
Kenapa kamu tidak beri aku kesempatan kedua Ana. Kenapa!! Reyhan terus saja gelisah dan mondar mandir, kala dia sedang sendiri di ruang rawat.
Niko yang menemani memilih menunggu di luar kamar, sedangkan Clara baru saja telepon kalau sedang tidak enak badan dan memilih istirahat di rumah.
Reyhan segera duduk di brankar ketika seorang perawat datang untuk memeriksanya, karena dokter sedang menghadiri acara tunangan Dokter Aezar dan Direktur Kirana.
"Tuan, sekarang bagian tubuh mana yang terasa sakit?" Secara tidak langsung suster melihat kalau Reyhan tengah gelisah. Suster mengira Reyhan merasakan sakit yang tak tertahan di tubuhnya.
"Tidak ada Sus, semua sudah baik-baik saja, tolong periksa semua kondisi tubuhku, apakah semua sudah normal?"
"Baiklah." Suster mengeluarkan alat untuk memeriksa Reyhan, sedangkan lelaki itu berbaring dengan gelisah.
Tuan, pemeriksaan kali ini lebih baik daripada sebelumnya, detak jantung normal, tensi darah juga normal. Mungkin besok anda sudah bisa pulang."
"Baiklah, kalau begitu pulangkan saya sekarang saja suster, Besok dan sekarang tak ada bedanya."
__ADS_1
"Tapi Tuan, masih ada pemeriksaan lanjutan lagi untuk luka kepala anda." Perawat tentu tidak langsung setuju dengan keinginan Rayhan yang meminta pulang cepat.
"Suster, apapun yang terjadi pada diri saya nanti, saya sendiri yang akan menanggung. sekarang juga lepas infus ini."
"Tuan, anda tidak bisa seperti ini, kecuali anda harus tanda tangan terlebih dahulu, kami pihak rumah sakit tidak mau kalau sampai suatu hari anda menuntut karena terjadi apa-apa pada diri anda."
"Aku yakin aku akan baik-baik saja, Suster."
"Baiklah jika anda bersih keras, saya akan berunding bersama dengan dokter."
Suster segera keluar dengan ekspresi kesal, karena sikap Reyhan yang keras kepala. Tapi bukan Reyhan kalau tidak keras kepala. Setelah dokter pergi. Reyhan melepas sendiri infus yang menancap ditangannya, dia meminta Niko untuk menyelesaikan masalahnya di rumah sakit.
"Tuan Rey, sudah diizinkan pulang?"
"Sudah, tolong urus administrasi nya, aku ada urusan penting." kata Reyhan sambil melihat Arloji di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Reyhan langsung saja pergi dan Niko menuruti apa yang diinginkan oleh tuannya, Lelaki itu hanya bertugas membuat semua urusan tuannya menjadi lancar.
Melihat gelagat Reyhan, Niko tahu kalau lelaki itu pergi secara paksa dari rumah sakit.
Reyhan segera mengemudikan mobil ke acara tunangan Kirana, Reyhan yang juga mendapat undangan tentu bisa masuk dengan mudah. Kali ini Reyhan sengaja tidak mengajak siapapun untuk jadi pasangannya. padahal dalam undangan tercetak jelas tulisan kalau diizinkan membawa pasangan masing-masing.
Aezar dan Kirana tidak berdansa seorang diri lagi, teman-teman mereka ikut naik ke ballroom dan dansa bersama. Suasana pesta semakin meriah karena undangan juga ikut meramaikan.
Reyhan menarik dokter cantik yang juga datang seorang diri, meminta untuk menemaninya berdansa. Reyhan ingin sekali melihat Kirana dan Aezar yang sedang berbahagia. Apakah benar Kirana sudah melupakan cintanya bang besar untuknya dulu? atau tatapan kerinduan itu masih ada?"
Reyhan mencari celah untuk terus berdansa sambil merangsek mendekati Kirana dan Aezar.
Reyhan berhasil berdansa bersebelahan dengan Kirana dan Aezar.
Kirana terkejut melihat wajah pucat Reyhan datang ke pesta, dan kali ini tanpa Clara.
__ADS_1
Reyhan yang masih belum sembuh betul merasakan kepalanya pening dan semakin parah ketika dia terus saja berdansa.
"Za, aku melihat Reyhan masih sakit, tapi kenapa dia datang kesini?" Bisik Kirana pada Aezar dengan raut wajah cemas.