
Kirana membuka mata. Dia tersenyum ketika melihat lelaki yang ada di depannya adalah Dokter Aezar, Lelaki tampan yang akan menjadi calon suaminya itu.
Lelaki itu nampak sedih melihat Kirana yang lemah. Dikecupnya jemari yang terdapat selang infus hingga bibirnya menempel sangat lama. "Akhirnya kamu sadar juga, Sayang."
Kirana mengangguk lemah. "Aku kenapa ada disini, Mas ?"
"Hm, Reyhan yang membawa kamu kesini. Sejak kapan suka minuman beralkohol?" Tanya Aezar. Sebagai seorang dokter Aezar tentu tidak mau kekasihnya terkontaminasi dengan minuman yang bisa merusak organ tubuhnya itu.
"Jadi aku disini karena aku minum alkohol? Duh kok bisa" Kirana malah bertanya balik seperti orang bodoh. Seingat Kirana memang dia tidak memesan minuman beralkohol, tapi gejala yang dialami oleh tubuh Kirana memang efek dari minum-minuman keras.
"Iya, Reyhan yang memberitahuku. Kamu mabuk bersama dua klien baru."
"Dia sekarang dimana?" tanya Kirana.
Aezar nampak diam, lelaki itu sedang berfikir kemana kira-kira Reyhan, yang jelas dia tadi memintanya untuk pulang dan istirahat.
Kirana lebih dulu merasa bersalah karena menanyakan mantan suaminya itu pada Aezar. "Jangan salah paham, aku hanya ingin berterima kasih karena telah membawaku kesini, aku tidak mau selamanya berhutang budi karena perbuatan baiknya hari ini."
"Apa aku terlihat cemburu," tanya Aezar kemudian, bersamaan dengan tangannya menggenggam Kirana makin erat.
"Sudah pulang, dia terlihat capek sekali," kata Aezar. Sesungguhnya Reyhan bukan terlihat capek, tapi cenderung ke sedih melihat Kondisi Kirana.
Kirana melihat ke arah jendela pengintai. Kirana melihat bayangan Reyhan disana. Lelaki itu segera pergi setelah tahu Kirana sudah siuman dan tatapan matanya bertemu sejenak.
"Rey" racau Kirana.
"Dimana Sayang?" Aezar ikut melihat kearah ynag sama dengan Kirana.
"Ah tidak, aku tadi seperti melihat Reyhan di sana, tapi dia sepertinya sudah pergi."
"Ouhh, benarkah, jadi dia menunggu kamu siuman. Ya sudah karena kamu sudah bangun sekarang makan ya."
"Mas, aku jadi ngerepotin gini."
"Ngerepotin apa? kayak gini aja kok bilang ngerepotin, aku calon suami kamu justru aku senang bisa lakukan hal kecil kayak gini." kata Aezar.
Aezar dengan telaten menyuapi Kirana. Kirana tak berani menolak suapan Aezar karena sebagai Dokter Aezar sangat peduli tentang kesehatan Kirana serta asupan gizi yang masuk ke tubuhnya.
__ADS_1
Tak lama, kedua orang tua Aezar dan orang tua Kirana datang bersamaan. Mereka nampak panik setelah dapat kabar Kirana telah masuk rumah sakit dan pingsan. Tapi begitu tahu kalau sekarang sudah siuman mereka semua lega. Hanya bintik merah saja di tubuhnya belum juga hilang.
***
Ting Tung!
"Clara buka pintunya!"
"Itu pasti Reyhan, dia pasti sudah merindukan aku Hari ini Reyhan harus melihat aku dalam keadaan yang sangat cantik," ujar Clara bergumam sendiri dalam kamar. "Bi! tolong buka pintunya, katakan pada Reyhan aku akan keluar sebentar lagi."
"Kenapa Nona tidak langsung temui Den Reyhan aja?"
"Heh, Bi, udah lakukan aja apa yang aku minta. Aku mau berdandan dulu."
"Baiklah, Nona." Bibi segera keluar menemui Reyhan.
Clara mengira Reyhan tidak tau apapun dan saat ini dia sangat senang rencananya mengerjai Kirana berhasil, kini tinggal bersenang-senang saja dengan Reyhan.
Bibi membuka pintu, dia langsung tersenyum lebar saat melihat Reyhan datang.
"Bibi! Bibi betah kerja disini?"
"Syukurlah, kalau bibi masih betah, segera hubungi saya jika dia bersikap berlebihan, akan saya tegur dia."
"Makasi Den, sudah perhatian sama Bibi. Sebaiknya Den Reyhan masuk aja, biar bibi buatkan minuman."
"Air putih saja Bi."
"Baiklah Den." Bibi segera masuk ke dapur mengambil air putih untuk Reyhan.
Sedangkan Clara yang selesai berdandan segera keluar dengan dandanan yang cantik Memakai baju kurang bahan dan makeup yang sedikit lebih tebal. Belum lagi banyaknya parfum yang disemprotkan ke tubuhnya membuat seisi ruangan jadi mabuk kepayang.
"Reyhan, akhirnya kamu datang, Baby"
Seperti layaknya wanita penggoda, Clara segera memeluk Reyhan dari belakang, mencium tengkuknya sekilas dan segera pindah posisi duduk di pangkuan Reyhan.
"Clara, duduklah yang benar, aku kesini ingin bertanya sesuatu dan jawab dengan jujur."
__ADS_1
"Apa Rey?" Clara dengan muka sebal akhirnya menghempaskan pantatnya ke sofa setelah Reyhan menolak memangkunya.
"Apa benar kau dalang dibalik semua ini?"
"Apa yang kamu tanyakan Rey, aku tidak mengerti?"
"Aku ingin kamu jawab jujur Clara, apa kamu yang merencanakan semuanya, kamu ingin menghancurkan karier Kirana yang baru saja merangkak naik dengan menyuruh dua orang untuk menjebaknya?
"Rencana apa Rey? kenapa kamu akhir-akhir ini suka bertanya sesuatu yang tidak aku tahu? Aku tidak melakukan apapun!"
"Kamu bohong Clara! Sesungguhnya kamu sudah banyak melakukan sesuatu yang tidak pernah aku duga. Kamu membuat kepercayaan ku selama ini hilang."
"Apa yang aku lakukan Rey?"
"Apa yang kamu lakukan? banyak sekali Clara, dan harusnya kamu lebih tahu. Apakah kamu pernah menerima uang dari Kirana supaya pergi dariku? Kukira kamu berbohong soal penusukan itu adalah yang pertama kalinya hingga aku memaafkanmu, tapi ternyata banyak lagi kebohongan yang kau sembunyikan untuk membuat Kirana selalu jelek di mataku, apakah kehamilan itu juga ... Apa lagi yang tidak aku tahu Clara! Jawab!" Reyhan meremas rambutnya frustasi, karena dia merasa terlalu banyak kebohongan dan bodohnya baru hari ini dia mulai menyadari.
"Cukup Rey!" Clara menutup telinganya, tidak kuat mendengar kemarahan Reyhan yang sesungguhnya benar adanya.
"Tidak Clara, aku masih ingin bicara, meski dalam kondisi mabuk, aku masih bisa ingat apa yang aku lakukan, seperti malam yang pernah aku lewati dengan Kirana. Tapi denganmu aku tidak ingat sama sekali. Aku yakin kejadian di malam itu, dan kehamilan yang kau katakan adalah rekayasa."
"Tidak Rey, aku bersumpah aku tidak melakukan semua yang kau tuduhkan. Aku tidak mendapat uang apapun dari Kirana, dan soal malam itu kamu sudah melakukan padaku, kamu terlalu mabuk jadi tidak mengingatnya, Rey." Clara menangis histeris seolah apa yang dikatakan semuanya benar, bukan Clara jika dia berkata jujur dengan begitu mudah.
"Apa ada buktinya?"
"Rey aku mohon percayalah. Aku mohon Rey." Clara yang sudah dandan sangat cantik kini bersimpuh di kaki Reyhan, rambutnya kembali kusut dan make-upnya berantakan. Lelaki itu nyaris luluh melihat Clara yang demikian putus asa.
"Bangun Clara, akhiri semua sandiwara ini."
"Percayalah Rey, aku tidak berbohong, Kirana yang telah berbohong. Kirana tidak ingin kita bersatu dan bahagia?"
"Apa alasan Kirana melakukan itu semua?" Tanya Reyhan.
"Dia ingin kamu menjadi miliknya," kata Clara sambil mendongak.
"Omong kosong, Kirana tidak ingin kembali padaku meski aku sudah memohon," ujar Reyhan jujur.
Clara tersentak mendengar pengakuan Reyhan. Jadi benar yang ditakutkan kalau Reyhan masih terus mengemis cinta Kirana dan ingin kembali.
__ADS_1
*Happy Reading.