Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
Bab 59.Cerita


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Tina, Karina mendadak malu. Bagaimana tidak malu, seumur Karina seharusnya sudah tidak bisa di bilang sedang berpacaran lagi. Seharusnya usia seperti Karina sudah menikah, bahkan mungkin memiliki anak.


Karina keluar dari dalam kamar, duduk di sebelah Tina sambil terus-menerus menukar siaran tv.


Kesal melihat Karina terus menukar-nukar siaran tv tanpa henti. Tina merampas remot dari tangan Karina, menukarnya dengan siaran tv kartun anak-anak.


“Entar remot nya rusak!” omel Tina.


“Habisnya siaran tv tidak ada yang enak,” sahut Karina berwajah masam.


“Hem,” gumam Tina senyum-senyum sendiri.


“Ibu kenapa?” tanya Karina penasaran.


“Tidak ada,” geleng Tina, sorot matanya mengarah pada siaran kartun.


Sudah sore, Tina dan Karina melanjutkan pekerjaan mereka.


.


.


Sementara itu di ruang tamu mewah Andy.


Khandar dan Andy duduk di sana, masing-masing tangan di sibukkan dengan ponsel mereka. 20 menit sibuk dengan kehidupan masing-masing, Andy dan Khandar akhirnya berhenti, menyimpan ponsel mereka masing-masing.


“Andy,” panggil Khandar menatap Andy sedang merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


“Hem,” sahut Andy dengan mata terpejam.


“Apa benar kamu melempar Haniffah dengan asbak rokok?” tanya Khandar penasaran.


“Benar. Apakah wanita bermuka dua itu ingin meminta biaya pengobatan?” sahut Andy santai.


Khandar menghela nafas kasar.


Tak mendengar suara Khandar. Andy membuka sedikit kelopak matanya, melirik ke Khandar sedang memijat dahi.


“Kalau pusing minum obat,” cetus Andy memberitahu.


“Kenapa kamu melakukan hal seperti itu kepada Haniffah?” tanya Khandar penasaran.


“Kalau aku jelaskan kejadiannya. Apakah Papa akan percaya padaku? Tidak, kan. Untuk lebih jelasnya tanya saja pada wanita bermuka dua itu,” sahut Andy santai tanpa membuka kelopak matanya.


“Katakan saja. Papa akan mendengarkannya,” ucap Khandar terdengar pasrah.


Andy duduk, sebelah alisnya menaik, sorot mata tak percaya memandang wajah pasrah Khandar.


“Aku tidak akan menjelaskannya. Aku hanya ingin bilang ke Papa, kalau secepatnya aku ingin memecat Haniffah sebagai sekretaris ku!” tegas Andy.


“Terserah kamu saja. Perusahaan itu, kan kamu yang memiliki,” ucap Khandar tak ingin ambil pusing.


“Terima kasih, Pa. Tapi, sebelum aku memecatnya, aku ingin bermain-main sejenak dengan wanita bermuka dua itu,” celetuk Andy.

__ADS_1


“Terserah kamu!”


Sudah pasrah dan mencoba percaya pada Andy. Khandar hanya bisa berkata seperti itu. Andy sendiri kembali merebahkan tubuhnya sambil mengayunkan ponselnya sambil melantunkan nada.


‘Anak ini terlihat jauh berbeda belakangan ini. Lebih ceria dan sering bernyanyi. Apa itu karena Karina telah pulang?’ Khandar bertanya sendiri dalam hati. Sorot mata mengarah pada Andy sedang melantukan nada suara.


“Apakah kamu masih berpacaran pada Karina?” tanya Khandar penasaran.


“Kenapa?” tanya Andy sinis.


“Papa ingin tahu saja,” sahut Khandar santai.


“Tentu saja masih. Bahkan aku berencana ingin segera melamarnya. Cuman—”


“Cuman, kenapa?” tanya Khandar tak sabar.


“Karina lagi menunggu panggilan interview dari gedung psikolog. Jadi, masalah lamaran harus tertunda,” sahut Andy menjelaskan.


“Sabar saja, kalau jodoh pasti segera disatukan,” ucap Khandar memberitahu.


Andy berbalik badan, membelakangi Khandar sembari berkata. “Sabar itulah yang terkadang membuatku ingin khilaf.”


“Papa saja dulu mampu menahan semuanya dengan almarhum Mama mu sampai kami resmi menjadi suami istri. Dan kamu lahir ke dunia ini setelah umur pernikahan kami jalan 1 tahun 2 bulan,” jelas Khandar sedikit mengenang masa lalu saat bersama almarhum istrinya.


“Melihat Papa yang seperti ini, dan mendengar cerita Papa tentang masa lalu bersama mendiang Mama. Maaf, maaf saja. Aku sama sekali tidak akan percaya hal itu,” celetuk Andy tidak percaya.


“Papa tidak marah kalau kamu tidak percaya. Tapi, kamu harus mendengarkan saran Papa. Kehormatan seorang wanita itu yang menjaga adalah lelakinya. Jika suatu saat menikah, hargailah istrimu jika kamu ingin suatu hari nanti anakmu dihargai oleh pasangannya,” ucap Khandar memberi nasehat.


‘Apa aku tidak salah dengar? Seumur hidup aku tumbuh, baru kali aku mendengar Papa berkata seperti itu kepadaku. Waaaah! Aku jadi sangsi. Apakah lelaki yang sedang duduk bersamaku ini adalah Papa kandungku yang dulu suka bermain wanita?’


Khandar beranjak dari duduknya. Tapi, sebelum melangkah pergi, Khandar sempat melirik ke Andy dan berpesan. “Kapan-kapan undang lah Karina ke rumah. Ajak ia makan malam bersama dengan Papa.”


Andy tidak menjawab, ia lebih memilih berpura-pura tidur sampai Khandar telah pergi dari ruang tamu. Merasa Khandar telah benar-benar pergi. Andy melirik ke belakang, melihat ruang tamu telah kosong. Andy segera duduk, ia pun melangkah pergi menuju kamarnya. Bersiap mandi karena mala mini adalah malam minggu, dan ingin segera bertemu dengan Karina.


.


.


Pukul 20:45 malam.


Sepeda motor favorite Andy telah terparkir di halaman rumah Karina. Sebelum masuk ke rumah, Andy menyempatkan diri untuk berkaca, memastikan wajahnya terbebas dari debu dan kotoran.


Merasa sudah cukup tampan, Andy berjalan ke rumah, tak lupa mengetuk pintu dan memberi salam.


“Assalamualaikum,” ucap salam Andy di sela ketukan pintunya.


“Wa’alaikumsalam,” sahut Tina keluar dari dalam menuju ruang tamu.


Andy melihat Tina memakai baju brokat dari dengan hijab senada, dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Mau kemana tante?” tanya Andy masih berdiri di depan pintu.


“Mau undangan,” Tina mengulurkan tangannya ke sofa. “Mari masuk. Kamu tunggu di sini dulu, sebab Karina baru saja selesai sholat Isya dan mengaji tadi,” lanjut Tina menyuruh Andy masuk dan duduk.

__ADS_1


Tanpa rasa segan Andy masuk dan duduk.


“Siapa bu?” tanya Junaidi keluar dari ruangan dalam sembari merapihkan kancing baju kemeja kotak-kotaknya.


“Mau pergi undangan bersama tante, Om?” Andy langsung berbas-basi.


“Kau tengok?” sahut Junaidi sinis.


“Iya,” sahut Andy mengangguk.


Tak lama Karina keluar, berdiri di samping Tina.


“Sudah mau pergi bu?” tanya Karina.


“Iya,” sahut Tina.


“Sampai kami pulang. Kalian berdua tidak boleh berada di dalam rumah ini. Sebaiknya kalian pergi sana!” tegas Junaidi menyuruh Karina dan Andy keluar dari rumah sebelum pergi undangan.


“Bapak,” gumam Tina memberi pelototan kepada Junaidi. Junaidi membalasnya dengan mengedipkan mata.


“Baiklah!” Andy berdiri, mencium punggung tangan kanan Tina dan Junaidi, setelah itu berkata. “Aku akan bawa tuan putri jalan-jalan keliling kota Medan.”


Karina spontan menunduk karena malu.


“Pergi, pergi sana!” cetus Junaidi mengusir Karina dan Andy.


“Ayah, ibu. Karina pamit pergi,” pamit Karina menyalami Tina dan Junaidi.


“Hem!” dengus Junaidi berwajah angkuh.


“Jangan lupa bawa oleh-oleh ya, sayang,” ucap Tina memberi pesan.


“Sip!” sahut Andy memberikan jempol tangan kanannya.


Andy dan Karina pun melangkah pergi meninggalkan rumah. sementara itu, Tina mengomel pada Junaidi.


“Bapak ini! Kenapa langsung mengusir mereka dari rumah?”


“Sengaja bu. Bapak ingin mengetahui, apakah anak orang kaya itu benar-benar menyukai putri kita dengan tulus atau hanya sekedar main-main saja,” sahut Junaidi menjelaskan.


“Ya, tapi, kan tidak usah sampai ketus dan membentak seperti itu bapak,” ucap Tina memberitahu.


“Ibu tenang aja. Bapak tahu gimana caranya untuk memberikan sebuah ujian kepada seorang pemuda yang mencoba mendekati putri kita,” cetus Junaidi. Tangannya menggenggam tangan Tina. “Ayo, kita pergi. Bapak sudah lapar ini, mau makan rendang daging sama rendang jengkol di undangan nanti,” tambah Junaidi sambil menggandeng tangan Tina berjalan keluar dari rumah.


Tina hanya tersenyum, menggeleng melihat tingkah suaminya itu.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2