
Reyhan melamun sambil bersandar di sisi brankar. Reyhan merasakan dadanya terasa hampa.
Desas-desus tentang acara tunangan Dokter Aezar dan Direktur Kirana mulai diperbincangkan di kalangan Dokter dan perawat, mereka pasti dapat undangan.
"Rey, mama bawakan kamu sarapan lauk cumi masak hitam kesukaanmu, ada udang krispi juga, dimakan ya biar cepat sembuh," pinta Mama yang baru datang. Reyhan memang tidak mau makan nasi rangsuman dari rumah sakit. Lelaki itu suka masakan seafood sejak dulu.
"Rey tidak mau makan Ma. Rey nggak lapar." Lelaki yang kepalanya kini tengah diperban itu terlihat tak selera dengan menu masakan dari mama, meski itu makanan favoritnya.
"Kalau kamu nggak makan, kamu nggak pulang-pulang, emangnya kamu betah, terus disini," bujuk Mama.
Reyhan nampak tak bergeming, tatapannya tetap lurus ke depan. Reyhan mulai meratapi dirinya yang sekarang seolah tak memiliki tujuan, mimpinya menikahi Kirana berlahan memudar setelah semakin hari semakin mengerti watak asli wanita yang tengah di perjuangkan itu.
"Ma, kenapa akhir-akhir ini Rey tidak pernah menemukan kebahagiaan lagi. Hari-hari Rey seakan hampa."
"Kamu menyesal Rey, pisah dengan Kirana?" Tanya Mama.
"Iya Ma, Rey menyesal. Ternyata keberadaan Kirana di samping Rey adalah semangat terbesar Rey. Kirana sudah tujuh tahun ada di samping Rey, dan saat ini dia sudah tak ada lagi. Ma aku merindukan kopi buatan Kirana, aroma masakannya, Try juga baru sadar kalau dia begitu betarti."
"Rey, bumi ini terus berputar, semua tidak akan selalu seperti yang kamu inginkan. Kamu tidak bisa terus meminta seseorang untuk bersamamu jika kamu sendiri tidak pernah menghargai keberadaannya. Tapi semua belum terlambat jika kamu ingin sungguh sungguh menebus kesalahanmu, kamu bisa membawa dia pergi dari kota ini sebelum dia menggelar pesta tunangan dengan dokter itu, tapi syarat yang harus kau lakukan adalah tinggalkan Clara."
"Kirana akan menggelar pesta tunangan hati ini?"
Reyhan segera menyalakan TV yang menempel di salah satu dinding rumah sakit.
"Iya, jika kamu benar-benar mencintai Kirana kamu bisa bawa dia pergi dari sini dan tinggalkan Clara. tapi jika kamu tidak bisa meninggalkan Clara, jangan pernah kau temui dia lagi."
Reyhan kembali dalam dilema, dia ingin bersama Kirana dan membina mahligai yang baru penuh cinta. Tapi bagaimana dengan Clara dan penyakitnya yang bisa kambuh sewaktu-waktu itu. Bagaimana jika Clara benar-benar bunuh diri melihat kebersamaan dirinya dan Kirana. Wanita yang dianggap menyelamatkan hidupnya juga tidak boleh menderita apalagi mati sia-sia.
Acara yang ditunggu Reyhan sudah mulai tayang, di salah satu stasiun TV. Pertama-tama yang disorot media adalah gedung yang mewah dan jumlah tamu yang hadir. Acara tunangan ini sungguh membuat banyak khalayak penasaran, seberapa besar kekayaan yang dimiliki mempelai pria mulai diperbincangkan, hingga tunangan saja dirayakan seperti pesta pernikahan seorang selebritis.
Tapi bukan itu yang ingin Reyhan lihat, Reyhan ingin melihat bagaimana rupa wanita yang pernah dia sia-siakan itu. Apakah Kirana benar benar bisa melupakan dirinya yang menjadi cinta matinya.
'Kiranq, apakah kamu yakin akan bahagia dengan Aezar? Sedangkan kamu sendiri tahu yang kamu cintai di dunia ini hanya aku, aku cinta mati mu. Aku tidak yakin kamu bisa berpaling dengan mudah dan melupakan aku.' Rasa percaya diri Reyhan masih sempat tumbuh di benaknya untuk menghibur hatinya yang sedang kacau.
Reyhan kembali mengenang pertemuan terakhir dengan Kirana di restaurant itu. Bagaimana wanita itu masih tergoda oleh sentuhannya. Reyhan tidak tahu jika malam itu Kirana terus dalam penyesalan dan merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Jika hanya akan membuatmu semakin kalut dalam penyesalan, lebih baik tidak usah dilihat," kata Mama, wanita itu mengingatkan karena tahu Reyhan sedang merasa cemburu yang sangat besar.
Reyhan semakin pucat, tak kuasa melihat acara tunangan Kirana berlangsung, dia mematikan TV kembali dan menahan tangis, meski tangis Reyhan tidak seheboh tangisan wanita, tapi hatinya begitu hancur. Bulir kristal jatuh ke pipinya dan tangannya meremas sprei.
"Mama, Tolong tinggalkan Rey sendiri. Rey ingin tidur."
"Setidaknya makan sedikit Rey."
"Ma ...." Reyhan memohon.
Wanita berusia setengah abad itupun pergi meninggalkan Reyhan sendiri, meletakkan nasi yang dia bawa dari rumah tadi di atas nakas.
Wanita itu menemui suaminya yang sedang menunggu di luar.
"Bagaimana? apa anak bodoh itu mau makan?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak mau Mas. Reyhan terus memikirkan Kirana. Apalagi dia sekarang tahu kalau mantan istrinya itu sedang menggelar acara tunangan.
"Oh iya, papa juga dapat undangan dari Kirana langsung, sebaiknya mama sekarang siap siap, kita datang kesana berdua."
"Mama nggak mau datang."
"Mama nggak tega tinggalin Reyhan Pa, jika kita datang dia pasti akan semakin sedih."
"Kalau kita nggak datang, apa pandangan Kirana terhadap kita? Kirana pasti akan mencari kita disana."
"Tapi Reyhan Pa? Papa nggak lihat sih, bagaimana dia terpukul dengan berita ini."
"Terserah, mama mau datang apa nggak, yang penting aku akan kesana. Aku akan memberi ucapan untuk menantuku Kirana."
Wanita itu nampak dilema, dalam lubuk hatinya sungguh dia ingin datang.
"Jika Mama mau datang-datang aja, Reyhan akan baik-baik saja, Ma." Reyhan tiba- tiba muncul di belakang mereka.
"Rey, maafkan Mama dan Papa Nak." Mama Reyhan nampak merasa bersalah, disaat putranya sakit malah memikirkan datang ke pesta.
__ADS_1
"Ma, Reyhan ada hadiah untuk Kirana." tolong berikan pada dia saat mama menyalaminya nanti," pinta Reyhan.
"Apa ini Rey?" Mama Reyhan penasaran dengan kotak kecil yang sudah terbungkus sangat rapi."
"Itu hadiah yang akan Rey berikan disaat ulang tahun Kirana bulan depan. Tapi sepertinya masa bersama kami sudah habis. Aku tidak akan memiliki kesempatan lagi."
"Rey, putraku ..." Mama mengelus bahu Reyhan.
"Rey akan baik-baik saja, Ma." Reyhan kembali masuk ke kamar, entah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu di dalam kamar sendiri.
***
Para tamu sudah memenuhi kursi yang nampak berjajar rapi. Aezar dan Kirana beranjak dari ruang rias dan menuruni tangga utama menuju ballroom. Keduanya membuat khalayak takjub, mereka terlihat seperti pangeran dan putri dari negeri dongeng.
"Dansa! dansa! dansa!" Tamu undangan meminta Aezar dan Kirana berdansa.
"Ana, para tamu meminta kita untuk berdansa."
"Aku malu, Rey."
"Kenapa malu, ini acara kita."
"Ayolah putraku, ajak Kirana berdansa, kamu tidak ingin melihat teman-temanmu kecewa, Kan?" Sang papa memberi semangat.
"Tidak, Pa." jawab Aezar semangat. Kirana akhirnya setuju, soal dansa dia paham meski bukan ahlinya. Kirana dulu waktu sekolah juga suka sekali tari balet.
Sorak serta tepuk tangan dari kawan Aezar yang mayoritas seorang dokter nampak menggema. Aezar semakin semangat berdansa diatas ballroom sambil mengikuti musik yang sedang mengalun romantis.
Pandangan Aezar terus saja tertuju pada Kirana yang semakin hari nampak cantik.
Kirana terlihat malu-malu, Aezar menatapnya begitu dalam. "Za, bisakah jangan melihatku seperti itu?"
"Ana, aku bahagia sekali hubungan kita berada sampai di fase ini. Satu langkah lagi aku dan kamu akan menjadi suami istri."
"Za, aku juga tidak menyangka kita dipertemukan kembali untuk bersatu. Terimakasih untuk semuanya."
__ADS_1
"Iya, dan di pertemuan kedua, cintaku padamu semakin besar saja. Kau wanita yang hebat, aku sungguh mencintaimu," ucap Aezar.
Jangan lupa ritualnya teman. Kasih like, Vote dan Bunga.