Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
35. Senyuman manis


__ADS_3

Sore harinya setelah pulang dari rumah Andreas.


Mobil milik Khandar masih sama terparkirnya seperti Andy pulang sekolah tadi. Dengan cuek Andy melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun, langkah kaki Andy terhenti di ruang tamu karena Khandar memanggilnya.


“Darimana saja kamu?” tanya Khandar.


“Tempat Andreas, Pa,” sahut Andy lanjut melangkah.


“Andy!” panggil Khandar kembali dengan lantang.


Andy kembali menghentikan langkahnya, wajahnya hendak menoleh. Namun, Andy tiba-tiba mendapat tamparan keras dari Khandar, membuat Andy tertunduk sambil memegang sebelah pipinya.


“Dasar anak tak tahu diri kamu. Bisa-bisanya kamu santai setelah melakukan perbuatan seperti itu kepada teman-teman kamu!” bentak Khandar dengan sorot mata berapi-api.


Andy perlahan menaikkan pandangannya, menatap wajah Khandar.


“Kenapa Papa tidak menanyakan kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu kepada mereka semua. Kenapa Papa harus menyalahkan—”


“DIAM!” bentak Khandar menghentikan ucapan Andy.


“Baiklah,” gumam Andy, kakinya hendak melangkah. Namun, sekali lagi Khandar menghentikannya, menggenggam pergelangan tangan Andy


“Ada apa lagi, Pa?” tanya Andy masih sopan.


“Kamu…kamu—”


“Kenapa dengan aku? Apa Papa ingin bilang kalau aku adalah anak yang tak tahu diri. Apa Papa juga ingin bilang kalau semua kekacauan itu karena memang aku yang salah. Oooh! Jangan-jangan Papa juga ingin bilang kalau aku memang pantas di hukum,” celetuk Andy seolah mengeluarkan isi hati Khandar.


“Kenapa kamu tidak bisa berubah Andy?!”


“Kenapa? Kenapa Papa bertanya seperti itu. Seharusnya Papa bercermin pada diri Papa sendiri, baru mengomentari hidupku. Dan, satu lagi. Sesekali tanyakan kepadaku kenapa aku bisa menjadi manusia tidak tahu diri seperti ini,” ungkap Andy sambil melepaskan genggaman tangan Khandar, kemudian melangkah pergi menuju kamarnya di lantai 2.


Khandar tidak bisa menjawab apa pun. Ia hanya bisa mendengus dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


10 menit setelah perdebatan terjadi. Suara bel pintu rumah Khandar berbunyi sebanyak 3 kali. Khandar melangkah mendekati pintu, melihat siapa tamu mereka.


“Loh, bu Karina,” ucap Khandar setelah ia membuka pintu, melihat Karina telah berdiri dengan memakai celana jeans dan baju kemeja sopan.


“Sore, Pak. Apakah Andy ada di rumah?” tanya Karina sopan.


“Oh, baru saja pulang,” sahut Khandar, tangannya mengarah ke ruang tamu. “Mari masuk, biar di panggilkan Andy,” lanjut Khandar menyuruh Karina masuk dengan sopan.


Setelah mengucapkan "Assalamualaikum", Karina masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Khandar sendiri pergi ke atas untuk memanggil Andy.


.


.


Di depan pintu kamar Andy.


Tok tok tok!


“Andy, ada bu Karina di bawah,” panggil Khandar sekaligus memberitahu.

__ADS_1


Tak sampai 5 menit pintu kamar Andy terbuka. Terlihat Andy berdiri tanpa memakai baju dan hanya memakai celana seragam sekolah.


“Papa pasti bercanda,” ucap Andy seolah tak percaya.


“Papa ini sudah tua, buat apa berbohong. Cepat kau mandi, dan jumpai bu Karina di ruang tamu,” sahut Khandar memberi perintah.


“Nanti ajalah, lama kalau mandi,” tolak Andy hendak melangkah. Namun, Khandar menggenggam pergelangan tangan Andy.


“Jangan buat malu. Cepat mandi sana, lalu jumpai dengan pakaian sopan!”


“Hem!” dengus Andy, ia pun masuk ke dalam kamarnya, dan mandi dengan secepat kilat agar tidak membuat Karina menunggu lama.


Selagi Andy mandi, Khandar menyuruh bibi membuatkan teh dan cemilan untuk Karina, selanjutnya ia pergi menemani Karina di ruang tamu sampai Andy selesai mandi.


“Andy baru pulang dari rumah Andreas. Jadi, dia baru saja mandi,” cetus Khandar memberitahu tanpa di tanya.


“Tidak masalah Pak,” sahut Karina sopan.


“Maafkan sikap Andy tadi, ya, bu!” maaf Khandar sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Tentang tadi, sebenarnya semuanya bukan salah Andy dan Andreas. Melainkan sekumpulan teman-teman sekelasnya yang menghina orang tua Andy dan Andreas terlebih dahulu,” sahut Karina menjelaskan.


Sejenak Khandar terdiam mendengar penjelasan Karina.


“Bu,” panggil Andy telah berdiri di hadapan Karina.


Khandar hanya melirik wajah ceria tak pernah ia lihat selama membesarkan Andy. Tidak ingin duduk terlalu lama bersama dengan Andy, Khandar memutuskan untuk beranjak dari duduknya.


“Permisi ke dalam dulu,” pamit Khandar dengan wajah datarnya.


Setelah Khandar pergi, Andy duduk di sofa tepat di hadapan Karina.


“Ibu darimana?” tanya Andy berbasa-basi.


“Dari rumah saya ingin pergi ke rumah kamu,” sahut Karina membuat Andy bingung.


“Maksudnya, bu?” tanya Andy bingung.


“Bukannya saya harus menepati janji kepada kamu. Kalau bisa saya membayarnya mulai dari sore hari, kenapa kamu harus menunggunya sampai malam,” jelas Karina.


“Jadi, ibu datang ke sini hanya untuk menepati janji?” tanya Andy terkejut.


“Iya,” angguk Karina.


“Sayangnya aku tidak tertarik untuk keluar di sore hari,” gumam Andy.


“Karena saya sudah di sini, gimana kalau saya membantu kamu untuk mengerjakan tugas sekolah,” usul Karina.


“Benarkah?” tanya Andy semangat.


“Tentu saja,” sahut Karina mengangguk.


“Kalau gitu ikut ke kamarku, bu!” ajak Andy semangat. Tidak dengan Karina, wajah Karina terlihat berubah bingung.

__ADS_1


“Kenapa harus belajar di kamar?” tanya Karina penasaran.


“Karena aku tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan sekolah di luar kamar,” sahut Andy jujur.


“Baiklah, kalau gitu kita akan ke kamar kamu,” ucap Karina tanpa penolakan.


Andy membawakan nampan berisi minuman dan makanan untuk Karina telah dibawakan oleh bibi. Lalu, Andy dan Karina berjalan dengan santai menuju kamarnya berada di lantai dua.


.


.


Sementara itu di dapur.


Kedua bibi di rumah tersebut berdiri saling berhadapan, membicarakan Andy.


“Kamu lihat wajah tuan muda kita tidak?” tanya bibi dengan serbet di bahu kanannya.


“Lihat dong. Selama 16 tahun bekerja di sini, baru kali ini saya melihat senyum ceria terukir di wajah tampan tuan muda,” sahut bibi memakai baju daster.


“Siapa wanita itu, ya? Mudah-mudahan wanita itu adalah jodoh tuan muda,” doa bibi memakai serbet di bahu, lalu diaminkan bibi memakai baju daster.


.


.


Di dalam kamar Andy.


Andy dan Karina telah duduk di atas ambal bulu, di tengah-tengah mereka terdapat meja bundar dan tumpukan buku tugas sekolah Andy.


“Mana tugas kamu?” tanya Karina mengulurkan tangannya.


Andy memberikan buku tugas matematika.


“Ini, bu!” sahut Andy.


Karina membuka buku tugas sekolah Andy, lalu membaca sejenak untuk memahami langkah-langkahnya. 5 menit melihat, Karina meletakkan buku tugas Andy di meja dan membaca isi soal latihan tersebut.


“Misal kita mempunyai 10 kartu yang bernomor 1 sampai 10. Jika 1 kartu diambil secara acak, maka peluang terambil adalah kartu bernomor bilangan prima adalah…” ucap Karina membacakan soal matematika tersebut.


“½!” sahut Andy mengejutkan Karina.


“Loh, kamu bisanya.”


Tidak menjawab, Andy hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya tak gatal.


“Ya, sudah. Sebaiknya kamu tulis dulu semua jawabannya memakai pensil, setelah kamu selesai, maka berikan kepada ibu agar ibu periksa,” sahut Karina.


“Kalau semua jawaban aku benar. Apakah ibu akan memberikan ciuman bibir kepadaku?”


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2