
"Sayang masakannya harum banget," puji Aezar sambil mengendus aroma masakan Kirana yang menguat di sekitar Villa.
"Masa sih, Mas." Kirana tentu saja tersipu mendengar pujian Aezar. Tadinya Reyhan ingin memujinya tapi Aezar rupanya lebih cepat untuk mengutarakan isi hatinya.
"Buat apa Mas bohong. Sayang aku jadi lapar," kata Aezar sambil mengelus perutnya yang tertutup dengan kaos olahraga tanpa lengan itu.
Sedangkan Reyhan memilih masuk tanpa sepatah kata, bersama dengan ponselnya yang terus berdering. Reyhan mendapat telepon dari Niko. Lelaki itu melaporkan kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki, dan menanyakan apakah dirinya sudah siap untuk dijemput. "Tuan, apakah aku harus jemput anda sekarang? atau anda masih ingin berada di Villa itu "
"Iya, jemput aku sekarang juga, dan alamatnya lihat dari ponselmu." Reyhan mengaktifkan aplikasi di ponselnya yang menunjukkan keberadaan sekarang. Bukan hal sulit bagi Niko untuk mencari majikannya yang berada di suatu tempat.
Reyhan segera mandi dan berkemas, sedangkan Kirana menata piring dan sendok. Aezar juga mandi terlebih dulu lalu standby di tempat makan.
"Sayang aku bahagia sekali, aku merasa hari hariku kedepan pasti akan selalu bahagia seperti ini, apakah kamu juga bahagia sepertiku?"
"Iya Mas, aku juga bahagia seperti apa yang kamu rasakan." Kirana lalu duduk berseberangan dengan Aezar.
"Kita ajak Reyhan makan sekalian, dia pasti juga lapar," kata Aezar yang kembali berdiri dan berjalan menghampiri Reyhan di ruang kerjanya.
"Tuan Rey." sapa Aezar.
"Ada apa Tuan Aezar." Reyhan sedikit terkejut Aezar mendatangi.
Reyhan nampak memaksa bibirnya untuk tersenyum lalu berkata dengan nada sendu. "Aku akan balik pagi ini, sudah terlalu lama aku meninggalkan aktivitas ku di kota."
"Rey, maaf jika aku menganggu ketenangan di Villa ini, aku kesini tak ada niat mengusikmu, aku hanya berniat untuk menemani calon istriku, apapun yang menyangkut dirinya sangat penting bagiku," terang Aezar.
"Aku tahu, aku sama sekali tidak terganggu, justru aku yang mengganggu kalian," kata Reyhan.
Reyhan membawa kopernya keluar, sedangkan Kirana hanya melihat saja dari ruang makan. Aezar nampak mencegahnya. "Setidaknya sarapan dulu, Kirana hari ini sudah masak banyak."
__ADS_1
"Terima kasih, makanlah saja berdua, Niko sudah berangkat menuju kemari."
"Hm, ayolah sebentar saja. Kirana masak banyak hari ini. Sayang kalau kau pergi dengan perut yang kosong" Aezar nampak memaksa. Reyhan jadi tak enak menolak, lagipula perutnya juga sudah berdendang minta diisi.
"Baiklah." Reyhan nampak tidak menolak lagi, lelaki itu mengangguk.
Aezar membalas dengan sebuah senyuman. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi, Aezar dan Reyhan sama-sama pandai menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya dan bersikap gentle. Meski sesungguhnya persaingan diantara mereka belum berakhir.
Reyhan dan Aezar sama-sama duduk di depan Kirana, lalu keduanya mengambil piring dan membukanya.
Kirana mengambilkan nasi untuk Aezar terlebih dulu, lalu mengambilkan juga untuk Reyhan. Baru kedua lelaki itu mengambil lauk untuk dirinya masing-masing.
Kirana lebih terlihat tenang saat makan, wanita itu tahu Reyhan lebih banyak menatap dirinya, saat lelaki itu menyuapkan nasi kemulut nya. Namun, Kirana sama sekali tidak peduli.
'Ana, andai aku tak pernah menjadi lelaki terbodoh di dunia, mungkin saat ini kau juga akan terus menyiapkan sarapan untukku seperti yang kau lakukan di pagi ini. Mungkin bayi mungil yang kau katakan anak kita waktu itu juga sudah lahir dan tumbuh menjadi bayi lucu yang mirip kita berdua, aku akan dipanggil papa.'
Sedangkan di sebelahnya, Aezar nampak asyik makan, sesekali dia mengambilkan duri ikan dari piring Kirana, walau Kirana menolak tapi sudah kebiasaan Aezar melakukan hal meski itu nilainya kecil.
Reyhan mengakhiri makan lebih dulu, dia tidak mau semakin menyakiti dirinya sendiri dengan melihat step demi step kebersamaan Aezar dan Kirana.
"Aku sudah selesai, terimakasih untuk sarapannya." Reyhan buru-buru berdiri setelah mengambil tisu dan membersihkan bibirnya. Lelaki itu lalu mencuci tangan dan beranjak pergi. Niko rupanya juga baru saja datang. Niko sangat mudah menemukan Reyhan walau Villa kirana tergolong sangat banyak.
Niko segera membuka bagasi kala melihat tuannya keluar membawa koper. Niko dan Reyhan lalu pergi setelah semua barangnya dipastikan tidak ada yang tertinggal. Aezar melambaikan tangan dibalas dengan lambaian pula oleh Reyhan.
Lelaki itu kembali melihat kepada Kirana dengan tatapan penyesalan yang dalam. Sedangkan Kirana diam tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar.
'Aku tahu ana, aku tidak pantas untuk kau maafkan. Kau tidak akan pernah tersenyum untukku lagi, karena aku tak pantas untuk mendapat senyum itu."
"Niko, kita balik sekarang."
__ADS_1
"Siap Tuan." Niko segera memutar mobilnya di halaman Villa yang sangat luas.
"Tuan .... " tanya Niko yang urung bertanya. Asisten itu takut kalau pertanyaannya terkesan terlalu ikut campur.
"Kamu pasti heran bagaiman bisa aku dan Kirana ada di Villa ynag sama."
"Iya Tuan, sedangkan itu sangat mustahil."
"Clara datang dan mengacaukan me time yang harusnya hanya aku sendiri di tempat itu, Clara juga membuatku malu dengan memamerkan kemesraan bohong pada Kirana. Niko, setelah banyaknya kebohongan Clara, berawal dari penusukan yang dilakukan sendiri, dan Kirana dituduh menjadi pelakunya, dan peristiwa di Villa hari ini, aku semakin yakin kalau Clara bukan wanita yang menyelamatkan aku dari para penculik itu, melainkan Kirana."
"Jadi anda mulai percaya kalau Nona Clara adalah pembohong? Tuan menurut saya kesalahan Nona Kirana hanya satu. Yaitu dia dulu terlalu mencintai anda dan dia ingin anda menjadi miliknya, hanya itu. Tapi Nona Clara? dia merekayasa setiap kejadian dan membuat Nona Kirana selalu buruk dimata anda."
"Benarkah seperti itu Niko?" Kata Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
"Itu menurut saya, Tuan. Saya manusia biasa yang bisa salah menduga juga."
***
Clara mondar-mandir di apartementnya. Dia sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk masa depannya. Clara tidak terima jika Reyhan meninggalkannya, Clara juga tidak terima jika Kirana suatu hari akan mendepaknya dari perusahaan karena bantuan Aezar.
"Aku tidak boleh terus diam, aku tidak mau jatuh miskin seperti dulu, tidak lagi bekerja di perusahaan, tanpa Reyhan ada bersamaku. Dunia Clara tidak mengenal kata kalah. Clara akan menang dan selalu menang dalam setiap permainan. Clara tidak boleh kalah," panik Clara sambil meremas sebuah surat kabar yang di dalamnya terdapat berita tentang bangkitnya seorang wanita dari keterpurukan.
Sedangkan di sebuah gedung megah nan besar, Andre sedang menyiapkan acara jumpa media yang menjadi tamu utamanya adalah Kirana. Media sangat tertarik dengan prestasi Kirana yang terus melambung
Kirana menuai beberapa kritikan positif, tapi beberapa kritikan negatif tetap terdengar. Bukan dunia namanya kalau semua orang menyukai kesuksesan orang. Apalagi setelah tahu laki-laki yang akan mempersunting Kirana adalah pewaris perusahaan besar.
* Cerita ini sebuah misi dari Noveltoon, jadi tokoh dan alur cerita sudah di tentukan
*Happy reading
__ADS_1