
Bagaskara tahu kalau Reyhan tengah berbohong. Akan tetapi lelaki itu memilih untuk membiarkan saja.
Mungkin Reyhan saat ini sedang mendapatkan balasan dari perbuatannya.
Reyhan segera pergi dan sesekali saja dia menoleh, saat Reyhan menoleh yang ke dua kalinya tatapan Kirana dan Reyhan bertemu. Namun tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya.
"Pah, maaf Kirana harus kembali ke ruang kerja lagi." pamit Kirana sambil menangkupkan kedua tangannya.
Bagaskara mengangguk lalu keduanya berpisah di taman, karena Bagaskara harus segera pulang.
Kirana menatap mertuanya yang pergi, melambaikan tangan saat mobil mertua melaju. Lalu Kirana segera pergi untuk kembali ke ruang pribadinya lagi.
Tiba di ruang pribadinya Jeni langsung mengatakan kalau ponselnya terus berdering.
"Bu Kirana, anda ini kebiasaan meninggalkan ponsel, apakah anda tidak tahu kalau ponsel anda terus berdering," ujar Jeni dengan gayanya yang cerewet
"Iya maaf Jeny, kamu pasti terganggu sekali."
"Bukan terganggu, tapi kasian Pak Dokter pasti khawatir."
"Iya, tenang Jeni, jangan bawel lagi, aku akan telepon balik Pak Dokter," kata Kirana sambil mengambil ponselnya lalu dia mendekati jendela kaca.
Kirana segera menghubungi Aezar balik. Aezar segera mengangkat panggilan Kirana tanpa menunggu waktu lagi. Panggilan Kirana langsung diubah menjadi video call
__ADS_1
"Ana, aku khawatirkan kamu," wajah Dokter Aezar terlihat sekali sedang panik.
"Aku baik-baik aja Pak Dokter." Kirana nampak tersenyum, bagi dokter Aezar senyum Kirana nampak sangat manis dan ngangenin.
"Aku jadi kangen pengen ketemu lagi."
"Za, kamu harus kerja, aku juga kerja, kok malah ngegombal gini."
"Aku lagi jam istirahat, Ana."
Kirana lalu melihat arloji di tangannya, dan benar rupanya waktu menunjukkan jam istirahat.
"Ana, keluarlah ke parkiran, aku akan menjemputmu."
"Sudahlah Ana, hari ini tolong jangan menolak."
Kirana tentu tak bisa menolak, dengan buru buru dia turun kelantai bawah dengan menggunakan lift lalu berjalan menuju parkiran.
Mata Reyhan seharian ini hanya bisa mengekori kemana tubuh langsing semampai itu bergerak.
Reyhan bisa tahu ketika Kirana tiba diparkiran dan mobil Aezar tak lama datang.
Masuk! Aezar membuka kunci pintu dengan Remote lalu membiarkan Kirana masuk dengan buru-buru.
__ADS_1
Aezar menyambut Kirana dengan senyum manis, yang menambah poin ketampanannya. Kirana sesaat sempat terpana.
"Ana, kamu baru sadar ya kalau aku sebenarnya tampan." Aezar seolah tahu Kirana sedang memandangnya lebih dalam dari biasanya.
"Yee GR." Kirana mencubit bahu Aezar dengan malu-malu.
Lelaki itu mengaduh sakit sambil diiringi tawa. "Sakit Ana."
"Itu balasan untuk lelaki genit," jawab Kirana.
"Akan kemana lagi mereka, apakah mereka akan kencan dihari ketika masih pagi seperti ini. Benar benar memalukan." Reyhan memukulkan tangannya pada jendela karena kesal.
Saat Reyhan sedang kesal, dari arah belakang ada suara familiar menyapanya. "Rey, apakah kamu cemburu melihat mereka begitu romantis."
Reyhan segera berusaha untuk menetralkan nafasnya dan berusaha berekspresi setenang mungkin.
"Aku tahu Rey, kamu itu cemburu karena Kirana sudah menentukan pilihannya. Dan kamu tahukan lelaki yang dipilih itu bukan kamu." Clara seolah menumpahkan saos cabe di hati Reyhan.
Reyhan diam, matanya saja yang berubah lebih tajam dan merah. "Clara, lebih baik kamu diam, aku sedang pusing."
"Pusing kenapa Rey," desak Clara.
"Clara, apakah kamu bisa diam, aku pusing kau selalu berkata ini dan itu yang terus membuatku sakit dan terluka, jika kamu sayang aku seharusnya kamu bisa menenangkan aku yang sedang banyak masalah."
__ADS_1
"Menenangkan kamu yang terus memikirkan mantan terindah kamu itu?" Clara terus berjalan maju mendekati Reyhan.