Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 77. Semoga usaha tidak mengkhianati hasil.


__ADS_3

Reyhan senang melihat kondisi Kirana semakin membaik. Setidaknya bertemu Kirana hari ini sudah membuatnya lega.


"Kenapa anda tidak segera pergi, bukankah urusan kita sudah selesai." Kirana menatap sengit pada kurir yang mengantar makanan, karena lelaki itu nampak menatapnya lebih dalam dan tidak segera pergi.


"Emh, iya saya akan segera pergi." jawabnya gelagapan. Reyhan segera keluar dengan langkah berat, tiba di gerbang dia kembali menatap halaman luas yang pernah menjadi rumahnya itu.


Ana, aku berharap suatu saat kita akan bersatu lagi dan mengukir kenangan baru yang indah di rumah ini, akan aku hapus kenangan buruk yang pernah kita lalui dengan kebahagiaan.' batin Reyhan.


Kirana menatap Kurir itu dengan aneh, Ana melihat sosok Reyhan di dalam diri pengantar makanan itu.


'Tidak, dia bukan Reyhan, kalaupun dia Reyhan, aku tidak akan peduli.' batin Ana lalu memanggil bibi yang masih memasak sarapan untuknya.


Bibi segera datang dan membawa masuk kursi roda yang diduduki Kirana, Kirana tidak lumpuh, tapi saat digunakan untuk berjalan tubuhnya masih terasa pegal, jadi dia memilih untuk memakai kursi roda saja.


"Bi, tolong bawa aku masuk." pinta Kirana.


"Iya Non." Bibi segera melaksanakan perintah.


"Non, saat bibi di dapur tadi, bibi dengar suara den Reyhan, apakah benar dia kesini."


"Reyhan?" Kirana ingat kurir yang mirip Reyhan tadi, rupanya bibi juga berfikir sama, bahkan bibi mengatakan suaranya mirip tanpa melihat wajahnya. Kirana semakin yakin kalau dia tidak salah menduga, kalau lelaki tadi adalah Reyhan.


"Non, Den Reyhan sepertinya telah benar-benar menyesal, dia tidak menemukan wanita sebaik Nona Kirana di luar sana."


"Cinta untuk Reyhan sudah sirna Bi, yang terpenting saat ini adalah aku cepat sembuh dan mencari pelaku yang telah memutus selang rem mobil pemberian Aezar. Aku tidak akan pernah memaafkan pelakunya sampai kapanpun, kemanapun dia berlari aku akan terus mengejarnya dan membayangi hidupnya dengan ketakutan."


Kirana mencengkeram gagang kursi roda, ada amarah yang menggebu di dalam dadanya.


"Aku tidak ingin pembunuh Aezar bisa tertawa bebas diluar sana, calon suamiku lelaki yang sangat baik, Aku tidak terima dia mati dengan begitu tragis." rancau Kirana.

__ADS_1


Kirana terus saja berkata sesuai dengan isi hatinya yang kini sedang diselimuti dengan amarah yang membara.


***


Dua hari kemudian.


Kirana bangun tidur begitu mendengar suara denting jam dinding, dia turun dari ranjang dan belajar untuk berjalan. Kirana merasa tubuhnya sudah semakin membaik.


"Aku sudah lebih baik Bi, sepertinya aku harus pergi dalam dua hari lagi. tolong siapkan semua barang yang perlu aku bawa. "


"Bibi doakan semoga Nona dilindungi Gusti, dan pelaku sebenarnya segera ditemukan, ya Non."


"Iya Bi, meski semua bukti mengarah pada Jeni, aku yakin ada dalang di balik keterlibatan jenny, dengan melakukan ini semua tidak akan menguntungkan apapun bagi gadis itu. Reyhan dan Clara, pasti salah satu dari mereka adalah pelakunya."


"Benar sekali Nona, dengan melakukan semuanya, justru akan membuat dia kehilangan jabatan menjadi sekretaris dan sopir pribadi anda, pasti ada orang yang sengaja menjebaknya."


Bibi menuruti ucapan Kirana, dia segera mempersiapkan keperluan wanita yang tengah patah hati itu saat pergi nanti.


Melihat bibi sudah menyiapkan keperluannya, Kirana memilih duduk di ruang tamu sambil membaca koran harian yang memuat berita tentang dirinya.


Kirana menangis sesenggukan ketika sosok Aezar kembali diperbincangkan dalam media cetak. "Mas, kenapa tidak kau biarkan aku tetap mengemudi saat itu. Jika terjadi hal buruk, pasti akan menimpa aku, bukan kamu. Kamu orang baik tak sepatutnya kamu pergi lebih cepat Mas."


Kirana menangis tergugu, dan saat itu pula datang kurir yang beberapa hari ini mengirim makanan untuk Kirana, Kirana tahu lelaki itu adalah Reyhan yang menyamar, tapi Kirana tidak peduli.


"Nona, ini paket dari tuan Reyhan," ujarnya sopan. Lelaki itu terus menatap Kirana yang sedang sibuk mengusap airmatanya.


"Apakah lelaki itu tidak tahu malu, kenapa masih mengirim makanan untuk seorang yang sudah menjadi mantan, katakan padanya ini adalah yang terakhir, dan katakan padanya aku sangat membencinya saat ini. Aku bahkan akan membencinya dari ujung rambut sampai ujung kaki jika terbukti dia telah membunuh Aezar,"


"Reyhan hanya berdiri seperti patung. Reyhan cemburu Kirana begitu menyayangi Aezar begitu dalam."

__ADS_1


"Katakan pada Reyhan, rayuan apapun tak akan mampu untuk mengendalikan semuanya seperti dulu, cintaku sudah berubah jadi benci, Hari ini aku benci Reyhan dan semua yang disukai lelaki itu."


"Nona!"


"Cukup Rey, jangan bersandiwara lagi, aku tahu itu kamu, kamu melakukan ini semua untuk apa? Tidak ada yang tersisa dari hubungan kita, jadi aku minta menyingkir dari hidup aku, aku benci kamu." Kirana mendorong tubuh Reyhan dengan brutal, beberapa pukulan keras melayang di dadanya.


Reyhan sama sekali tidak marah, lelaki itu merelakan dadanya untuk menjadi pelampiasan Kirana. "Ana maafkan aku."


Reyhan berusaha memeluk Kirana, tapi justru tamparan keras mendarat di pipinya. "Lancang kamu, jangan berani menyentuh ku Rey, aku jijik!!"


Reyhan menggelengkan kepala, penyamaran yang terbongkar membuat dia tak mampu berkata apa-apa.


"Tuan Reyhan lebih baik anda pergi, Nona Kirana sedang terguncang," kata Bibi lirih saat di sebelah Reyhan.


"Tolong jaga Kirana Bi, jika terjadi apa-apa, jangan sungkan hubungi aku, ini kartu namaku, disitu ada nomor teleponku yang baru." Reyhan menyelipkan kartu namanya ke telapak tangan bibi tanpa di ketahui oleh Kirana.


Bibi segera memasukkan ke dalam saku dasternya.


Reyhan lalu keluar dengan hati hancur, tak menyangka sikapnya selama ini sangat buruk pada Kirana, hingga setiap apa yang dilakukan selalu salah dimata wanita itu, bahkan kematian Aezar pun Kirana menuduh dirinya yang melakukan.


'Ana, mungkin ini hukuman dari ketidak adilan yang aku berikan selama ini. Aku akan sabar menerima perlakuan buruk ini dengan senang hati jika mampu membuatmu puas."


Dengan malas Reyhan keluar halaman rumah megah yang pernah menjadi tempatnya untuk singgah bertahun tahun itu, Reyhan lalu menaiki motor yang dipinjamnya dari seorang kurir.


Bibi menutup gerbang setelah Reyhan pergi. Sebelum pergi tadi lelaki itu kembali berpesan pada Bibi supaya menjaga Kirana dengan baik, dan segera menghubungi kalau terjadi sesuatu dengan Kirana. Esok dia tidak akan datang lagi menjadi sosok kurir pengantar makanan karena penyamarannya sudah di ketahui.


Bibi mengangguk pada mantan majikannya itu. "Tuan sayang pada Nona, kenapa tidak Tuan tunjukkan sejak dulu saat Nona mengharapkan cinta Tuan Reyhan."


"Namanya juga terlambat menyadari cinta Bi, setelah Kirana pergi, aku baru sadar kalau keberadaannya selama ini sungguh berarti." ujar Reyhan dengan sorot mata penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2