
"Menenangkan kamu yang sibuk memikirkan mantan terindah kamu itu?" Clara semakin sinis.
"Kenapa jika aku memikirkan Kirana, apakah aku salah? dia masih istriku."
"Kalian sudah bercerai Reyhan. Kamu bukan lagi suami Kirana." Clara semakin emosi. Kalau kamu terus memikirkan dia seperti ini, kamu terus melukai hatiku, kamu buat aku sakit setiap hari dan pasti itu tujuanmu, supaya aku lekas mati, iya kan?"
Semakin hari Clara semakin berani melawan setiap ucapan Reyhan. Wanita itu merasa seolah Rayhan selalu mengabaikan dirinya dan menyia-nyiakan ketulusan yang selama ini dia berikan.
"Clara, pergilah, aku ingin sendiri."
"Rey!!!!"
"Kamu mengerti ucapanku apa tidak!!!"
"Kamu berubah, Rey!"
"Kamu terlalu mudah emosi!"
"Hiks hiks hiks, Rey." Clara menangis sambil berlari meninggalkan ruangan Reyhan. Clara tidak percaya Reyhan yang dulu begitu lembut sekarang berubah kasar setelah berpisah dengan Kirana.
Clara naik mobil pribadinya dan mengemudi dengan ceroboh. Reyhan yang melihatnya begitu khawatir. Reyhan tidak mau Clara mengalami kecelakaan.
"Semua karena Kirana!! Kirana menghancurkan impianku menikah dengan Reyhan." Clara memukul kemudi berulang kali untuk melampiaskan kekesalannya.
Reyhan diam-diam membuntuti Clara yang mengemudi dalam keadaan marah, Reyhan tahu Clara akan gelap mata saat sedang marah.
"Brak!" karena tidak fokus pada jalanan, mobil Reyhan menabrak mobil di depannya. Reyhan yang lupa tidak memakai sabuk pengaman keningnya membentur kemudi dan berdarah. Darah mengucur sangat deras. Reyhan merasakan pusing yang luar biasa lalu pingsan.
"Reyhan!!" Clara segera menepikan mobilnya dan turun. Clara berlari menghampiri mobil Reyhan. Melihat ada yang terluka, orang-orang disekitar kecelakaan ikut panik. Mereka segera membawa Reyhan ke rumah sakit yang kebetulan ada di seberang jalan.
Reyhan dilarikan di UGD, Clara terus mengekor kemana brankar membawa tubuh Reyhan.
Setelah dua jam di UGD Reyhan akhirnya siuman kata, lalu dipindahkan ke ruang rawat inap.
Reyhan tersadar ketika hari sudah malam, perutnya mulai merasakan lapar yang luar biasa.
"Clara!" Panggil Reyhan yang melihat Clara sedang disisinya tapi sibuk mengutak-atik ponsel.
"Rey, akhirnya kamu bangun. Aku senang kamu sudah bangun." Clara mendekati Reyhan dan tersenyum. Lalu dia menarik kursi dan duduk di dekat Reyhan.
__ADS_1
Clara memang senang Reyhan siuman, tapi saat ini dia sibuk menawar harga tas branded yang ditawarkan oleh teman sosialitanya.
Teman yang lain sudah menawar, Clara tidak mau kehilangan kesempatan memiliki tas branded merk Jerman itu, karena dia memang tertarik dengan modelnya, dia juga belum pernah memiliki tas sebagus itu
Reyhan enggan mengatakan pada Clara, dia berharap wanita itu akan mengerti dengan sendirinya kalau hampir sembilan jam belum makan apapun pasti lapar.
Reyhan menatap Clara yang masih sibuk dengan ponselnya. sedangkan perut Reyhan tak berhenti berdendang.
Reyhan jadi teringat ketika masih serumah dengan Kirana. Reyhan waktu itu sedang masuk angin hingga terus muntah.
Kirana begitu sibuk membalur tubuhnya dengan minyak kayu putih, meski saat itu Reyhan sama sekali tidak pernah menganggap perhatian itu, tapi kini semua kembali terlintas jelas.
Usai membalurkan minyak hangat ke punggung dan tubuh Reyhan lainnya, Kirana segera menyelimuti tubuh Reyhan. Lalu dia pamit ke dapur, wanita itu membuat bubur sum-sum dan juga susu. Cepat sekali Kirana memasak di dapur, setelah semuanya siap dia segera mengantar pada Reyhan.
"Rey, ini bubur sengaja aku buatkan untukmu, semoga ini bisa sedikit meredakan sakit yang tengah kamu derita," ucap Kirana waktu itu.
Reyhan segera meraih tubuh Kirana dan mendorongnya. "Wanita licik!! jangan pernah merayuku dengan apapun itu, karena aku tidak akan pernah tertarik padamu."
"Rey, kamu sedang sakit, setidaknya makanlah sedikit." Kirana yang saat itu sudah merasa bersalah karena telah meminta bantuan sang papa untuk menekan Reyhan agar bersedia untuk menjadi suaminya. Kirana sadar caranya salah, dia memaklumi sikap kasar Reyhan. Kirana hanya berusaha terus membujuk agar Reyhan sudi makan masakannya demi kesembuhannya.
"Makan masakan mu yang sampah ini? Bukan membuat aku sembuh, yang ada aku malah sakit," ejek Reyhan serta merta, tanpa memikirkan perasaan Kirana yang sudah sudah payah membuat makanan untuknya.
Prang! Reyhan malah membuang piring yang berisi makanan itu. Kirana hanya bisa melihat masakannya berhamburan di lantai.
Kirana diam dan menangis saat itu, dia terus berharap kalau Reyhan suatu saat bisa mengerti kalau apa yang dilakukan memang tulus sebagai bukti cinta.
Reyhan kini sadar kalau Kirana memiliki cinta yang lebih tulus, akan tetapi lagi-lagi dia terlambat menyadari cinta.
"Clara ambilkan ponselku," pinta Reyhan.
"Oh iya Rey? Clara mengambilkan ponsel di atas nakas, tapi pandangannya tak beralih dari ponsel miliknya.
"Reyhan diam-diam menghubungi Niko dan meminta untuk dibawakan masakan kesukaannya.
Niko setuju, dia segera membelokkan mobilnya di sebuah restaurant yang kebetulan dia lewati.
***
Aezar rupanya sudah memesan banyak makanan pada sebuah cafe dengan gaya penyajian menu makannya di sebuah rooftop, untuk ditempati hanya berdua dengan Kirana saja. Aezar segera menggandeng Kirana dan mengajaknya naik di rooftop.
__ADS_1
Mereka berdua sangat bahagia layaknya ABG yang lagi kasmaran.
Aezar memesan banyak macam menu kesukaan Kirana, ada ice cream kotak dengan tiga variant rasa dan ada juga bistik daging empuk.
"Aezar, ini banyak sekali? Siapa yang akan memakannya."
"Tentu kita berdua, Ana," kata Aezar.
"Ini berlebihan. Aku tidak makan sebanyak ini."
"Kamu harus makan yang banyak, biar tidak kurus lagi."
"Apa menurutmu aku kurus?" Kirana menatap tubuhnya yang menurutnya ukurannya ideal
"Tidak juga, tapi aku ingin kamu makan yang banyak, biar kuat menghadapi kenyataan."
Kirana tertawa sambil menggeleng. "Kamu bisa aja, Za."
Kirana mulai makan pelan-pelan. Aezar pin sama. "Aku suka menu disini, sederhana tapi nikmat banget masakannya," kata Aezar membuka percakapan.
"Iya, enak banget. Aku baru tahu." jawab Kirana.
Saat mereka asyik makan Kirana terkejut dengan sebuah berita di sebuah stasiun TV kalau telah terjadi kecelakaan di perempatan jalan yang tak jauh dari tempat mereka makan saat ini.
Kirana tertarik untuk melihat berita tadi, setelah di perhatikan dengan seksama, merk, warna dan plat nomornya, Kirana yakin itu mobil Reyhan.
Selera makan Kirana mendadak menjadi hilang. Kirana hanya fokus menatap pada berita di TV. Setelah Kirana melihat ada sosok Clara di tempat itu, Kirana akhirnya kembali makan. Apalagi berita itu juga menyampaikan kalau kecelakaan terjadi karena sang lelaki sedang mengejar kekasih yang sedang merajuk.
'Buat apa aku kembali memikirkan seseorang yang sudah memiliki wanita lain disisinya. Sudah cukup tujuh tahun saja aku menderita, kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi.' batin Kirana saat mengunyah makanannya.
"Apa kamu tidak ingin jenguk Reyhan, Ana."
"Tidak Za, aku lihat kondisinya tidak begitu parah," jawab Ana.
"Iya, tapi tetap saja kalau ada tabrakan di tempat itu pasti akan terjadi macet," balas Aezar.
Aezar tahu Kirana sedang berusaha keras untuk move-on. Meski dia bilang tidak ingin melihat tapi pasti akan terus kepikiran sebelum lihat kondisinya dengan mata kepala sendiri.
"Ana, besok kita lihat kondisi Reyhan di rumah sakit. Tidak ada salahnya kan?"
__ADS_1
"Terserah kamu aja, Za." jawab Kirana sambil menyesap sari buah leci dari dalam gelasnya.