
Andreas berjalan cepat keluar ruangan Fitri menuju ruangan Andy. Namun, begitu sampai di luar ruangan Andreas melihat Andy dan Pak satpam berjalan menuju lift. Kuatir akan keselamatan Andy, Andreas bergegas menyusul Andy.
“Ada apa ini?” tanya Andreas setelah ia berhasil mengejar Andy.
Sambil terus berjalan Andy menjawab. “Wanita bermuka dua itu membawa beberapa wartawan di depan,” sahut Andy menjelaskan.
“Kamu harus hati-hati. Gimana kalau aku saja yang menemui para wartawan di luar,” usul Andreas.
Langkah kaki Andy, Andreas dan Pak satpam berhenti serentak di depan lift.
“Ini masalahku, bukan masalahmu!” tegas Andy, kaki kanan di susul kaki kiri masuk ke dalam lift. Andreas dan Pak satpam ikut masuk ke dalam lift.
Andreas memutar sedikit arah berdirinya ke Pak satpam yang berdiri di belakang mereka.
“Kira-kira berapa banyak wartawan di luar?” tanya Andreas serius.
“Kemungkinan 20 orang, Pak,” sahut satpam memberitahu.
“Apakah di sana ada Haniffah juga?” tanya Andreas penasaran.
“A-ada. Cuman para wartawan tidak bisa masuk ke dalam pagar, sebab kami lebih dulu mengunci semua gerbang agar mereka tidak masuk. Tapi yang jadi masalahnya, jalan masuk kita di penuhi oleh mereka,” jelas pak satpam.
Pintu lift terbuka. Andy, Andreas dan Pak satpam keluar dari lift bersama.
“Tentang mereka memenuhi jalan itu tidak masalah, karena jalan akses ke Perusahaan kita tidak banyak di lalui oleh orang lain. Yang menjadi permasalahanku sekarang, pagar Perusahaan tidak ambruk di buat oleh mereka, kan?” tanya Andy mencemaskan pagar Perusahaan miliknya.
“Yaelah, sih boda*t ini malah memikirkan pagar,” gumam Andreas menghujat.
“Ya enggaklah, bodoh kali ku rasa kau. Ya, aku memikirkan semua karyawanku lah!” cetus Andy.
Kini langkah kaki Andy, Andreas dan Pak satpam terhenti di depan gerbang Perusahaan. Di balik gerbang telah berdiri 20 orang wartawan, masing-masing di tangan mereka membawa kamera dan alat perekam suara. Dan sudut kiri pagar berdiri Haniffah sambil membawa toak.
“Pagi bos abnormal!” sapa Haniffah memakai toak.
“Iiis, ngeri kali mulut wanita satu itu. Pingin kali ku robek,” geram Andreas berbisik.
Andy tidak menjawab, ia hanya melirik sinis ke Haniffah.
Meski para wartawan di halangi oleh pagar besi, para wartawan tetap bersiap, mengarahkan alat-alat mereka kehadapan Andy, dan mulai bertanya.
“Bos Andy, apakah benar pria yang di samping bos itu adalah kekasih Anda?” tanya salah satu wartawan dan di sambung wartawan lainnya.
“Kami mendengar dari mantan sekretaris Anda. Kalau dirinya di pecat karena tak sengaja melihat Anda sedang bermesraan di dalam ruangan!”
“Bukan itu saja. Anda juga rela mengalihkan status hubungan spesial Anda dengan cara berpacaran dengan seorang wanita?”
Andy tidak menjawab, sorot mata dinginnya terus mengarah pada semua wartawan. Sedangkan Andreas, dadanya benar-benar terasa sesak sehingga ingin sekali membabat habis mulut para wartawan yang terus bertanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang tv Karina.
Selesai membereskan rumah, Tina dan Karina beristirahat dengan cara menonton tv. Tak sengaja Tina menekan siaran langsung berita hangat, dimana berita tersebut menayangkan video Andy.
“Loh, kenapa dengan nak Tama?” tanya Tina penasaran.
“Nggak tahu, bu. Coba dengarkan dulu,” sahut Karina menambah volume suara.
Begitu suara volume di besarkan, kedua telinga mereka mendengar jelas pertanyaan tak pantas dari salah satu wartawan.
“Apa benar kalian berdua memiliki hubungan gelap? Dan kalian tahu, kan kalau negera kita ini Negara apa?”
__ADS_1
Karina langsung mengerti maksud dari berita siaran tv tersebut. Tak ingin menunda, ia pun bergegas mengganti pakaian, mengambil kunci mobil dan hendak pergi ke Perusahaan Andy kebetulan tak jauh dari rumahnya.
Bukan hanya Karina, sebagai calon menantu kesayangan. Melihat Andy diperlakukan seperti itu Tina juga ingin ikut pergi membela sang calon menantu.
Kini mobil di naiki Tina dan Karina perlahan melaju ke Perusahaan milik Andy. Tak sampai 30 menit, mobil Karina terhenti di belakang para wartawan.
Geram dengan berita tak pantas, Karina menekan klakson mobil sekuat-kuatnya, sampai-sampai seluruh wartawan spontan berjongkok, menutup kedua telinga mereka.
Andy dan Andreas tercengang melihat kedatangan Karina.
“Karina! Bu Karina,” gumam Andy dan Andreas tak menyangka jika Karina datang.
Tidak ingin menunggu lama, Karina dan Tina keluar dari mobil, berjalan santai melewati wartawan sedang menyorot ke arah mereka.
“Siapa, siapa wanita cantik yang datang bersama ibunya ini?” gumam wartawan saling bertanya.
Langkah kaki Tina dan Karina terhenti di depan gerbang.
Menyadari rencananya akan gagal, Haniffah kembali menyulutkan sebuah ungkapan agar para wartawan menyorot Karina.
“Kalian mau tahu siapa wanita ini?” tanya Haniffah memakai toak.
“Iya, siapa wanita itu. Cepat katakan?”
Karina melirik sinis ke Haniffah. Lalu segaris senyum tercetak di wajah teduh dan cantik Karina.
‘Apalah perempuan sok alim satu ini. Bisa-bisanya dia tersenyum padaku,’ batin Haniffah.
Cemas dengan Karina dan Tina. Andreas dan Andy bergegas keluar pagar untuk melindungi Tina dan Karina.
“Kamu kenapa di sini?” tanya Andy setelah berdiri di samping Karina.
“Saya dan ibu melihat siaran langsung tentang kamu di tv. Merasa jika berita ini salah, saya memutuskan untuk mengklarifikasinya sekarang juga,” sahut Karina tenang.
“Saya tidak peduli tentang pendapat orang lain,” ucap Karina, tangannya menggenggam tangan Andy. “Mari kita hadapin bersama,” tambah Karina.
Mendengar ucapan Karina, Andy menjadi semangat. Andy melirik ke beberapa satpam berdiri di antara para wartawan, dan mulai memberi perintah.
“Kalian tangkap Haniffah!” tegas Andy memberi perintah.
“Baik BOS!” sahut serentak 3 orang satpam.
Menyadari dirinya akan di tangkap, Haniffah bergegas lari. Namun, ketiga satpam segera mengejarnya. Setelah dapat, Haniffah di bawa mendekati Andy.
Semua wartawan di sana di buat semakin bingung dan kembali bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya salah satu wartawan di sambung para wartawan lainnya.
“Begini, saya sebagai seorang ibu telah mengenal cukup lama siapa Tama. Tama ini adalah pria yang baik dan lurus-lurus aja,” tangan Tina mengarah ke Andreas berdiri di sisi kirinya. “Kalau pemuda yang berdiri di sisi kiri saya adalah Nak Andreas. Saya juga mengenalnya, karena mereka berdua adalah mantan anak murid dari anak saya, Karina. Mereka berdua, maksud saya Andy dan Andreas adalah seorang sahabat baik. Tentang hubungan mereka yang di gosipkan miring oleh gadis cantik di sana tidaklah benar.”
Tina berjalan sedikit ke arah Haniffah yang di tahan oleh 2 satpam, dan berhenti di samping Haniffah.
“Gadis yang ayu, cantik, dan baik,” panggil Tina, ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Haniffah. “Ibu minta kamu segera mengklarifikasi tentang ucapan kamu tentang Nak Tama di depan semua wartawan. Kalau kamu tidak mengklarifikasinya sekarang, maka ibu akan mengirimkan santet untukmu,” ancam Tina di kalimat terkahir.
Takut dengan ancaman Tina. Haniffah langsung mengeluarkan suaranya.
“Maafkan aku. Sebenarnya itu semua hanyalah fitnah karena aku kesal di pecat begitu saja oleh Bos Andy. Bos Andy adalah orang yang baik. Dia juga sangat mencintai Karina. Maafkan saya, sebaiknya kalian semua pergi karena itu hanya akal-akalan ku saja!” teriak Haniffah di sela ketakutannya.
“Sudah dengar, kan? Sebaiknya para wartawan yang baik hati ini pergi sana. Syuh, syuh!” usir Tina.
"Wuuuhh!! Buang-buang waktu saja. Wuuuh!!" sorak wartawan.
__ADS_1
Mau tak mau, para wartawan pergi sambil menyoraki Haniffah.
“Aku sudah lapor polisi,” ucap Andreas.
“Ja-jangan laporkan saya ke polisi!” mohon Haniffah memelas.
“Terlambat, itu suara mobil polisinya telah mendekat,” ucap Andreas.
Wiuw wiuw wiuw!
Mobil polisi terhenti di depan mereka. 3 orang polisi turun dari dalam mobil, berjalan mendekati Andy.
“Selamat pagi,” sapa salah satu pak polisi.
“Pagi, Pak,” sahut Andreas.
Pak polisi melirik ke Haniffah di tahan oleh kedua Pak Satpam. Lalu melirik lagi ke Andy dan juga Andreas.
“Kami mendapat laporan ada seorang wanita yang membuat kerusuhan di sini. Apakah wanita itu yang berada di sana?” tanya Pak polisi mengarahkan tangannya ke Haniffah.
“Benar, aku tadi yang menelepon bapak polisi,” sahut Andreas, tangannya mengarah pada 3 orang satpam menahan Haniffah. “Itu tuh Pak. Wanita aneh yang sudah memfitnah sahabatku. Segera tangkap dia, dan hukum wanita itu seberat-beratnya!” tambah Andreas tegas.
Mendengar akan di tahan. Haniffah ketakutan, ia berusaha memberontak, ingin melepaskan diri dari genggaman tangan 2 orang satpam. Namun apalah daya tenaga Haniffah masih kalah jauh dari tenaga kedua orang satpam tersebut.
“Lepaskan saya. Saya tidak melakukan hal ini, lepaskan saya!” teriak Haniffah ingin membela dirinya kembali.
“Tangkap saja wanita itu Pak. Karena aku sudah sangat muak melihat wajah dan bibirnya yang terus berdusta!” tegas Andy berwajah datar.
“Baik!” sahut pak polisi.
2 orang pak polisi memborgol tangan Haniffah, membawanya masuk menuju mobil.
“Awas saja Andy. Aku akan datang membalaskan semua dendamku padamu. Aku bersumpah tidak akan membuat hidup kamu dan Karina bahagia!” teriak Haniffah di saat dirinya telah masuk ke dalam mobil polisi.
Mendengar ancaman dari Haniffah. Andy, Tina dan Andreas terlihat tenang. Tapi tidak dengan Karina. Wajah Karina terlihat sedikit pucat, seolah takut dengan ancaman receh dari Haniffah.
Selesai sudah menangkap Haniffah. Pak polisi berpamitan, kemudian mereka membawa Haniffah pergi ke kantor polisi, di susul Andreas akan memberikan keterangan kepada pihak berwajib.
Melihat Karina berwajah pucat, Andy segera mendekat, menggenggam tangan Karina.
“Jangan pikirkan ancaman yang terlontar dari bibir wanita itu. Selama masih ada aku di sini, maka aku akan menjaga kamu dari segala macam bahaya,” ucap Andy merendahkan nada suaranya.
Karina tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangannya, menandakan dirinya sudah tenang dan tak kuatir.
“Alhamdulillah, semuanya telah selesai, sebaiknya mari kita pulang,” ajak Tina.
Andy melepaskan genggaman tangannya Karina.
“Tante tolong jaga calon istri masa depanku, ya!” pinta Andy mulai menggombal.
“Siap, semua aman di tangan ibu!” sahut Tina memberikan jempol tangannya ke Andy.
“Saya pulang dulu,” pamit Karina.
“Hati-hati ya, sayang!” sahut Andy penuh cinta. Tina mendengarnya hanya senyum-senyum sendiri.
Tina dan Karina pergi meninggalkan gerbang perusahaan Andy.
"Terima kasih ya, Karina," gumam Andy. Ia pun masuk setelah melihat mobil Karina hilang di pelupuk mata.
.
__ADS_1
.
Bersambung