bermesraan dengan laki-laki lain di saat aku kerja."
"Clara lagi, sepertinya nama Clara terlalu jauh masuk dan ikut campur dalam mahligai kita, itu sebabnya kita bercerai seperti ini," kata Kirana.
Ting!
Pintu lift terbuka. Reyhan dan Kirana terkejut Clara Tiba-tiba ada di depannya. Reyhan terlihat santai, dia tidak gugup seperti biasa. Bahkan Reyhan terlihat mengabaikan tatapan Clara ynag tajam dan hanya tertuju padanya.
Clara nampak naik pitam, tas ditangannya jatuh dari genggaman, dengan cepat dia mengambilnya lagi. Hati Clara mencelos. Apalagi melihat posisi Reyhan dan Kirana sangat berdekatan dan hanya berdua saja.
"Rey, kamu telah membuat aku kecewa!! Aku ingin mati saja, lebih baik aku mati." Usai mengatakan demikian, Clara berlari menyusuri koridor, airmatanya tidak bisa di tahan lagi.
Reyhan nampak diam tak bergeming, dia hanya melihat langkah kaki Clara yang terus menjauh, hingga lambat laun suara hentakannya tidak terdengar lagi.
"Clara marah padamu Rey, kamu harus segera mengejarnya," kata Kirana yang di satu tangannya menenteng tas. Kirana bersiap untuk keluar lift. Sedangkan Reyhan mengekor di belakang Kirana dengan santai.
Tidak mau pusing dengan persoalan yang bukan urusannya, Kirana segera masuk ke ruang pribadi. Disana Jeni sudah menunggu dengan setumpuk pekerjaan.
"Pagi Bu. Ini berkas kontrak kerja sama dengan klien baru kita," kata Jeni mengangguk hormat. lalu menyerahkan dokumen dari pelukannya.
"Pagi Jeni, terimakasih Jeni." Kirana menerima berkas dan memeriksanya satu persatu. Berlahan Kirana mulai paham lebih banyak soal pengelolaan perusahaan, semua itu tentu berkat Aezar yang meminta Andre yang membimbing Kirana secara khusus.
Karena berkat bantuan Aezar Kirana mendapat beberapa klien baru. Perusahaan mulai berjalan meski belum bisa stabil seperti biasa.
Masa kritis perusahaan sudah terlewati, sekarang tinggal pemulihan secara berkala, Kirana tidak lagi sepanik kemarin.
***
__ADS_1
Clara berdiri di balkon perusahaan, sambil menggenggam kuat besi teralis. Clara menangis histeris karena patah hati. Semakin hari Reyhan terlihat semakin mengejar Kirana dan mengabaikan dirinya.
Semenjak ada asisten, Reyhan semakin jarang datang, bahkan sudah berhari-hari Reyhan tidak mengunjunginya.
"Apa kurang ku dibandingkan Kirana, Rey. Selama ini aku sudah bertahan disisi mu dan menjadi yang terbaik, tapi kenapa kau masih terus mengejarnya. Apa kurang ku!!!" Clara berteriak karena yakin di balkon belakang sedang sepi dan hanya dirinya seorang disana. Clara berharap bisa lega setelah melampiaskan semuanya pada angin.
"Soal cinta!! Cintaku padamu lebih segalanya. Soal kesetiaan, selama tujuh tahun aku sudah setia menunggu. Lalu apa yang kurang dariku?! hiks hiks. Aku kurang apa Rey" Clara terus membeo seolah dia paling tersakiti dalam kisah cinta segitiga ini. Clara merasa penantiannya seakan sia-sia, Reyhan tetap mengejar Kirana meski wanita itu sudah menemukan penggantinya, yaitu Aezar.
"Sebaiknya anda introspeksi diri, Nona. Apakah jalan yang anda tempuh untuk mendapatkan cinta sejati anda itu sudah benar apa tidak." kata Niko yang tiba-tiba muncul dari arah tak diduga.
Clara segera menoleh, Clara tidak percaya Asisten Reyhan pun tak pernah ada di pihaknya. "Niko kamu tidak berhak menilai aku, aku tidak pernah minta kamu untuk berbicara lancang seperti itu! Aku tahu kamu ada di pihak Kirana, karena kamu sudah lama menaruh hati padanya."
Niko tertawa. "Bagaimana mungkin aku menaruh hati pada Nyonya Kirana, dia wanita yang aku hormati dan dia lebih pantas untuk Tuan Reyhan, pasangan serasi," kata Niko.
"Pantas menurutmu! Tidak ada yang lebih pantas daripada aku, Reyhan milikku." Clara nampak marah, dia tidak terima Niko mengatakann Reyhan lebih pantas untuk Kirana.
"Jika milik anda, kenapa dia tidak menikahi anda." Niko tidak mau kalah telak.
"Aku akan membuat dia menikahiku. Secepatnya! Jika aku sampai menikah dengan Reyhan aku ingin mencari asisten yang becus bekerja, bukan sibuk memberi penilaian pada urusan majikan," ejek Clara.
"Ya, bagaimana nasib anda kedepan jika anda gagal menikah, pasti akan sangat memalukan. Apalagi anda sudah pernah dihamili. Tentu orang akan menilai sebagai wanita gampangan," ejek Niko.
Clara tentu terkena mental dengan ucapan Niko. Tadinya Niko diminta datang untuk menjemput Clara yang sedang merajuk, tapi bukan membujuknya Niko malah berulang kali membuat Clara terkena mental.
Reyhan yang malas menemui Clara, dia justru memilih memperhatikan gerak-gerik Kirana yang ada di ruang kerjanya seorang diri, Reyhan bisa melihat Kirana yang ada di seberang, dari jendela kaca yang sengaja dia buka tirainya.
Merasa ada yang melihatnya dengan intens dari kejauhan, Kirana mulai membatasi pandangannya ke arah jendela.
__ADS_1