Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
10.KALAH TARUHAN


__ADS_3

Pukul 00:30.


Tepat tengah malam. Andy, Andreas, dan 8 anggotanya berpindah lokasi tempat tongkrongan di jalan Batang kuis. Bukan geng motor Andy saja berada di sana, ada geng motor lain juga.


Andy telah berdiri berhadapan dengan seorang pria lebih dewasa darinya. Guan Lin, itulah nama dari ketua geng motor tersebut.


“Nantangi kami?” tanya Andy tenang.


“Iya, gue nantangi geng motor milik lu, yang terkenal cukup kreak di Sumatera ini,” sahut Guan Lin.


“Kami kreak bukan menganggu geng motor lain. Kami kreak hanya kepada orang-orang tertentu,” ucap Andy menjelaskan.


“Bacot lu anji*ng! Buktinya anggota gua, di sikat sama anggota lu saat dia pergi ke bar malam itu!” celetuk Lin meninggikan nada suaranya.


Andreas hendak melangkah mendekati Andy untuk menghajar mulut Lin. Namun, Andy mengulurkan tangannya seolah memberi perintah untuk tidak ikut campur. Andreas menuruti perintah Andy sehingga ia mundur kembali ke posisi tempat ia berdiri.


“Tunjuk, TUNJUK SIAPA ORANGNYA!” perintah Andy meninggikan nada suaranya di kalimat terakhir.


“Okeh!”


Lin menoleh ke arah kumpulan anggota Andy berdiri, ia terus memandang satu persatu wajah bengis anggota Andy. Pandangan Lin terhenti pada wajah Andreas.


“Nah, itu orangnya!” tunjuk Lin kepada Andreas.


Andreas mengepal kedua tangannya, kedua alisnya menyatu seolah tak terima dengan tuduhan palsu Lin.


Sudah pasti ini akal-akalan Lin.


“Aku tidak percaya dengan tuduhan palsu dari mulut busuk kau!” cetus Andy tak terima dengan tuduhan palsu Lin.


“Okeh!” Lin melambaikan tangannya, memberi kode kepada salah satu anggotanya.


Seorang anggota bertubuh kekar dengan wajah babak belur keluar dari kumpulan, berjalan ke arah Lin dan Andy. Anggota Lin dengan wajah babak belur sudah berdiri di antara Andy dan Lin.


“Lihat! Masih saja lu ingin membela orang kepercayaan lu itu?” tanya Lin menunjuk sembari memperjelas wajah babak belur anggotanya karena ulah Andreas.


Andy melirik ke Andreas, dan mulai bertanya akan kesungguhan tuduhan tersebut.


“Andreas, bisa jelaskan kepadaku?” tanya Andy sopan, dan masih berdiri di posisi semula.


Sejenak Andreas tertunduk, kemudian ia menatap anggota Lin berdiri di samping Andy.


“Maaf ketua. Aku memang memukulnya, tapi…”


“Nah! Jujur juga lu—” sela Lin. Namun, langsung dihentikan oleh Andy.

__ADS_1


“Bisa diam nggak kau, bo*dat!” tegur Andy meninggikan nada suaranya.


Lin menarik garis senyum di wajah putih keturunan China nya.


“Okeh, gua akan diam!”


Andy melirik ke Andreas. Andreas mengerti maksud lirikan Andy langsung melanjutkan ucapannya.


“Maaf ketua. Aku memang memukulnya, tapi aku memukul itu karena—” Andreas menjeda ucapannya, mengalihkan pandangannya ke anggota Lin kembali, masih berdiri dengan kepala tertunduk di samping Andy. “Aku minta kau jujur, sebelum aku membuat kau menderita lagi di sini, bangsa*t!” lanjut Andreas meninggikan nada suaranya di kalimat terakhir.


Tidak senang mendengar suara Andreas begitu lebih tinggi dengan sorot mata tajam memandang anggota Lin. Beberapa anggota Lin hendak menyerang Andreas. Namun, harus segera di tahan karena Lin mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat untuk tidak bermain kekerasan.


Lin menyuruh anggotanya tadi kembali ke tempatnya. Kemudian ia berdiri berhadapan dengan Andy.


“Jadi, gue sebagai ketua ingin mengajak lu untuk taruhan sebagai tanda permintaan maaf atas kejahatan dari anggota lu kepada anggota gue!” tegas Lin memberi persyaratan.


“Bacot! Bilang aja dari tadi jika kau ingin mengajak taruhan. Pakek basa-basi nggak berbobot menuduh anggota ku pula kau ini. Ayolah! Aku terima tantangan kau,” sahut Andy menerima dengan senang hati.


“Sebelum memulai pertarungan. Gue ingin meminta hadiah sebagai kemenangan dari tantangan ini,” ucap Lin menaikkan sebelah alisnya.


“Ngomong aja dari tadi kau. Macam perempuan, nggak siap-siap kurasa. Iya, ya! aku terima apa pun yang kau inginkan dariku!” celetuk Andy.


Andy dan Lin menaikkan kedua tangannya ke atas, memberi isyarat untuk membawa sepeda motor mereka ke tengah lintasan tempat balap liar biasa terjadi di malam-malam tertentu.


10 menit setelah persiapan. Suara geberan sepeda motor milik Andy dan Lin menggelegar di jalan raya sunyi senyap malam itu.


Andy dan Lin saling menatap satu sama lain dari balik helm mereka.


“1, 2, 3!” teriak seorang wanita milik Lin sambil melemparkan sapu tangannya ke udara.


Andy dan Lin segera tancap gas, melajukan sepeda motornya di jalan raya sunyi malam itu. Suara gahar milik Andy dan Lin menggelegar jadi satu malam itu.


Kini Andy memimpin di depan, sedangkan Lin masih berjalan lambat di belakang.


“Sedikit lagi, sedikit lagi sepeda motor itu akan menjadi milikku,” gumam Lin sembari menatap lurus ke punggung Andy sudah berada jauh darinya.


100 meter hampir mendekati lintasan finish, ban sepeda motor milik Andy tiba-tiba bocor.


Andy melaju dengan kecepatan tinggi hampir saja terjatuh. Untung saja ia bisa menyeimbangkan laju kendaraannya, kalau tidak Andy dan sepeda motor barunya akan berakhir duka.


Tidak terima melihat Andy baik-baik saja. Lin sengaja memepetkan sepeda motornya, menyenggol sedikit ke sepeda motor Andy sehingga Andy terjatuh sejauh 5 meter dari ke pinggir trotoar.


Andreas melihat hal tersebut langsung tancap gas menuju lokasi Andy, diikuti 2 orang anggota lainnya.


“Ketua, maafkan kesalahanku karena tidak becus mengecek kendaraan ketua!” celetuk Andreas sembari mengangkat sepeda motor menimpa kaki Andy.

__ADS_1


“Lebay kali! Yang salah bukan kau, tapi memang sih mata cipit itu yang sudah merencanakan ini semua,” sahut Andy, pandangannya mengarah pada Lin sudah sampai di garis finish.


“Jadi, gimana sepeda motor ketua?” tanya Andreas cemas. Memberi topangan karena kaki kiri Andy cedera.


“Biar dimakan sama dia. Aku akan pakai sepeda motorku yang lama saja. Kebetulan besok siang sepeda motor sport lamaku akan di antar oleh petugas bengkel,” sahut Andy tidak mencemaskan apa pun.


“Gimana kalau Papa—”


“Jangan sebut nama pria itu! Dia tidak ada hubungannya dengan semua yang aku lakukan. Bahkan dia juga tidak pernah bertanya kenapa aku bisa membeli banyak kereta sehingga kereta tersebut memenuhi garasi mobilnya,” sela Andy merasa jengah saat mendengar seseorang menyebut nama sang Papa.


Saat percakapan Andy dan Andreas. Lin datang menghampiri bersama mobil pick up.


“Angkat KLX ini naik ke atas pick up!” tegas Lin memberi perintah kepada sang supir.


Kedua supir di bantu oleh anggotanya menaikkan KLX milik Andy naik ke pick up. Kemudian Lin mendekati Andy sedang berdiri menopang pada Andreas.


“Berkat kekalahan lu, gue bisa menikmati KLX tanpa harus mengeluarkan uang ratusan juta. Terima kasih buat ketua geng yang…BO-DOH!” bisik Lin.


Bukannya marah Andy malah meludahi wajah Lin, kemudian membalas ucapannya.


“Miskin saja berlagak menjadi ketua geng motor!” ejek Andy.


“Kamu…”


Seolah tak terima dengan perlakuan Andy, Lin hendak memukul wajah Andy. Namun, Andreas segera menahan kepalan tinju Lin.


“Pulanglah sebelum aku berubah pikiran!” tegas Andreas.


Takut dengan ancaman Andreas, Lin pulang bersama dengan rombongannya.


“Ketua mau pulang kemana?” tanya Andreas sembari membawa Andy melangkah mendekati sepeda motornya. Andreas juga membantu Andy untuk naik dan duduk di kursi penumpang.


“Antar saja aku ke rumah Papa,” sahut Andy.


“Tapi, entar Om Khandar…”


“Tenang saja, aku bisa mengatasi hal tersebut,” sela Andy cepat.


Andreas pun dengan cepat membawa Andy menuju rumahnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2