
Hari bahagia itu pun tiba. Di halaman berukuran 10x20 meter telah berdiri tenda menjulang tinggi dan beberapa dekorasi pesta pernikahan menghiasi halaman rumah Karina.
Banyak tamu datang di sana, namun semuanya diam mendengarkan lantunan suara Andy mengucapkan janji suci di depan kedua orang tua, al-quran dan pak Penghulu. Setelah kalimat “sah” terdengar jelas dari masing-masing mulut. Suara para tamu undangan dan lantunan lagu terdengar.
Karena acara inti telah selesai, Andy dan Karina naik ke pelaminan dengan baju kebaya dan jas pilihan mereka.
Andreas yang datang ke acara pernikahan Andy hanya bisa mendengus kesal, sorot mata terus memandang wajah Andy menatap dirinya penuh dengan tatapan mengejek. Dan hal itu sukses membuat Andreas menggeram.
“Berani sekali anak nakal itu menatapku seperti itu. Awas saja kau, Andy,” gumam Andreas menggeram, tangannya terus memasukkan cenil sehingga mulut tadi dipenuhi cenil dan suara cegukan terdengar jelas.
Fitri di sebelahnya melirik, tangannya mengulurkan cup mineral pada Andreas.
“Minum dulu,” ucap Fitri.
“Hik!” cikukan Andreas, tangannya mengambil cup minuman dari tangan Fitri dan meminumnya.
“Sudah lega?” tanya Fitri setelah melihat cup minuman air mineral habis sampai cup tersebut mengempis.
Andreas menoleh tiba-tiba, menatap serius wajah terkejut Fitri.
“Astaqfirullah, kamu kenapa menatapku secara mendadak seperti itu?” tanya Fitri memegang dada kirinya.
Andreas mengambil tangan kanan Fitri, meletakkannya ke bagian dadanya, sambil mendekatkan wajahnya.
“Kita nikah besok, yok!” celetuk Andreas, mengajak Fitri menikah seperti mengajak anak kecil hendak membeli gula-gula di pasar malam.
Seperti tak memiliki harga diri, Fitri melepaskan tanganya dari genggaman tangan Andreas. “Dasar anak kecil. Kamu kira menikah itu seperti kamu ingin membeli permen,” ucap Fitri dengan raut wajah masamnya.
“Oh, kalau ingin menikah kita bukan langsung menikah begitu saja, ya?” tanya Andreas.
“Bukanlah, ada tahap perjumpaan orang tua, lamaran, lalu ke tahap pernikahan,” sahut Fitri menjelaskan.
__ADS_1
“Ribet. Kalau gitu aku hamili Kakak saja agar urusannya tidak sesulit—” ucapan Andreas terhenti saat Fitri mengetuk dahi Andreas dengan kipas mini.
“Jangan pernah bermimpi untuk menikahi saya kalau pikiran kamu masih mesum dan kotor seperti itu!” tegas Fitri.
“Maaf,” gumam Andreas meminta maaf.
Kesal akan ucapan Andreas, Fitri pun menjauh dari Andreas, memilih untuk duduk di tempat Tina, menjaga tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di pelaminan
Di tengah-tengah kesibukan fotografer mengambil foto Andy dan Karina. andy sempat-sempatnya berbisik di telinga Karina.
“Malam pertama nih,” bisik Andy membuat Karina tersenyum.
“Haid pertama nih,” sahut Karina mengejutkan Andy.
Karina tidak menjawab, bibirnya hanya mengulas senyum tipis dan mengikuti arahan fotografer.
“Kalau nggak bisa unboxing, aku akan menjelajahi yang lain saja,” gumam Andy tak habis akal.
“Harus di tahan agar tak terjadi kekhilafan berlanjut,” ucap Karina memberitahu.
“Haih, berapa lama aku harus menunggu,” gumam Andy tak bersemangat.
“7 hari,” sahut Karina.
“7 hari. Selama 7 hari aku masih perjaka dan kamu masih perawan.”
Karina mengangguk.
__ADS_1
“Kasihan kamu burung, harus menunggu hujan redah baru bisa membuat sangkar di atas ranting,” celetuk Andy pada dirinya sendiri, sorot mata mengarah pada bagian tengah.
Karina hanya tertawa geli mendengar ucapan Andy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat duduk Junaidi, Tina, dan Khandar.
Sambil menyalami para tamu undangan yang datang, mereka menyempatkan diri saling berbisik.
“Tidak menyangka jika anak-anak kita telah menikah,” cetus Khandar bergumam pada Junaidi.
“Iya, tapi kalau Andy membuat Karina menangis di malam pertama pernikahan. Maka aku akan memisahkan mereka berdua,” sahut Junaidi langsung di sikut Tina. Khandar sendiri hanya tertawa.
“Bapak ini, sudah pasti lah Karina menangis di malam pertama. Putrid kita, kan pernah melakukan hal seperti itu. Bapak macam nggak pernah melakukannya saja pada ibu,” bisik Tina membuat Junaidi malu.
“Bapak lupa,” kekeh Junaidi cengengesan.
Tapi, setelah semua kesulitan yang dilalui mereka. Andy dan Karina bisa bersama. Ibu selalu mendoakan hal terbaik untuk mereka,” tambah Tina sedikit lirih.
“Amin, terima kasih atas doanya,” sambut Khandar.
“Apakah mereka berdua akan langsung pindah ke rumah bapak?” tanya Junaidi pada Khandar.
“Saya tidak tahu. Biarkan mereka berdua yang menentukan mau tinggal dimana,” sahut Khandar.
“Asal mereka nyaman, itu sudah lebih dari cukup,” tambah Tina.
“Ibu benar,” angguk Junaidi.
Pernikahan Andy dan Karina pun berlangsung begitu meriah dan berjalan lancar. Setelah banyak rintangan yang mereka lalui, akhirnya mereka bisa bersama.
__ADS_1