
1 Minggu, 1 bulan, 6 bulan, bahkan 2 tahun telah berlalu dari kepergian Karina melanjutkan studi S2 beasiswa di Luar Negeri. Selama 2 tahun juga Andy dan Karina tidak melakukan komunikasi via telepon. Terakhir kali mereka berkomunikasi saat ponsel milik Karina rusak dan sedang masa perbaikan.
Tahun ini, umur Andy sudah memasuki 19 tahun. Tepat 2 tahun berlalu Andy sukses memegang dan menghandle bisnis miliknya sendiri. Bahkan jenis makanan cepat saji di produksi dari Perusahaan Andy telah meluas, memasuki outlet mini market dan warung makan tertentu.
Tidak hanya itu. Sesuai dengan syarat diberikan oleh Khandar kepada Andy. Jika selama 2 tahun Andy mencapai target 10 miliar, maka Andy berhak mengembalikan uang Khandar atas pembelian mobil mewah untuknya.
Selesai sudah masalah Andy dengan Khandar.
Mendapat panggilan rapat di luar kota membuat Andy harus bergegas ke Bandara menuju lokasi rapat sudah ditentukan oleh klien penting.
Tak tak tak!
Suara tapak sepatu pansus milik Andy bersaut dengan suara langkah tapak sepatu wanita datang dari sisi kirinya. Kedua telinga Andy mendengar suara tawa wanita begitu familiar di kedua telinganya dari sisi kiri. Kepalanya menoleh perlahan, melihat apakah benar suara tersebut adalah suara seorang wanita begitu ia sukai, dan ia rindukan.
Benar saja, wanita itu ternyata adalah Karina. Karina telah pulang dari studi S2 nya di Luar Negeri. Namun, siapa pria di samping Karina. Pria berwajah putih pucat bak orang korea dengan kamera menggantung di dadanya.
“Karina!” gumam Andy, seolah tak percaya melihat wanita dengan gaya anggun dan sedikit modis itu adalah Karina.
Andy mengucek kelopak matanya, memperjelas penglihatannya. Tetap saja, beribu kali Andy melakukan hal sama wajah wanita, suara bahkan tawanya tetap sama. Wanita itu benar-benar Karina.
Tidak ingin membuat Karina melihatnya, Andy segera berlari mendekati tiang, dan bersembunyi di balik tiang beton tersebut sambil mengamati kedatangan Karina dan pria di sampingnya.
Karina dan pria tersebut melintas di depan tiang beton tempat Andy bersembunyi. Sayup-sayup kedua telinga Andy mendengar sekilas cerita tak jelas keluar dari bibir Karina.
10 meter Karina berjalan, Andy segera keluar dari tempat persembunyiannya. Tangannya mengambil ponsel dari dalam saku kemeja miliknya, menelepon seseorang dan membatalkan jadwal rapat mereka.
Meski harus menderita kerugian besar atas pembatalan rapat. Andy tidak peduli. Baginya saat ini adalah memastikan apakah itu Karina, dan siapa lelaki itu.
Andy memutuskan untuk menelepon supir pribadinya, menyuruh menjemputnya di bandara karena ia ingin mengikuti Karina sampai ke rumah.
10 menit kepergian Karina bersama pria itu naik taksi online, dan 20 menit menunggu jemputan, akhirnya mobil datang juga.
Supir pribadi, sebut saja Venda membuka pintu mobil penumpang bagian belakang. Namun, Andy memilih untuk tidak masuk ke dalam. Ia malah mengeluarkan uang 200 ribu untuk ongkos taksi online Venda kembali ke rumahnya.
Sudah terbiasa dengan sikap dan kelakuan random Andy. Venda hanya bisa menerima dan memesan taksi online untuknya kembali pulang ke rumah Andy.
Andy kini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Karina. Syukurnya jarak dari Bandara dan rumah Karina jika jalan lewat dari belakang tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu 30 menit, mobil milik Andy telah terparkir dari sebrang jalan rumah Karina.
__ADS_1
Dari balik kaca jendela serba hitam, Andy melihat Karina dan pria berwajah asing itu di sambut hangat oleh Tina dan Junaidi. Hal itu membuat Andy geram dan emosi.
“Siapa lelaki itu?” gumam Andy menahan amarahnya.
Tidak ingin terpancing emosi, Andy memilih untuk pergi meninggalkan lingkungan rumah Karina.
Seperti ada kontak batin, setelah kepergian Andy, Karina menoleh kebelakang. Melihat tidak ada orang dan kendaraannya di dekat lingkungan rumahnya, Karina memilih masuk ke dalam rumah.
Kesal karena sikap Karina seperti mengingkari janji dan hilang begitu saja di saat Andy telah setia dan susah payah menjadi anak baik. Andy melampiaskannya dengan meminum-minuman beralkohol bersama dengan Andreas di apartemen miliknya.
.
.
Di ruang apartemen dengan minim pencahayaan.
Andy duduk dengan kancing baju 2 bagian atas dan 3 bagian bawah telah terbuka. Di tangannya terdapat 1 botol minuman beralkohol dengan kadar tinggi.
Di sofa single, Andreas duduk dengan santai sambil memasukkan satu persatu kacang kedelai ke dalam mulutnya.
“Kenapa kau anak kima*k?” tanya Andreas masih dengan bahasa keseharian mereka.
“Kenapa dengan mantan bu guru Bk itu?” tanya Andreas dengan mulut penuh dengan kacang kedelai.
“Aku tadi melihatnya di bandara pulang bersama dengan seorang pria,” sahut Andy mabuk berat.
Andreas terkejut, sampai-sampai mulut penuh berisi kacang kedelai menyembur ke wajah Andy.
“Anak anjin*g. KAU PIKIR WAJAHKU TONG SAMPAH!”
“Maaf, mulutku reflex!” Andreas langsung mengambil tisu basah, membersihkan kacang kedelai dari wajah Andy.
“Sakit hatiku, loh!” tambah Andy masih dalam keadaan mabuk berat.
Andreas membuang bekas tisu kotor ke lantai, menenggak minuman beralkohol di gelas mini, lalu menatap serius wajah mabuk Andy.
“Jangan-jangan waktu bu Karina bilang jika ponsel miliknya rusak, sebenarnya dia akan menikah dengan pria itu,” ucap Andreas semakin memburukkan suasana.
__ADS_1
Tak terima mendengar ucapan Andreas, Andy membuang botol berisi minuman beralkohol tinggal setengah ke lantai. Membuat pecahan dan minuman tersebut berserakan di lantai.
“Tidak! Itu tidak mungkin!” tepis Andy.
“Buktinya, kenapa sampai sekarang dia belum menghubungi kau. 2 tahun loh! 2 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk setia, menunggu kepastian dari sebuah jawaban, dan menuggu kabar dari seseorang,” ucap Andreas semakin membuat Andy panas.
“Jika memang benar, maka aku akan membunuh lelaki itu!” gumam Andy penuh kebencian.
“Pastikan dulu sebelum membunuh orang,” ucap Andreas memberi saran.
“Jangan main-main denganku!”
“Lagian, aku heran kali samamu. Cak lah, sudahnya tadi kau lihat itu bu Karina jalan bersama dengan pria lain di bandara. Kenapa pula tak kau panggil. Sudah seperti ini, galau tingkat ke Neraka kau jadinya!” cetus Andreas tiba-tiba geram.
“Aku penasaran, bodoh!”
“Itulah, gitu memang. Kalau orang penasaran itu kenapa harus mendadak menjadi orang bodoh akan bertindak. Bukannya menghampiri, tapi malah mengikuti dan mencaritahu sendiri. Tersesat sendiri di sini, kau!” celetuk Andreas mengomel sambil merebahkan tubuh jangkungnya di sofa single. Membuat tubuhnya melengkuk, dan kedua kakinya menapak ke lantai.
“Bacot!”
Andy lelah dan efek mabuk berat akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas lantai.
“Punya kasur empuk dan mahal, malah tidur di sini kau!” Andreas beranjak malas dari sofa, mendekati Andy, menarik kedua tangan Andy sampai berdiri.
“Kau mau ngapain?” tanya Andy hendak melepaskan genggaman tangan Andreas. Namun, Andreas lebih dulu melepaskannya sehingga Andy terjatuh dengan dahi menyentuh lantai.
“Hahaha!”
Bukannya kasihan, Andreas malah tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan Andy saat mabuk.
Dengan sisa tenaga dan sisa kewarasannya, Andy perlahan duduk, tangannya menyeka darah dan menjilatnya.
“Ternyata seperti ini rasanya,” gumam Andy mengilap kan darah tersebut ke celana Andreas.
Seperti biasa, perdebatan kecil pun terjadi di antara mereka berdua.
.
__ADS_1
.
bersambung