
Melihat begitu indahnya pakaian pengantin berjejer memenuhi ruangan tersebut, Tina tak sadar sampai meneteskan air mata kebahagian. Rasa bahagia tak menyangka jika putrinya akan menikah dan mendapatkan perlakuan istimewa tanpa membedakan status.
Tak ingin terlihat lemah dan cengeng di depan Karina dan lainnya. Tina segera menghapus jejak air matanya, lalu kedua kakinya melangkah mendekati pakaian kebaya wanita. Di ambilnya salah satu pakaian kebaya pengantin berwarna putih seperti susu.
“Karina, lihat ini. Kebaya ini begitu cantik dan bersih,” celetuk Tina sambil menunjuk pakaian kebaya tersebut.
Staf wanita tersebut mendekati Tina, mengambil pakaian kebaya tersebut dan berkata, “Pilihan yang pas. Kebaya ini baru saja di pajang 1 hari lalu, dan modelnya hanya 1.”
“Kebaya yang bagus dan tidak norak. Gimana sebaiknya kamu coba dulu agar aku bisa melihatnya,” pinta Andy pada Karina.
Karina mengambil baju kebaya tersebut,dan mencobanya di ruang ganti. 10 menit menunggu, Karina keluar bersama dengan staf wanita dari ruang ganti.
Tina, Khandar, Junaidi dan Andy spontan menoleh ke Karina, kedua bola mata mereka membulat sempurna begitu melihat Karina benar-benar begitu cantik memakai baju kebaya tersebut.
“Gimana?” tanya Karina malu.
“Pas! Cocok,” sahut Tina, Junaidi dan Khandar sambil memberikan jempol tangannya ke Karina.
“Kamu sangat cantik,” puji Andy. Karina menunduk malu.
“Benar, putri ibu terlihat sangat cantik,” tambah Tina.
“Saya beli baju ini,” ucap Khandar kepada staff wanita tersebut.
“Baik, Pak!” sahut staff wanita itu.
Karina dan staf wanita itu kembali ke ruang ganti, setelah pakaian di tukar, Karina kembali ke luar, berdiri bersama Andy, Junaidi, Khandar, dan Tina.
“Kamu sudah pilih stelan jas mana yang harus di pakai?” tanya Khandar pada Andy.
“Sudah, Pa,” sahut Andy.
“Karena pakaian pengantin sudah di pilih. Gimana kita keliling melihat-lihat pakaian untuk kita kenakan nanti,” usul Khandar.
Tina, Junaidi, Andy, dan Karina kembali berkeliling untuk memilih pakaian seragam dan pakaian lainnya untuk mereka.
Puas mencari pakaian untuk mereka, dan sudah membayar semua belanjaan baju. Khandar, Andy, Tina, Junaidi dan Karina akhirnya keluar dari gedung tersebut dengan masing-masing tangan dipenuhi bungkusan barang belanjaan.
“Syukurlah semua sudah selesai,” ucap Tina setelah mereka semua duduk di dalam mobil.
“Ada yang belum bu, cincin pertunangan,” sahut Khandar mengingatkan.
__ADS_1
“Pa, kalau masalah itu biar aku dan Karina saja yang memilihnya,” sela Andy.
“Mumpung kita di luar, sebaiknya kita pilih sekalian saja agar tidak mengulur waktu,” ucap Khandar memberitahu.
“Benar, kalau bisa sekarang kenapa harus menunda esok. Kalau kalian malu kami terus mengikuti kalian berdua, sebaiknya kami menunggu di dalam mobil atau berkeliling ke stand di dalam mall lainnya,” sambung Junaidi membenarkan ucapan Khandar.
“Baiklah, kalau gitu kita cari sekalian,” sahut Andy pasrah.
Karena tempat butik tak jauh dari Mall tempat menjual perhiasan. Khandar melajukan mobilnya menuju gedung Mall tersebut. Tak sampai 1 jam, mobil mereka telah terparkir di parkiran mall tersebut.
Hanya ingin berdua memilih cincin pernikahan mereka. Andy mengajak Karina berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Tina, Junaidi dan Khandar.
Selesai menemukan cincin pasangan, mereka kembali ke dalam mobil.
Lelah seharian berbelanja kebutuhan untuk pernikahan, Khandar berencana untuk mengajak Tina, Junaidi dan lainnya makan di restaurant. Namun, Tina tak suka makan makanan luar. Ia lebih memilih untuk di antar pulang dan mengajak Khandar untuk makan di rumahnya saja.
Khandar tak menolak, ia pun melajukan mobilnya menuju rumah Karina.
2 jam kemudian.
Akhirnya mobil Khandar terparkir di halaman rumah Karina, mereka turun dan masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
“Akh! Akhirnya selesai juga satu tahap,” lega Khandar sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
“Masak yang enak, ya!” sahut Andy santai, dan tanpa merasa bersalah dirinya merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
Tina hanya memberikan jempol tangan untuk Andy, lalu mengajak Karina pergi ke dapur.
“Andy, he!” tegur Khandar sambil menyepak ujung kaki Andy menggantung ke bawah.
“Apaan sih, Pa!” sahut Andy bukannya bangun, tapi ia malah memutar tubuhnya membelakangi Khandar.
“Kamu nggak sopan. Masa ada orang tua di sini kamu malah enak-enakan tidur dan membelakangi kami seperti itu. Ayo, cepat bangkit!” tegur Khandar kembali menyepak ujung kaki Andy.
“Ngantuk loh, Pa,” Andy memperlihatkan kelima jarinya, dan berkata, “Kasih waktu 5 menit saja untuk merem.”
Kasihan melihat tubuh tinggi Andy melengkuk seperti ular. Junaidi memberikan izin Andy untuk tidur di kamar Karina.
“Daripada kamu tidur seperti itu di sini, lebih baik kamu tidur di kamar Karina sana!”
Andy spontan terduduk. “Serius Om?” tanya Andy semangat.
__ADS_1
“Iya, karena kasihannya aku melihat anak muda lemah seperti kamu tidur meliuk-liuk seperti itu di sini,” sahut Junaidi tak tanggung-tanggung.
“Nggak tahu malu. Tahu gitu kita pulang saja,” gumam Khandar malu.
Tak ingin cepat pulang, Andy spontan beranjak dari duduknya, kedua kakinya berlari kecil menuju kamar Karina.
“Kenapa diberi bebas anak nakal itu masuk ke dalam kamar Karina?” tanya Khandar penasaran.
“Biarkan saja, biarkan dia istirahat di dalam kamar untuk meluruskan tubuhnya,” sahut Junaidi kasihan
.
“Dasar anak nakal. Buat malu aku saja,” gumam Khandar sembari menggelengkan kepalanya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Karina
Andy berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Kedua matanya menatap sekeliling kamar di penuhi warna biru muda, dan ada beberapa koleksi boneka milik Karina di pajang di lemari.
“Eh, apa-apaan semua isi dalam kamar calon istriku ini?” Andy menggaruk kepala tak gatal. “Akh! Sudahlah abaikan saja yang berserakan di sini,” gumam Andy.
Kedua kaki Andy melangkah mendekati ranjang, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk Karina. karena lelah, kedua mata Andy terpejam begitu cepat, apalagi harum aroma bantal Karina begitu lembut menenangkan hati dan pikiran.
1 jam berlalu.
Selesai memasak, dan semua masakan sudah terhidang di meja makan. Karina berniat memanggil Junaidi, Khandar dan Andy masih duduk di ruang tamu. Namun, sesampainya di sana Karina tak melihat Andy di sana.
“Loh, Andy mana Pak, Ayah?” tanya Karina pada Khandar dan juga Junaidi.
“Di dalam kamar kamu,” sahut Junaidi santai.
“Apa? Kok bisa!” Karina langsung berbalik badan kedua kakinya melangkah menuju kamar miliknya.
Begitu sampai di dalam kamar dan hendak memarahi Andy. Karina malah mendapatkan pemandangan Andy yang tertidur dengan mulut terbuka lebar. Raut wajahnya terlihat begitu sangat kelelahan. Tak tega untuk membangunkan Andy. Karina menyelimuti Andy, lalu menghidupkan pendingin ruangan.
.
.
__ADS_1
Bersambung