Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Bab 8


__ADS_3

"Kirana, kamu sakit kanker?" Aezar menatap botol obat milik Kirana sebelum mengembalikan lagi pada pemiliknya.


"Iya, aku juga habis keguguran, bayi kami lemah karena kekurangan suplai gizi, dokter juga bilang aku anemia, lengkap banget ya, penderitaan hidupku, Za."


"Sabar, ya." kata Aezar menghibur Kirana.


"Kamu benar Za." Kirana tersenyum sambil menoleh ke arah Aezar. Mungkin kesabaran yang dia lakukan selama ini masih kurang di hadapan Tuhan Sang Pencipta.


"Kira-kira kamu mau kemana sekarang? Biar aku antar sekalian." Tawar Aezar.


"Pulang aja, Za."


"Tapi kalau saran ku sih, kamu harus check up, kita harus tahu seberapa parah kanker kamu, apalagi kamu tadi pingsan dengan tiba-tiba, aku kok jadi khawatir."


"Tapi Za, aku sudah tahu semuanya, semakin sering aku ke rumah sakit, membuat trauma ini semakin mendalam, lagipula aku sudah mendapat banyak obat setiap kali check up."


"Kirana jangan menyepelekan penyakit, aku ingin tahu seberapa parah sakit yang kamu alami." Aezar menyalakan mesin mobil dan mengemudi ke arah rumah sakit.


Kirana akhirnya menurut pada Aezar. Lelaki itu membawa Kirana ke ruang prakteknya. Aezar memeriksa Kirana sendiri. Setelah mengambil sampel darah, seorang perawat segera membawanya ke laboratorium untuk di cek. Aezar bahkan ikut serta ke ruang laboratorium untuk melihat prosesnya sendiri.


Tidak sampai satu jam hasil laboratorium Kirana sudah keluar. Aezar sangat terkejut begitu memeriksanya. Karena tidak percaya dengan hasilnya, Aezar sampai memeriksa hingga berulang kali.


Hasilnya tetap sama, tidak ada penyakit kanker seperti yang diceritakan oleh Kirana. Untuk pemeriksaan kanker dia jenis kanker hasilnya negatif.


Laki-laki itu segera mendatangi Kirana, wajahnya muram.


"Gimana Za? Apakah sakit aku semakin parah." Kirana penasaran dengan perubahan wajah Aezar.


"Kirana aku menemukan sebuah kejanggalan dengan apa yang kamu ceritakan waktu itu, sepertinya ada yang salah dengan hasil pemeriksaan kamu yang dahulu. Memang benar kamu keguguran, tapi tidak ada kanker perut atau kanker lain di tubuh kamu."


Kirana tercengang. "Za, aku jadi bingung, mana yang benar? hasil pemeriksaan aku terdahulu itu aku terkena kanker, dan karena penyakit itu, dokter menyarankan bayi aku harus diambil meski baru berusia beberapa minggu. Tapi setelah aku minum obat dari dia justru aku malah keguguran."

__ADS_1


"Boleh aku lihat lagi obatnya?" Aezar kembali meneliti obat milik Kirana yang sempat dilihat sebentar tadi saat di mobil.


"Kirana, jujur aku sedih dengar semua kenyataan ini, justru obat ini yang membuat kamu pendarahan hebat dan keguguran."


"Maksud kamu aku selama ini salah konsumsi obat. Tapi aku merasakan sakit setiap hari, dan aku pikir itu bersumber dari kanker yang aku derita."


"Iya, itu karena kamu telah konsumsi obat yang salah, dan dokter juga salah telah memberimu obat yang tak seharusnya. Apalagi kamu hamil. Wanita hamil perlu hati-hati dan tidak sembarangan konsumsi obat.


Setelah menemukan fakta baru yang membuat Kirana makin sedih dan Aezar geram, mereka berdua sepakat untuk mendatangi rumah sakit dimana Kirana memeriksakan diri untuk pertama kali.


Kirana mencari Dokter Pras yang sudah memberinya obat dan menyarankan operasi waktu itu. Setelah melihat daftar hadir para dokter, rupanya dokter Pras tidak datang.


"Nona sepertinya Dokter Pras sudah tidak praktek lagi disini, dia sudah resign beberapa hari yang lalu," kata petugas rumah sakit yang membantu melihat daftar hadir dokter.


"Apa! dokternya sudah nggak praktek di sini lagi," tanya Kirana sedikit terkejut


"Sudah kuduga, pasti ada sesuatu dibalik semua ini." Gumam Aezar. Dokter muda itu menggandeng tangan Kirana yang kembali bersedih, pikirannya kembali dikacaukan oleh rentetan kejadian yang menurutnya janggal.


"Tapi Za, aku kehilangan bayiku, aku tidak benar-benar menjaganya dengan baik. Dia seharusnya baik-baik saja, dia tidak berdosa Za."


"Ya, pasti semuanya sangat berat buat kamu, tapi setidaknya kamu harus kuat. Tetaplah kuat untuk menghadapi hari esok."


"Oh, iya ngomongin soal tenaga sepertinya kita harus makan." Aezar menggandeng Kirana, mengajaknya keluar. Sebelum bertemu Kirana beberapa jam yang lalu sebenarnya Aezar sudah makan, tapi dia tidak bisa mengabaikan Kirana yang setahunya belum makan apapun.


Kehadiran Aezar benar-benar menghibur Kirana yang sedang bersedih. Wanita itu menemukan teman yang bisa memahami keadaannya saat ini.


"Boleh Za, aku juga sudah lapar," jawab Kirana.


Saat mereka berdua berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tak sengaja bertemu dengan Clara dan Reyhan. Reyhan mengantar kekasih tercintanya untuk memeriksa ulang luka tusuk di perutnya.


"Kirana." Reyhan terkejut bertemu Kirana di rumah sakit yang sama.

__ADS_1


"Siapa mereka berdua, An?" Tanya Aezar.


"Za, kenalkan ini suami aku yang aku ceritakan ke kamu tadi. Dan yang selalu di sebelahnya ini kekasihnya," jawab Kirana dengan santai.


Suasana hati Reyhan langsung memburuk melihat Kirana terlihat akrab dengan teman laki-lakinya. Reihan mencekal tangan Kirana dengan kasar. "Kirana siapa dia? Kenapa kamu tiba-tiba akrab dengannya.


"Kenapa kalian tidak sekalian kenalan, bukankah orang yang kamu tanyakan sudah ada di depanmu," jawab Kirana ketus, membuat Reyhan semakin meradang.


Aezar mengulurkan tangannya, tapi Reyhan ogah-ogahan menyambut tangan dokter muda itu. Tangan Aezar menggantung lumayan lama baru Reyhan mengulurkan tangannya menjabat tangan Aezar.


"Aezar," ucapnya. Tanpa mengenalkan hubungannya dengan Kirana.


Sebenarnya bukan itu yang diinginkan Reyhan. Reyhan ingin tahu hubungan detailnya dengan Kirana. Apalagi lelaki di depannya memiliki stylish yang bagus dan wajah yang tampan.


"Maaf, kami sedang ingin cari makan, barangkali anda punya rekomendasi restoran yang bagus, biar kami coba menu restaurant favorit anda," kata Aezar berbasa-basi.


"Za, kenapa kamu mendadak berlebihan, aku lapar, sepertinya saat ini aku pengen yang paling dekat saja." Kirana menggamit lengan Aezar membuat Clara tak bisa melepaskan tatapannya pada tangan Kirana.


Reyhan nampak menahan amarah, urat-urat di lehernya semakin menonjol, wajahnya memerah mirip kepiting rebus.


"Kirana, cepat juga kamu menemukan pengganti Reyhan. Padahal kalian belum resmi bercerai, kan?" Clara tak mau buang kesempatan untuk menabur cabe di hati Reyhan.


"Duh jangan-jangan laki-laki ini sesungguhnya ayah dari bayi yang kamu kandung. Kamu selingkuh di belakang Reyhan. Sejak kapan Kirana?"


Ucapan Clara semakin membuat Reyhan kepanasan, andaikan ada seember air yang disiramkan ke tubuhnya, mungkin akan langsung kering.


"Kirana kamu keterlaluan." Kirana mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan hendak melayangkan ke pipi mulus milik Clara.


Dikatakan selingkuh membuat emosi Kirana memuncak. Dia ingin sekali membuat lukisan berupa lima jari di pipi kinclong bak porselen itu.


Tapi sayangnya Reyhan menghalangi niat Kirana, laki-laki itu menggenggam pergelangan tangan Kirana dan menatapnya dengan tatapan menghunus.

__ADS_1


"Suamiku, lepas! Apakah kau tidak ingin segera bercerai dan segera menikahi wanita simpananmu ini?" Kirana bertanya dengan nada dingin.


__ADS_2