
[Rey, kapan Kirana akan datang padaku dan minta maaf?]
Reyhan mengabaikan pesan Clara, Reyhan tahu Kirana bukanlah wanita yang penurut, apalagi Reyhan tidak menemukan ada bukti racun penggugur kandungan di gelas itu. Jika hal itu tidak terbukti, bukan hanya Clara yang masuk penjara, bisa jadi Reyhan juga ikut terseret kasus pencemaran nama baik, jika Kirana menuntut balik.
[Clara, Kirana tidak akan minta maaf, dia kekeuh bilang tidak pernah melakukan hal itu] balas Reyhan.
[Rey, aku kehilangan bayi dan dia bilang tidak pernah melakukan hal itu, lalu kamu percaya, kamu lemah di depan Kirana, itu pasti karena kamu masih cinta sama dia, atau jangan-jangan kamu suka karena tidak perlu lagi repot-repot mengurus wanita hamil sepertiku]
"Jawab Rey, jawab masih cinta kah kamu sama Kirana!" Kirana tidak puas hanya telepon saja, dia kini menghubungi Reyhan dengan panggilan video call.
"Iya, aku masih cinta sama Kirana Puaas!"
Jawaban Reyhan membuat Clara menangis histeris, dia bahkan seperti kesetanan dengan mencabik -cabik isi bantal dan membuat kamarnya berantakan.
Sadar yang diucapkan keliru, Reyhan kembali berbicara lembut. "Maaf Clara, kamu yang memancingku untuk berbicara seperti itu. Kamu terus menyudutkan aku jika aku tidak bisa menuruti keinginanmu."
"Aku melakukan semua karena aku cinta Rey, aku sangat takut kehilanganmu. Aku ingin kamu hanya menjadi milikku, aku tidak mau Kirana terus ada diantara kita."
Reyhan diam, panggilan dengan Clara pun berakhir. Perasaannya sungguh berbeda dengan dulu, Clara yang dia cintai dirasakan berbeda oleh Reyhan. Sementara Kirana yang dia lepas justru kini selalu hadir dalam mimpinya, Reyhan mulai bimbang, siapa yang dicintai sebenarnya?"
Tring!
Sebuah motif pesan masuk ke ponsel Kirana. Disaat wanita itu kalut dalam kesedihan. Kirana benar-benar berada dalam kondisi buruk. klien yang dia dapat dengan usaha kerasnya sendiri juga terpengaruh oleh klien lama. Proyek yang sedang berjalan akan terhenti karena kurangnya tenaga kerja.
[Bu Kirana, Saya salah satu klien anda, aku bisa bantu kesulitan yang sedang anda hadapi, saya hanya minta tolong datang ke acara makan malam bersama yang saya adakan di Cafe Flower ]
[Siapa Kamu?]
[Aku salah satu klien penting anda, John. Jika anda bisa datang di acara makan malam nanti, aku akan membantu Bu Kirana menghadapi semua masalah]
[Apa maksud anda Pak John?]
[Tidak ada Bu, saya hanya ingin bergabung di acara makan malam. Kami akan sangat senang jika anda datang]
[Baiklah] kata Kirana dalam pesan itu.
__ADS_1
Kirana setuju karena saat mengirim pesan tadi dia juga sibuk memeriksa data klien yang bernama Jonathan, dengan nama panggilan John, dan ternyata memang ada.
Kirana berharap John benar-benar serius. Kirana yakin masih ada orang baik yang sudi untuk membantunya.
***
Hari begitu cepat berlalu, malampun tiba. Kirana hendak datang ke acara makan malam yang diadakan oleh John, Yang katanya banyak tamu lain selain dirinya.
Kirana memakai dress dengan panjang selutut, warna hitam. Akhir-akhir ini baju hitam adalah favoritnya.
Semenjak Kirana kehilangan bayinya, dunianya rasanya berubah menjadi hampa dan gelap, dia juga lebih menyukai memakai baju warna gelap.
Setengah jam dalam perjalanan, Kirana sudah sampai di Cafe flower, Kirana heran melihat cave itu nampak sepi.
"Apakah aku terlalu cepat?" Kirana menatap sekeliling ruangan yang nampak kosong. Kirana duduk sambil memainkan ponselnya.
Kirana melihat seorang waitres, anehnya dia tidak mendekat untuk menawari menu yang tersedia. Mereka justru sibuk menyiapkan sesuatu.
Kirana berusaha untuk bersabar, menepis segala prasangka buruk yang mulai muncul. Waiters itu pasti sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk tamu yang akan datang sebentar lagi.
Laki-laki itu beberapa hari ini akan sangat sibuk karena rumah sakit mengadakan operasi amal untuk penderita penyakit tertentu.
Merasa lelah menunggu, dan malam semakin larut. Kirana kini sadar kalau dia sedang dipermainkan oleh seseorang. Nomor John tidak aktif, sedangkan Jonathan mantan kliennya tidak merasa mengadakan makan malam. Kirana hendak beranjak pulang, apalagi sejak tadi tak ada satupun pengunjung yang datang sekedar untuk makan dan minum. Sepertinya cafe memang telah dipesan private oleh seseorang, akan tetapi Kirana tidak mau tahu.
Kirana kembali mengambil handbag hitam yang sengaja dia letakkan di meja, lalu beranjak pergi, akan tetapi suara seseorang yang begitu familiar menghentikan langkahnya.
"Tunggu!!"
"Kenapa kau buru-buru sekali Nona." Suara itu semakin mendekat, Kirana menoleh untuk memastikan kalau dia tidak salah menduga kalau yang memanggilnya adalah Reyhan.
"Rey, apakah maksud dari semua ini? Kau sengaja mempermainkan aku!?" Suara Kirana memekik keras, Kirana kecewa dengan Reyhan yang pura-pura menjadi orang lain untuk memaksanya datang.
"Kamu sangat butuh aku saat ini Kirana, semua terlihat, kau bahkan benar-benar datang dalam undangan orang asing."
Kirana merasa malu dengan ucapan Reyhan, tak bisa di pungkiri kalau dia memang butuh seseorang yang bisa membantunya, tapi bodohnya kenapa Kirana tidak sedikitpun curiga kalau ini ulah Reyhan."
__ADS_1
"Duduklah dulu, Sayang. Aku sudah memesan makanan untuk kita berdua."
Reihan menahan lengan Kirana. Menarik sebuah kursi dan mempersilahkan duduk. Kirana tersenyum sinis. Selama tujuh tahun Reyhan tidak pernah lembut seperti malam ini.
Kirana mencoba mengikuti alur permainan yang sedang dimainkan oleh Reyhan. Dia duduk dan membiarkan Reyhan membukakan serbet dan meletakkan di pangkuannya.
Reyhan malam ini terlihat sangat tampan, memakai celana Oxford warna kopi susu dengan atasan kaos putih tipis, mencetak pahatan indah tubuh depannya, tak lupa jaket kulit yang senada dengan warna celana. Rambut hitam berkilau disisir rapi ke belakang tanpa belahan.
"Kamu sudah datang, setidaknya makanlah sesuatu."
Kirana tersenyum sinis melihat Reyhan yang sok lembut.
"Apa yang kau inginkan? apakah belum cukup penderitaan yang kau berikan selama ini? Kenapa setelah bercerai kau masih juga menggangguku?"
"Kirana, aku tahu kamu marah dengan sikapku beberapa hari terakhir ini, tapi aku berjanji akan mengembalikan semua yang kau miliki asalkan ...."
"Meminta maaf pada Clara didepan orang banyak, termasuk klien dan karyawan? Mimpiiiii!" potong Kirana. Kirana memperlihatkan kilatan amarah di depan Reyhan.
"Kirana, sebagai direktur perusahaan yang baik seharusnya kamu lebih mementingkan perusahaan dari pada kepentingan pribadi."
"Cukup Reyhan!! Aku tidak akan meminta maaf sampai kau bersujud sekalipun. Aku tidak pernah melakukan semua yang kau tuduhkan padaku, mengerti?!"
"Katakan pada kekasihmu, aku tidak akan pernah menjatuhkan harga diriku didepan wanita yang sudah rendah sepertinya. Tidak tahu malu."
Kirana membuang serbet yang dipasang Reyhan di pangkuannya tadi. Bahkan dengan sengaja Kirana menyenggol gelas yang berisi minuman warna merah yang diduga sari buah ceri kesukaannya.
"Kirana, dengarkan aku!!" Reyhan menahan lengan Kirana. Kirana menghempaskan dengan kasar, akan tetapi tak mampu melepaskan cengkeraman tangan Reyhan ymag terlalu kuat.
"Rey, lepas!!." Kirana meronta.
Reyhan tidak mengindahkan permintaan Kirana. Kirana sangat kesal dan melayangkan satu tamparan di pipi Reyhan. Rasanya pasti sangat sakit, kelima jarinya membekas di wajah lelaki pemilik ketampanan di atas rata-rata itu.
"Plakk!"
Reyhan tidak menyangka Kirana berubah menjadi sangat kasar dan suka main tangan. Reyhan memegangi pipinya yang perih.
__ADS_1
Kirana sangat senang Rayhan kesakitan. "Apakah rasanya sakit Rey? Kamu pantas mendapatkannya. Jika satu tamparan saja membuatmu kesakitan, bagaimana dengan luka di hatiku yang setiap saat sengaja kau torehkan!!"