Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 43


__ADS_3

"Ana, kamu dimana?" Aezar menelepon Kirana, karena pas tiba di rumah Kirana sudah tidak ada.


"Aku ada di depan laundry, Za." jawab Kirana.


"Baiklah, aku susul kamu disitu ya."


"Tidak perlu, aku akan kembali pulang." Belum selesai bicara Aezar sudah membunyikan klaksonnya.


Tin! tin! lelaki itu turun dari mobil dengan hati yang sangat bahagia. Akhir ini hanya binar kebahagiaan yang terlihat di wajah Aezar.


"Ana, hari ini kita berangkat ke kantor bawa mobilku aja."


"Baiklah, kalau begitu biar bibi saja yang ambil mobilku di sini nanti." Kirana segera mengirim pesan pada asisten rumah tangganya yang kebetulan bisa mengemudi.


Aezar menggandeng Kirana masuk ke mobil bagaikan seorang ratu, dengan tergopoh tangan lelaki itu membukakan pintu.


Auhhh, ana menginjak tanah yang tidak rata membuat kakinya keseleo.


Aezar segera jongkok di depan Kirana dan meminta wanita itu untuk duduk dengan kaki menjuntai ke samping. Aezar melepas sepatu Kirana dan memijitnya pelan.


"Ana, biar aku pijit dikit, kalau sakit kamu teriak saja, aku khawatir akan terjadi penggumpalan darah." Aezar mengurut kaki ana.


Ana merasa Aezar sangat mengistimewakan dirinya, sangat berbeda dengan suami masalalunya.


Reyhan merasakan kepalanya kembali mengepulkan asap, dia berulang kali mengepalkan tinjunya ke kemudi dan akhirnya memutuskan untuk turun.


Kirana dan Aezar menatap kedatangan Reyhan, Aezar segera bangkit dari berjongkok, tatapan yang tadi begitu teduh kini berubah menjadi garang seperti seekor elang.


"Ana, ada yang perlu aku omongin ke kamu." Reyhan segera merangsek maju dan menarik pergelangan tangan Kirana.


"Apa lagi Rey? bukankah semua yang terjadi diantara kita sudah berakhir? Jika kamu masih kekeuh ingin aku minta maaf pada Clara, aku tak sudi." Kirana menepis tangan Reyhan.


"Benar, hanya orang bersalah saja yang minta maaf. Seharusnya kamu minta maaf pada Kirana karena sudah membuat dia selama ini menangis dan menderita. Tak tahu malu kalian semua menikmati perusahaan yang seharusnya hanya layak dimiliki oleh Kirana. Jika tahu malu kalian harusnya pergi."

__ADS_1


"Tidak bisa seperti itu, tanpa aku perusahaan keluarga Kirana tidak mungkin sebesar sekarang, aku juga mengeluarkan banyak dana untuk pembangunan, bukan hanya itu saja, tujuh tahun aku mengabdikan hidupku di perusahaan itu," ujar Reyhan yang tidak ingin usaha keluarga Kirana hancur di tangan Kirana. Karena Reyhan tahu Kirana dulu sangat manja dan malas untuk belajar mengelola perusahaan.


"Aku bersedia memberikan semuanya asalkan Kirana bersedia untuk minta maaf, dan setelah ini aku pastikan? Clara akan berhenti mengganggu Kirana lagi." kata Reyhan.


Kepala Kirana menggeleng. "Dan kamu percaya? Maaf aku tidak percaya Clara akan berhenti sebelum tujuannya tercapai, aku tahu siapa dia, Rey. Dia sudah berjanji akan meninggalkanmu dan meminta uang sebesar dua ratus juta tapi apa nyatanya?"


"Apa yang kamu katakan?" Reyhan tentu tidak mengerti ucapan Kirana. Apalagi uang dua ratus juta. Jika yang diucapkan oleh Kirana memang benar, artinya Clara sudah menukar dirinya dengan uang dua ratus juta. Reyhan tertarik Kirana untuk menjelaskan.


"Pikirkan sendiri, atau anggap saja aku sedang membual." Kirana tentu tidak ingin menceritakan hal itu, karena itu sama dengan membuka aibnya di masa lalu di depan Aezar. betapa sangat buta dirinya dulu. Memberi uang pada Clara yang selalu mengeluh kekurangan dan Kirana memberi dengan syarat bersedia untuk meninggalkan Reyhan. Bukan tanpa alasan, Kirana memang tahu cinta Clara tidaklah tulus.


"Ana, jika yang kamu katakan benar, maka kita perlu banyak bicara."


Kirana tersenyum. "Bicara? Aku bilang tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aezar harus segera ke rumah sakit, tidak ada waktu lagi." Kirana menatap Reyhan lalu menatap Aezar bergantian. Aezar mengerti kalau Kirana bosan dengan keadaan saat ini.


Reyhan menerima perlakuan kasar Kirana, dia tidak punya pilihan, selain mengalah melihat mantan istrinya bersama laki-laki lain.


Aezar segera menutup pintu begitu Kirana beranjak masuk. Sedangkan Reyhan hanya bisa melihat Kirana yang mulai merasa nyaman dengan yang lain.


"Kirana, sesakit ini ketika keberadaan kita tidak pernah dianggap, apakah kamu juga merasakan hal yang sama saat melihatku bersama Clara" Reyhan terbengong sambil menatap mobil Aezar yang kian menjauh. Tak lama mobil itu menghilang di sebuah belokan.


Reyhan segera minta maaf dan menyingkir dari jalanan.


"Pak Reyhan!" Mereka menyapa orang yang pernah menjadi tetangga lamanya itu.


Pegawai yang bekerja dijasa Laundry itu ikut berkomentar. "Pak Reyhan, sayang sekali istri sebaik Bu Kirana kalau sampai jatuh pada lelaki lain. Lelaki itu pasti akan bersyukur banget. Pak Reyhan sudah putus ya sama Non Clara, kok sekarang cari Bu Kirana lagi."


Pemilik laundry itu diam-diam kesal juga melihat Reyhan yang dulu. Meskipun Kirana tidak pernah mengumbar masalah rumah tangganya, tapi tetap saja mereka punya mata untuk melihat dan hati untuk menilai.


Reyhan hanya mengangkat sedikit saja sudut bibirnya, tanda dia pamit akan pergi, lagipula tidak ada untungnya meladeni orang lain yang bukan keluarga ikut campur.


***


"Ana, mulai nanti Andre akan mendampingimu, aku harap kamu dan dia bisa bekerja sama dengan baik."

__ADS_1


"Baiklah." Kirana dan Aezar saling melempar senyum sebelum lelaki itu membantu memasangkan sabuk pengaman sambil mengemudi.


"Sore aku ingin ajak kamu ketemu mama dan papa, kita bicarakan acara tunangan ini, niat baik tidak boleh ditunda."


"Kenapa buru-buru Za."


"Kenapa Kirana? kamu belum yakin dengan perasaanmu? atau masih meragukan aku? jika kamu belum siap aku akan menunggu sampai kau siap ketemu keluargaku."


"Bukan itu masalahnya Za, tapi masalahnya ada di aku. aku belum resmi jadi janda. Rayhan sepertinya sengaja menunda perceraian ini."


"Jahat sekali dia, bukankah dia sudah keterlaluan dengan menghamili Clara, tapi kenapa dia tidak juga mau melepasmu. Baiklah aku akan atur semuanya." Aezar menatap Kirana sambil menggapai jemari wanita yang dia cintai dengan sepenuh hati itu.


Aezar dan Kirana sudah sampai di depan kantor


"Aezar." Kirana terlihat malu-malu menatap Aezar.


"Iya, kenapa Ana?" Aezar menatap Kirana balik.


"Makasi untuk semuanya."


"Aku yang harusnya berterima kasih, terimakasih sudah menerima cintaku," balas Aezar.


Mobil mendadak menjadi sunyi, dua insan itu masih canggung satu sama lain. Mereka tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkan perasaan masing masing.


Aezar menarik jemari Kirana membuat wanita itu tersentak dalam pelukan dada bidangnya.


"Za." Kirana sedikit kaget.


Cup!


Aezar mendaratkan kecupan di kening Kirana.


Kirana tersentak dengan sikap agresif Aezar. Wajah Kirana menjadi merah Semerah tomat.

__ADS_1


"Za, nanti ada yang lihat."Kirana menjauhkan tubuhnya.


__ADS_2